Rabu, 12 September 2012

Untitled on my memories (part 1)


          *ehem ehem* kali ini saya mau memposting cerita yang cuman random, hanya untuk berlatih menulis dengan gaya yang lebih kaku. Jika ada yang merasa cerita ini mirip, tolong jangan tersinggung ya :P Ini murni cuman ingin menulis (yah walau sedikit dimasukkan sedikit emosi, tapi itu hanya berlaku di cerita loh ya, ini cerita mungkin tidak sesuai dan dilebih-lebihkan jika merasa mirip, okay?). Enjoy it.




  Kisah ini bermula pada saat aku masih kecil. Aku memiliki teman sejak kecil. Orangtua kami bersahabat sehingga seakan ikatan tanpa persetujuan kedua belah pihak yang bersangkutan memaksa kami untuk berteman. Kami sering bermain bersama tiada terpisahkan, tetapi itu hanya sebuah aturan tidak tertulis di sekitar rumah kami.
            Pada kenyataannya, sewaktu aku menjalani masa sekolah kanak-kanak yang tak begitu jauh dari rumahku, kulihat dalam ingatanku, dia bersama dua anak gadis lain menertawai serta menyudutkanku di bangku belakang sendirian. Aku terkadang menangis tidak tahan menerima bahwa dia, teman sejak kecilku adalah gadis yang sering bermain denganku. Aku ingat bahwa aku sering merengek tidak ingin masuk ke sekolah karena merasa terasingkan.
            Guru-guruku sering memberikan tanda bulan yang berarti nilaiku jelek. Kerap kali aku dianggap bodoh, tapi aku tidak menyadarinya. Yang kutahu hanyalah bermain tanpa tahu apa itu sekolah.
            Saat masuk ke sekolah dasar pun, salah satu anak gadis yang selalu menyudutkanku masuk ke sekolah juga angkutan antar-jemput yang sama denganku. Namanya Nesha. Sedangkan teman sejak kecilku, Shani, juga masuk namun dia berbeda angkutan denganku. Nesha sering membanggakan dirinya memiliki kolam berbentuk biola, berkeliling ke eropa, dan segala macam cerita-cerita yang tampak megah di mata anak-anak. Namun, Nesha masih sering menyudutkanku, bahkan salah satu anak teman sekantor ibuku dan anak satu kompleks perumahanku pun ikut di belakang sosok Nesha yang menyebalkan. Sering kulaporkan pada ibu dan ayah bahwa aku selalu dibiarkan sendirian di angkutan, tidak ada yang pernah mengajakku berbicara. Kegembiraan yang kuingat hanya saat aku bersama kakak laki-lakiku dan teman-temannya yang sering berbaik hati mengajakku berbicara. Disitulah aku merasa nyaman walaupun aku tahu bahwa tidak bisa merasakannya sesering seperti aku bertemu Nesha. Parahnya lagi, angkutanku tidak bisa mengantar pulang sehingga kami terpaksa menumpang di angkutan lain. Penyiksaan secara mental Nesha masih berlanjut, dia menyuruh semua penghuni angkutan untuk tidak mendekatiku. Lagi-lagi, aku sendirian bahkan di tempat yang asing dan baru.
            Oh, ya. Saat kelas satu SD, aku ini bodoh, selalu mendapat nilai E. Wali kelasku sering memanggil orangtuaku untuk memberitahu bagaimana aku di sekolah. Waktu itu aku memang masih tidak mengerti apa fungsi sekolah. Yang kutahu hanya bermain dan berteman. Apakah itu belajar? Aku tidak paham. Sungguh.
            Akhirnya wali kelasku, Bu Eti bersedia membantu perbaikan nilaiku dengan memberikan jam tambahan. Bu Eti sungguh sabar mengajariku, dengan penuh kasih sayang dan sabar. Dia tidak pernah memarahiku. Dari yang awalnya aku tidak mengerti, jadi mengerti sedikit demi sedikit. Perjuangan ibu guruku tidak sia-sia. Aku bisa memperbaiki nilaiku dan naik kelas. Kata ibuku, dulu aku sangat memuji suara Bu Eti yang sungguh merdu di telinga.
            Kelas dua. Seingatku Nesha semakin berkurang menyudutkanku, Tetapi bukan berarti tidak ada anak yang sangat menyebalkan. Aku ingat sekali pernah duduk dengan anak gendut dan berkulit hitam, keringatnya sangat lengket dan membuatku merasa jijik. Namanya Doni. Dia selalu merasa berkuasa dan kuat karena badannya besar, padahal dia adalah anak yang cengeng, penakut dan kalian mau tahu sesuatu? Terkadang dia memiliki sisi feminim. Buktinya adalah pada saat itu, sedang populer benda yang disebut sebagai kuku palsu. Kuku palsu itu beraneka warna. Ada yang biru, dan ungu. Kuku palsu itu memiliki motif-motif yang begitu manis seperti bunga. Si Doni, dia membelinya. Parahnya, dia memintaku untuk memasangkan dan menekan-nekan kuku palsu yang terekat di kuku aslinya yang jelek itu agar terus menempel sesering mungkin. Sungguh, si Doni pandai sekali memperbudakku.
