WARNING: R-18, NOT YAOI/BL!!!
Just want to Share my Fanfiction ( O v O )
tapi...sejujurnya ini serita jadul dengan gmbar jadul.
disini....kalau ga suka OC, ga usah baca. Full Content R-18, You`ve been Warned, okay? I dont let 'Bocah ABG labil' read it (just joke). please dont do this in reality. ( O v O )v
Release: Sunday, October 17, 2010
If you were drowning, I will give a Breath
Cuaca terik dimusim panas membuat pemuda dengan slogan “Gekidasa Daze” tersebut mengibar-kibarkan tangannya mendekati tengkuknya yang sudah mengeluarkan peluh yang tak hentinya. Sialnya, klub tennisnya mengadakan sebuah program latihan intensif atas usul Atobe, sang Buchou tersebut agar mereka bisa menuju menjadi tingkat juara nasional dan itu akan dilakukan setiap hari sepulang sekolah. Program ini sudah dimulai dari seminggu yang lalu. Dan tumben-tumbennya Shishido merasa jenuh untuk berlatih entah karena dia terkena penyakit musim panas atau bagaimana. Tapi ada sesuatu yang mengganjalnya.
Shishido melangkah menelusuri jalan menuju lapangan tennis. Rute jalan yang ditempuhnya selalu melewati sebuah kolam renang luas yang biasa digunakan oleh klub renang atau saat ada pelajaran olahraga. Dia melirik ketempat tersebut. Terlihat seorang gadis dengan rambut coklat muda bergelombang terurai panjang, mata bagaikan biru safir, kulit putih yang membungkus dagingnya dengan sangat mulus.
Gadis itu…. akhir-akhir ini dia selalu terlihat dikolam renang saat pulang sekolah… Apa dia anggota klub renang?
Shishido menyuarakan pertanyaan itu dipikirannya. Ia tidak begitu mengenal sosok gadis tersebut tapi ia merasa seperti sesuatu medan listrik yang membuat ia tertarik dengan gadis tersebut.
Sosoknya seperti peri air. Atau putri duyung? Aku tidak menyangka ada gadis secantik itu… Ah sudahlah kenapa aku berpikir seperti ini! Lebih baik aku bergegas menuju lapangan. Aku tidak mau mendengar ceramah panjang Atobe.
Shishido pun segera memfokuskan pikirannya: Latihan. Namun sepertinya ada hal yang membuatnya tidak dapat berfokus pada satu kalimat tersebut dan menghentikan langkahnya kembali―menoleh kesosok gadis tersebut yang sedang menenggalamkan dirinya dikolam lama sekali.
…..
………
………..
!!!!!
Shishido sadar bahwa cukup lama gadis itu menenggelamkan dirinya terlalu lama di air kolam. Awalnya kolam tersebut mengalir tenang kini terlihat beriak. Shishido merasa ini sebuah pertanda darurat dan ia segera melesat menuju kolam renang tersebut.
Dia melihat gadis itu benar-benar tenggelam dan tak berdaya untuk mencapai permukaan air. Kolam didaerah situ memang cukup dalam. Shishido pun tanpa ragu-ragu segera melempar tas-tasnya dan langsung menyelam demi menyelamatkan gadis tersebut.
Dengan kecepatan kilat, Shishido segera berenang menghampiri gadis itu dan memapahnya menuju permukaan.
“Hahh.. hahhh…..” Shishido mencoba mengambil udara setelah menyelam di air berbau kaporit tersebut. Ia mencoba melihat wajah gadis itu dari dekat.
Dia pingsan… Sepertinya dia harus diberi pernapasan….
Shishido berenang sambil memapah gadis itu menuju ke tepi kolam renang dan mengangkat tubuh yang cukup mungil baginya. Tanpa basa-basi lagi, Shishido segera menengadahkan wajah gadis itu dan memberikan nafas buatan. Shishido melihat kearah dada gadis tersebut. Dadanya belum naik pertanda Shishido harus memberikan nafas buatan kembali. Setelah cukup ia mencoba menekan dada gadis itu agar tersadar.
“Uhuk!!” Gadis itu sedikit tersadar. Matanya belum berfungsi dengan baik hingga dia hanya bisa melihat sosok Shishido yang buram dan tidak fokus.
“Ka..kau siapa?” Gadis itu mencoba untuk mengetahui siapa gerangan sang penolonganya tersebut.
“Jangan banyak bicara!” Shishido dengan segera mengambil jaket Hyouteinya—untuk menutup tuh gadis itu―dan segera menggendongnya ala tuan putri menuju UKS. Karena gadis itu tidak kuat untuk sadar lebih lanjut lagi, ia pun hanya memejamkan matanya dan tertidur tenang didekapan Shishido.
------
“Nggghhh…..” Gadis itu mencoba membuka matanya perlahan. Ia melihat atap bukan langit seperti kesadaran pertamanya tadi. Ia mencoba membiasakan matanya terlebih dahulu hingga ia merasa matanya sudah dapat fokus dengan baik, ia mencoba melihat ruangan sekelilingnya.
“Ini di…mana…??”
“Ini di UKS. Kau sudah aman sekarang.” Gadis itu mendengar suara pemuda asing yang berdiri dekat pintu sambil bersandar didinding—memangku kedua tangannya.
“Ah… begitu yah…” Gadis itu bangun perlahan dari posisi berbaringnya. Shishido pun mendekati tempat gadis itu dan menahan gadis itu.
“Jangan banyak bergerak dan beristirahatlah!”
“A.. Aku sudah tidak apa-apa!” Gadis itu mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tiba-tiba dia terhenti dan berwajah seperti menahan rasa sakit.
“Kenapa?” Shishido tahu bahwa ada yang aneh pada gadis itu. Ia melihat kearah kaki gadis tersebut yang dibalut perban dan sedikit membengkak.
“Ti.. tidak ada apa-apa.. Aku harus kembali latihan. Terima kasih sudah—“
“Bodoh!! dengan cedera seperti itu kau memaksakan diri untuk berenang!? Pantas saja kau tenggelam seperti orang tolol tadi!”
“A..Apa yang kau katakan!? Kau tidak tahu perasaanku!! Aku harus berlatih agar menang perlombaan yang waktunya sudah dekat… ughh…” Gadis itu kembali meringis menahan sakit. Sadar ia sudah membentak orang seenaknya, Shishido menundukkan kepalanya.
“Maaf aku kasar. Hanya saja kau harus perhatikan dirimu sendiri.”
Gadis itu hanya terdiam membisu sambil menatap kakinya. Shishido menatap lekat wajah gadis yang seperti menahan airmatanya agar tidak tumpah. Ya, gadis itu sepertinya sangat sedih.
“Namaku… Kisaragi Rui. Kamu?” Gadis yang bernamakan ‘Rui’ tersebut mengulurkan tangannya―seperti akan berjabat tangan. Shishido awalnya terdiam. Namun karena tidak sopan jika tidak menjawab pertanyaan orang lain apalagi hanya untuk menyebutkan namanya, Ia pun membalas uluran tangan Rui dan menjabat tangannya.
“Shishido. Shishido Ryou.”
Itulah awal perjumpaan antara aku dan peri air tersebut
------
“Shishido, kenapa kau akhir-akhir ini telat setiap ada latihan?” Atobe menghampiri Shishido yang sudah selesai berlatih tanding double bersama Ootori Choutarou melawan Oshitari-Mukahi. Shishido hanya berjalan mengambil minum dan duduk dibangku. Atobe pun mengikutinya dari belakang dan berdiri dihadapan sang lelaki bertopi biru tersebut.
“Jawab pertanyaanku, Shishido Ryou!?”
“Maaf Atobe, aku harus bergegas.” Shishido meletakkan minuman dan segera berjalan menuju ruang klub. Atobe hanya memandang kepergian Shishido dan menghela nafas panjang. Ia menyadari ada sesuatu hal yang menganggu pikiran Shishido.
-----
Selesai berganti baju, ia melewati kolam renang dan melihat klub renang siswi tengah berlatih bersama pelatihnya. Mata Shishido tidak berbasa-basi segera menuju kearah gadis yang tengah berenang.
“Kisaragi, dengan kondisi ini tidak memungkinkan. Kau terpaksa harus mundur dan tugasmu harus diberikan kepada yang lainnya.” Pelatih tersebut hanya menggeleng-geleng melihat stop watch yang tergantung dilehernya. Shishido mengambil kesimpulan bahwa cedera gadis itu tidak main-main sakitnya hingga menyebabkan kecepatan waktunya menurun.
“Ta.. tapi pelatih… ini kesempatanku….”
“Ini demi masa depanmu! Sembuhkan dulu cedera kakimu! Kau ini atlet renang yang berbakat! Jangan menyia-nyiakannya! Lagipula pertandingan berkala nasional bisa kau alami nanti saat kau masuk SMA!” Pelatih tersebut menepuk pundak Rui. Sekilas terlihat air muka Rui yang penuh dengan penyesalan. Ia tahu bahwa dengan kondisinya sekarang, ikut pertandingan pun kemenangan tidak dapat ia genggam.
“Baiklah.. Untuk hari ini terima kasih, pelatih….” Rui pun melepaskan topi dan kacamata renangnya. Ia berjalan menuju ruang ganti klub renang dan berpapasan dengan siswi-siswi lain yang memandangnya dengan senyum puas.
“Makanya, anak baru jangan bermimpi bisa mendapatkan medali emas kejuaraan nasional dengan membawa nama perguruan Hyoutei.” Gadis-gadis itu meledeknya dengan penuh bangga. Shishido memicingkan matanya. Ia tidak sengaja menangkap atmosfer yang aneh.
Jangan-jangan……
----
“Hei!” Shishido menyapa Rui yang tengah keluar dari ruang klub dengan pakaian dengan seragam musim panas Hyoutei lengkap.
“Ah.. Shishido-kun…” Rui tersenyum pahit. Shishido semakin mantap dengan spekulasinya tadi dan mencoba menahan Rui didinding luar ruang ganti klub renang.
“Shishido-kun.. lepaskan! sakit!”
“Apa soal cederamu ada hubungannya dengan teman-teman satu klubmu?”
“I…itu….” Rui menunduk dengan raut muka yang ingin menangis. Shishido semakin mendekatkan wajahnya. Terus memaksa agar Rui mau melihat dengan lurus kearah matanya.
“Tatap mataku! Jujur saja….”
“Ba.. baiklah.. aku akan bercerita…. bagaimana kalau di taman luar sekolah?”
“Ide bagus!” Shishido menyetujui usul gadis tersebut.
-----
“Aku ini murid pindahan dan baru bergabung tidak lama dengan klub renang siswi. Pelatih yang melihat bakatku dengan senang hati melatihku hingga aku semakin lama semakin dapat memperpendek waktuku dan aku mendapatkan kepercayaan sebagai calon siswi yang akan mengikuti kejuaraan lomba tingkat nasional yang akan diadakan hari sabtu esok.” Rui duduk dibangku sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Hari sabtu besok!? Itu hanya tinggal lusa`kan!?” Shishido membelalakan matanya, menatap kearah Rui yang hanya mengangguk pelan.
“Aku senang sekali akhirnya bisa menggapai impianku mengikuti lomba berskala nasional itu. Dan berharap bisa mendapatkan medali emas dengan tanganku sendiri. Namun…” Rui semakin larut dalam kesedihannya.
Shishido mengerti perasaan Rui. Sangat mengerti. Sebagai sesame atlet, ia bisa merasakan penderitaan Rui yang tengah cedera saat menunggu pertandingan yang dinantinya—yang merupakan sebuah mimpi besar baginya yang harus kandas tersapu oleh angin dan berubah menjadi debu yang menyatu dengan angin tersebut.
“Banyak yang iri dengan keberhasilanmu dan mereka pun membuat kakimu cedera. Bukan begitu?” Shishido mencoba melanjutkan kalimat yang akan diungkapkan melalui bibir mungil Rui. Ia pun mengangguk pelan.
“Aku tidak punya kekuatan ataupun bukti kuat. Pada intinya, aku tidak dapat mengikuti pertandingan itu. Aku… sedih sekali…” Rui mencoba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak dapat membendung air matanya yang ingin tumpah. Ia pun mulai terisak dan isakannya semakin keras.
Shishido mencoba merangkul. Memberikan kekuatan batin bagi Rui.
“Aku mengerti perasaanmu. Menangislah sepuasmu. Tidak perlu kau menahannya lagi.” Shishido mencoba merangkul pundak Rui semakin erat karena pundak mungil tersebut semakin bergetar keras. Rui pun semakin tidak kuat menahan perasaan sedihnya dan memeluk erat Shishido.
“Shishido-kun!! Nghhh….” Rui membenamkan mukanya didada Shishido. Sang lelaki yang biasanya memakai topi tersebut melepas topinya dan membiarkan rambut cepaknya terlihat jelas dan balas memeluk gadis yang tengah lemah menghadapi kenyataan.
Aku tahu kau bukanlah peri ataupun putri duyung… Kau memang manusia biasa sepertiku….
------
“Sudah tenang?” Shishido menyakinkan gadis yang duduk disebelahnya―tengah menyeka airmatanya dengan punggung tangannya.
“I..iya… Terima kasih….” Rui menatap wajah Shishido dengan senyuman. Walaupun wajah Rui sembab karena terlalu banyak menangis, bagi Shishido itu adalah senyum paling manis yang tersungging diwajah gadis itu.
“Sa.. sama-sama! Aku akan mengantarmu pulang!”
“Tidak usah aku bisa pulang sendiri!” Rui pun dengan cepat beranjak dari bangku taman. Ia pun membalikkan badannya menghadap Shishido. “Shishido-kun. Eeto aku punya permintaan….”
“Apa itu?” Shishido penasaran dengan apa yang akan dimintai tolong oleh Rui. Gadis itu hanya tersenyum lirih.
“Aku ingin kita bertanding! Kutunggu kau Hari Sabtu malamnya jam tujuh di kolam renang sekolah!”
“Kau serius? Bukannya kau sedang cedera? Ditambah lagi apa bisa masuk ke kolam renang sekolah pada jam segitu?”
“Sudahlah!! Ini permintaan egoisku!!”
“Ba.. baiklah…” Shishido pun terpaksa mengiyakan. Rui pun tersenyum penuh kemenangan.
“Aku akan beri rute agar selamat sampai ke kolam renang. Jaa, sampai besok!!” Rui pun melambaikan tangannya sambil berlari meninggalkan Shishido yang sedang duduk terdiam dibangku taman. Shishido hanya menatap sosok gadis tersebut yang tengah berlari sedikit pincang—tanpa menoleh kearah manapun.
Aku sudah tidak dapat menahan diriku. Aku menyadari bahwa Ia menjadi bagian penting dalam hidupku. Mulai saat ini.
------
Malam Sabtu
Sesuai dengan rute yang telah diberikan Rui, Shishido berhasil menyelinap ke lokasi tempat ia dan gadis bermata safir itu berjanji. Ia mencoba melihat sekeliling. Mencoba mencari sosok Rui.
Dimana dia?
Tiba-tiba dari dalam air keluar sesosok gadis yang membuat Shishido terpesona sampai tidak dapat mengerjapkan matanya barang sedikitpun. Sosok gadis didepannya memang Rui namun ia berbeda. Bukan dengan tampilan baju seragam renang, namun gadis itu menggunakan baju renang lain―tidak terlalu mengumbar bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita dengan berlebihan namun membuatnya terlihat manis namun indah dimata.
“Selamat datang, Shishido-kun.” Rui menatap Shishido yang tengah terpesona dengan kecantikannya.
“Ah.. engg.. Ya.. aku datang memenuhi janjiku kepadamu.” Shishido melirik kelantai sambil memegang tengkuknya. Ia tidak bisa menahan semburat merah dipipinya karena melihat gadis didepannya begitu bergairah dengan baju renang manis berwarna merah yang cocok sekali dikenakan oleh Rui.
“Baiklah! Ayo cepat kita bertanding!”
“Oke!” Shishido dengan mantap menjawab tantangan gadis tersebut. Sebelum bertanding ia merenggangkan otot-ototnya. Walaupun tadi ia sudah pemanasan sebelum berada di kolam renang, ia tetap harus merilekskan otot-ototnya agar tidak mengalami cedera parah.
“Peraturannya cukup mudah. Hanya bolak-balik saja berenang dari sini keujung sana lalu kembali lagi kesini. siapa cepat maka dia menang!”
“Dan bagi pemenang, ia bisa meminta apapun kepada yang kalah…” Shishido menambahkan. Rui cukup kaget dengan syarat tersebut namun ia malah merasa tertantang untuk memenangkan bertandingan.
“Aku setuju! Baiklah, kita akan mulai dalam hitungan ketiga!”
“Tidak perlu! Kau berenang duluan saja.” Shishido hanya tersenyum agak merendahkan.
“He.. hei mentang-mentang aku sedang cedera lantas kau memandang rendah aku!” Rui menudingkan jarinya tepat didepan wajah Shishido. Ia memang tidak suka ada orang yang sok mengalah.
“Sudahlah! Cepat masuk!”
“Huh! Baiklah! Kau akan menyesal!” Rui pun segera menyelam kedalam air dan berenang dengan kecepatan tinggi. Shishido hanya tersenyum dan menyiapkan kuda-kuda untuk menyelam.
Dasar Shishido-kun bodoh… dia terlalu menganggap rendah… Akan kubuktikan aku dapat mengalahkannnya!
Rui semakin cepat mengayunkan kakinya dan berenang dengan cepat namun Rui terperanjat karena Shishido sudah hampir berenang menyusulnya.
Ce.. cepat sekali! Tapi aku tidak akan kalah!
Rui semakin terdorong untuk terus mengayunkan kakinya dengan lebih cepat. Rui dan Shishido sama-sama berhasil menjangkau ujung tepi kolam renang. Rui pun dengan segenap kemampuannya berbalik melesat dengan lebih cepat. Namun tiba-tiba Rui merasa kakinya berdenyut dengan kencang hingga membuat kecepatan Rui mengendor. Sedangkan Shishido dengan cepat berenang dan begitu saja hampir sampai diarea tengah kolam renang.
Aku.. tidak akan menyerah!
Rui mencoba berenang sekuat tenaga tapi ia tidak mampu untuk berenang lagi dan kembali tenggelam, seperti saat pertemuan awal dengan Shishido-kun.
Shimatta! Kenapa aku… ah! waktunya tidak tepat!!
Rui mencoba untuk menggapai permukaan tapi kakinya semakin tertahan dan berat untuk digerakkan sesuai pikirannya.
Sadar bahwa Rui sudah berada diluar batas kondisinya, Shishido berhenti berenang dan berbalik kembali menuju tempat Rui untuk menyelamatkannya. Dengan cepat, Shishido menggapai tubuh Rui dan segera membawanya ke pemukaan.
“Hahh.. hahhh…. Uhuk… ” Rui mencoba mengambil nafas setelah berada didalam air. Untung saja Shishido bergerak cepat untuk menolongnya. Rui mencoba menatap wajah Shishido yang tengah menggendongnya di air. Wajah Shishido begitu indah terpantul sinar bulan dan membuat Rui terpukau.
“Shishido-kun… lagi-lagi kau menolong--“
Belum juga kalimat Rui selesai, Shishido segera melumat bibir manis Rui yang tengah lengah.
“Nghhh!!” Rui kaget dan reflek mencoba mendorong Shishido sekuat tenaga. Namun Shishido seperti tidak membiarkan Rui lepas dan terus memeluknya erat. Dilumat habis-habisan bibir Rui dan tidak membiarkan Rui melepaskan ciumannya barang sedikitpun.
“Hahh.. hhhahh…” Akhirnya Shishido melepas ciumannya dan menatap wajah Rui yang tengah memerah dan sedang mengatur nafasnya yang berantakan.
“Shi…shido-kun….” Rui hanya mencoba menghapus ‘bekas’ ciuman Shishido dengan punggung tangannya walau ia tahu itu akan sia-sia saja. Shishido sudah tidak dapat menahan hasratnya lagi. Ia berenang ketepi kolam dan menahan tubuh Rui.
“Shi..shido-kun kumohon.. lepaskan…” Rui mencoba meraih tangga menuju ke daratan namun Shishido dengan sergap menahan kedua lengan Rui dan menahan didinding dalam kolam dan melumatnya bibirnya kembali.
“Nghhh!!” Rui semakin tidak kuasa untuk menghindar dari ‘serangan’ pemuda tersebut. Shishido terus melumat dengan bernafsu dan menahan semakin kuat.
“Aku tidak bisa menahan diri lagi. Sejak awal kau sudah memikatku dan membuat pikiranku tidak menentu karena aku selalu mengejar sosokmu yang begitu indah dan cocok dalam air. Aku mencintaimu, Rui….” Shishido menatap Rui dengan penuh harapan. Rui hanya membelalakan matanya. Tidak percaya apa yang dikatakan Shishido tadi.
“A…aku…. aku juga mencintaimu, Shishido-kun…” Rui menatap lurus Shishido dengan nafasnya yang terengah-engah hingga membuat Rui semakin manis dimata Shishido. Karena ia sudah mendengar pernyataan yang merupakan jawaban dari Rui mengenai perasaannya, Shishido tidak ragu-ragu lagi. Ia menyusupkan tangannya kedalam baju renang bagian atas Rui dan meremas dada Rui dengan penuh gairah.
“Nghhh… Ahnn… Shi..shishido…kun…” Rui hanya bisa mendesah diperlakukan oleh Shishido seperti itu. Diciuminya tengkuk Rui hingga meninggalkan bekas kissmark dikulit putih yang membungkus daging Rui tersebut.
“Rui… kau manis sekali… Dadamu lembut sekali….” Shishido semakin meremas dengan ganas dada Rui hingga membuat Rui semakin mendesah kencang tak kuasa menahan gairah dan sentuhan yang diberikan lewat tangan Shishido yang besar dan hangat.
Tanpa ragu-ragu lagi, dilepasnya Baju renang bagian atas Rui hingga mengekspos dada Rui yang tidak tertutupi oleh sehelai kain sedikit pun, hanya sedikit terhalan oleh rambut Rui yang panjang.
“Ja..jangan dilihat… Aku malu….” Rui menahan rasa malunya hingga wajahnya kian memerah. Shishido hanya tersenyum dan mencium dada Rui lembut.
“Detak jantungmu tidak beraturan, Rui… Kau memang bukanlah peri ataupun putri duyung dalam dongeng… melainkan gadis yang kucintai….” Shishido terus bernafsu mencium sambil meremas-remas dada gadis tersebut.
“Ahhnggg… nghhh Shishido…kun… jangan… Ahhhh….” Rui tidak dapat menahan lagi. Shishido berhasil membangkitkan nafsu berahi Rui. Memang itu tujuan Shishido. Ia ingin menikmati momen ini bersama Rui tanpa harus malu-malu.
“Ini belum seberapa….” Dimainkannya dada Rui yang ranum hingga menegang. Rui hanya pasrah. Ia memejamkan matanya. Membiarkan Shishido memainkan seluruh tubuhnya walau ia sungguh malu melakukan hal seperti ini. Dilihatnya tonjolan didada Rui yang mengeras dan dikulumlah dada Rui hingga gadis itu mengerang.
“Kyaaahhhnggg… Shi..shido..kun… cukup… hentikan….” Rui semakin tidak kuat. Ia merasa peluhnya semakin mengalir banyak, begitu pula dengan Shishido.
“Terus mendesah dan mengerang hanya untukku, Rui… Kau manis sekali…” Sekarang Shishido mengalihkan pandangannya, melihat Rui yang sudah tak beraturan nafasnya hingga sekeliling mereka penuh dengan aura yang memanas.
“Shi..shido-kun…. Aku… Ngghhh…” Rui tidak berani menatap Shishido, ia hanya memalingkan muka dan memejamkan matanya. Shishido segera mengambil langkah lebih jauh. Ia meraba daerah sensitive yang berada dibawah Rui dan sontak membuat Rui kaget dan berteriak kecil.
“Kyahh!! Shi.. shishido-kun!?” Rui menatap Shishido yang tengah tersenyum penuh kemenangan. Disusupkan tangannya dan mencoba memasukkan jarinya kedalam liang keperawanan Rui. Ini adalah hal pertama bagi Rui. Baru kali ini ia merasakan sebuah sensasi yang begitu berbeda ketika seorang lelaki memainkan daerah vital miliknya.
“Kau hangat didalam sini. Walau air penuh bau kaporit ini dingin, disini begitu hangat dan lembut…” Shishido terus memasukkan jarinya sambil menjilati tonjolan didada Rui yang semakin menegang dan mengeras.
“Ahngg… Shi..shido-kun…. Kyaahhnn...”
Suara desahan Rui semakin membangkitkan libido Shishido hingga ia terus memainkan jarinya ganas didalam Rui. Ia mencoba menjelajahi ‘dalam’ Rui tanpa lengah sedikit pun. Tidak cukup puas hanya memasukkan satu jarinya, Shishido menambahkan satu jarinya masuk menuju ‘dalam’ Rui dan membuat gadis itu bergelinjang hebat.
“Ahh!! Nghhh!!! Hahhnn…” Rui semakin erat melingkarkan lengannya dileher Shishido dan mencoba menahan diri. Namun Shishido ingin Rui tidak menahan apapun saat dicumbui olehnya seperti ini dan dengan ganas ia semakin memasukkan jarinya.
“Nyaahhnngg… nghhhh… Shi.. Shido-kun… hentikan….” Rui mendesah semakin kencang dan cepat. Ia sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Hanya satu yang bisa ia rasakan. Kenikmatan bersama orang yang ia cintai.
Merasa Rui sudah cukup basah, Shishido mengeluarkan jarinya dari ‘dalam’ Rui. Namun kini ia mengeluarkan ‘batang’ miliknya.
“Ahhhnggg.. Shishido-kun… apa kau akan….”
“Ya, aku akan ‘masuk’ kedalammu, Rui. Kita akan menjadi satu.” Shishido menjilati bagian dada Rui dan membuat gadis itu semakin menegang. Merasa foreplay yang ia lakukan sudah cukup bagi Rui, perlahan namun pasti ia memasukkan ‘batang’nya ke’dalam’ Rui.
“KYAHHH!!! AHHH!!! Shi..shido..kun!! Sa..sakit….” Rui tidak dapat membendung rasa sakitnya hingga ia mengeluarkan airmatanya. Ini pertama kalinya bagi Rui sehingga ia merasa liang keperawanannya terobek-robek karena Shishido terus menggali ‘dalam’ Rui dengan ganas.
“Rui… panggil aku ‘Ryou’….” Shishido mencium leher Rui yang sudah penuh peluh itu.
“R…Ryou…kun…” Dengan lirih Rui mencoba mengucapkan nama kecil Shishido yang membuat pemuda itu menyunggingkan senyuman penuh rasa puas.
Shishido memaju-mundurkan ‘batang’ miliknya dan terus berusaha agar ia dapat masuk ‘sepenuhnya’ kedalam Rui. Agar lebih memudahkannya masuk, ia terus merangsang Rui dengan mengulum dadanya ataupun menyentuh bagian paha dan membuka lebar kaki Rui.
“Ahhh…. Ryou…kun… sakit…..” Rui meringis menahan rasa sakit luar biasa.
“Lumat bibirku, Rui. Maka kau tidak akan merasa kesakitan…” Shishido berbisik ditelinga Rui dengan lembut. Rui mencoba membuka matanya dan menatap Shishido yang tengah menunggu bibirnya dilumat oleh Rui. Karena ia merasa sakit yang dialami semakin terasa, ia langsung melumat bibir Shishido dengan penuh gairah. Shishido pun menerima Rui dengan sepenuh hati dan membalasnya dengan lebih ganas lagi. Tak hanya melumat, bahkan Shishido mengadukan lidahnya sehingga mereka saling bertukar saliva masing-masing. Rui pun ikut bermain membalas lidah Shishido dan terus melakukan ‘ciuman basah’ sambil bersenggama.
“Ahhh… Ryou-kun… aku… aku..” Rui semakin bergelinjang hebat, beda dari biasanya.
“Apa kau sudah ingin ‘keluar’?” Shishido terus memainkan ‘batang’nya didalam Rui sambil terus melumat bibirnya. Rui hanya memejamkan matanya sambil mendesah penuh kenikmatan.
“Nghhhh!! Ryou… kun!!! Nggghhh…”
“Suara desahanmu membuat aku terangsang untuk keluar di’dalam’mu Rui.. Aku mencintaimu, Rui…” Shishido melumat bibir Rui dan menggigitnya dengan penuh sensasi.
“Ahh.. Ryou..kun Aku…” Rui mencoba menatap wajah Shishido, begitupula dengan Shishido sendiri.
“Ya? Apa… yang ingin… kau katakan?”
“Aku… Mencintaimu, Ryou-kun!! AHHHNN!!!” Rui sudah tidak kuat untuk tidak menahan diri. Ia pun berorgasme lebih dahulu. Namun bagi Shishido, ia sangat puas dan terus memainkan ‘batang’nya dan mencoba mengeluarkan cairan spermanya didalam Rui.
“Rui kau mendahuluiku… curang… Sekarang biarkan aku keluar dalam dirimu….” Shishido melumat bibir Rui kembali dan memainkan lidah hingga sudah tidak jelas saliva yang tercampur tersebut. Rui merasa bahwa ‘batang’ milik Shishido semakin mengeras didalamnya dan ia pun tidak kuat untuk mendesah lepas.
“Rui, sekarang… giliranku untuk keluar didalammu….” Shishido berbisik lalu mengulum dada Rui. Dan akhirnya Shishido berhasil mengeluarkan ‘cairan’ sperma yang hangat di’dalam’ dan Rui pun mendesah kencang dan merasakan suatu hal yang aneh didalam tubuhnya. Karena baru pertama kali ini ia merasakan ‘cairan’ seorang lelaki.
“Ryou-kun… aku sungguh… mencintaimu….”
“Rui…. aku juga….”
Mereka pun berciuman diatas permukaan air kolam dan disaksikan oleh bulan yang terang menyinari wajah mereka dengan lembut.
-------
“Ryou-kun… Nghhh lihat itu!” Rui mencoba menunjuk kearah langit malam penuh berbintang tersebut. Shishido menengadahkan kepalanya dan melihat keindahan langit malam. Bersama dengan gadis yang ia cintai.
“Iya.. cantik sekali. Tapi aku lebih suka memandang wajahmu, wahai peri air. Ah bukan, Kisaragi Rui.” Shishido mencium pipi Rui dengan lembut. Rui hanya bisa memerah mendengar sanjungan Shishido yang sebenarnya terlalu berlebihan.
Ya, kamu memang bukan peri air ataupun Putri duyung tapi aku tidak pernah mempedulikan dongeng yang jelas-jelas hanya keindahan fantasi. Sedangkan gadis yang dihadapanku sekarang ini bukanlah keindahan yang imajinasi. Kamu nyata dan aku dapat merengkuh tubuh mungilmu dengan tanganku. Aku akan menjagamu. Ketika kamu tenggelam, maka izinkan aku memberimu nafas kehidupan dan menjadikan ini sebuah kenyataan indah didalam air.
FIN


Tidak ada komentar:
Posting Komentar