            Teman sekelasku pada saat kelas dua adalah Wina dan Puspa. Bisa dibilang kami bertiga ini cukup terasingkan. Kami dianggap aneh. Mungkin bukti yang kuat karena kami pernah menjelajah satu sekolahan untuk mencari berbagai hal-hal berbau misteri. Misalnya, jejak sepatu perawat di depan ruang guru, gedung penyimpanan barang yang jarang terbuka dan toilet yang selalu terkunci. Suatu hari ada kakak kelas yang memberitahu kami bahwa saat kami menempelkan telinga kami masing-masing ke tangga dinding, kami akan mendengar suara di tempat ‘lain’. Aku tahu ini terdengar bodoh dan sangat lugu. Namun, reaksi kami bertiga adalah berdecak kagum. Silahkan tertawa karena aku juga ingin tertawa dengan reaksi yang naif seperti itu.
            Kelas tiga. Anak teman sekantor ibuku, Aya, kini telah menjadi teman baikku. Herannya, aku tidak menyimpan dendam sama sekali padanya karena pernah ikut-ikutan menyudutkanku. Aku tahu bahwa dia hanya ikut-ikutan. Anak teman sekompleksku, Selvi juga sudah membaik dan mau berdekatan denganku. Hanya saja aku merasa ada yang aneh, dia seperti lebih mendekati Aya dan aku hanya sebagai pelengkap saja. Dia lebih sering mengutamakan Aya. Oke, aku tidak begitu masalah. Aku sudah mulai bisa memiliki teman, walau masih banyak orang-orang menyebalkan seperti adik kelas bernama Adila yang sering memperbudakku. Dia sering memarahiku jika aku duduk di tempat yang biasa dia duduki. Sungguh anak egois, padahal dia memiliki sepasang kakak kembar identik yang baik dan ramah pada siapa saja. Kemudian banyak berdatangan murid-murid baru dari sekolah lain. Ayi, salah satunya. Dia anak yang cantik dan sopan. Aku senang berteman dengannya. Namun, sayang pada masa kelas tiga aku mengidap tifus sehingga tidak masuk lama, sekitar sebulan-dua bulan. Nilaiku turun karena aku tidak siap saat wali kelas mengujiku dengan ujian susulan secara lisan. Terutama materi IPA. Hapalannya terlalu banyak untuk diingat karena tertinggal berbab-bab.
            Naik ke kelas empat dengan selamat walau banyak nilai-nilai yang  pas-pasan. Disinilah aku bertemu dengan anak gadis bernama Rin. Dia anak yang supel dan berani untuk menjawab pertanyaan dan mengajukan diri untuk membaca suatu teks di depan kelas. Kedekatan kami dimulai dari senang menggambar yang manis-manis. Kami sering merobek bagian tengah buku tulis hingga sering habis untuk menggambar. Lama-lama kami dekat dan sering bermain bersama di kelas maupun di sekitar rumah—ngomong-ngomong Rin juga satu kompleks perumahan denganku. Mulai dari bermain kejar-kejaran, sampai datang ke rumah Rin untuk bermain little mermaid yang merupakan konsol PS X pada zaman itu merupakan konsol tercanggih. Rin ternyata merupakan teman sejak kecil Selvi. Rin selalu menganggap Selvi adalah kakaknya, begitu pula sebaliknya. Ngomong-ngomong soal Selvi, tiba-tiba perangainya semakin aneh kepadaku sehingga satu kata yang terbersit di kepalaku adalah kebencian. Aku benci padanya. Dia selalu lebih menganggap Aya temannya. Kemana-mana, duduk di angkutan pun selalu dengan Aya. Kebencian ini pun tidak tertahankan hingga aku mengatakan bahwa aku sangat membenci Selvi kepada Rin. Saat itu Rin juga jujur padaku bahwa dia benci kepada Selvi, tetapi tidak dapat menjauhinya karena Selvi adalah teman sejak kecilnya dan teman di kompleksnya yang terdekat. Rin berkata bahwa dia hanya akan menjauhi Selvi di sekolah saja. Dan kami sering mengatai-ngatai Selvi di belakang.
            Namun, tidak terpikirkah bahwa menceritakan sebuah perasaan bahwa kau sangat membenci seseorang itu lebih baik disimpan saja? Tidak, aku tidak memikirkannya pada saat itu. Aku terlalu naif untuk tidak mengetahui bahwa teman itu ada yang baik serta tulus, dan teman yang baik di depan kita. Ungkapan perasaanku seolah menjadi boomerang yang membuatku menyadari bahwa tipe teman yang kedua itu ada. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Rin sedang bersenang-senang bermain dan Selvi. Lebih parahnya, Rin mengaku sendiri pada waktu itu juga di hadapanku bahwa dia hanya berpura-pura membenci Selvi dan Rin berbalik membenciku. Dia sering mengejarku ketika aku hendak pergi bersepeda ke tempat kursus bahasa inggris dan menjauhiku di kelas. Jadi, selama ini Rin berpura-pura di depanku. Pantas saja dia sering marah dan berlaku sedikit egois.
            Marah? Tentu. Kesal? Tentu. Dendam? Sangat. Pengkhianatan adalah bumbu yang kurasakan sewaktu kelas empat, dan membuatku menyimpan dendam terselebung. Selama ini memang ada saja yang menyebalkan. Nasibku sungguh berbeda dengan teman sejak kecilku yang memiliki teman-teman yang pintar dan bisa bergaul baik dengannya. Aku tidak bermaksud menyalahkan nasibku. Tetapi aku merasa orang-orang yang menyebalkan selalu saja berada didekatku. Aku merasa perlakuan mereka terkadang tidak adil. Dendam yang masih berupa api yang dililin kecil pun mulai menyala dan bergoyang-goyang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar