Kamis, 28 Juni 2012

日記のメモリ (Diary of Memory) -Oneshot, Roman Dewasa-


          Oke, kali ini sudah saatnya saya menulis blog kembali. Cerita ini tiba-tiba saja muncul dalam pikiran saya. Maaf kalau kesannya klise dan ini cuman oneshot. Walaupun misalnya merasa ada yg mirip2 ama cerita yang saya sajikan, saya bener2 buat cerita ini hasil dari otak selama 3,5 jam. Saya harap anda yang membaca dapat menikmati sajian cerita saya yang saya harap ringan (tidak membuat anda merasa berat untuk memahaminya). Tujuan saya membuat bacaan adalah agar yang membaca merasa refreshing dengan apa yang saya tulis. Selamat membaca :)

-------------------------------------------------------

                 Fathan mengemudikan mobilnya dengan membawa setumpuk kekesalan kepada istrinya, Nara. Entah sejak mengapa hubungannya dengan istrinya sedang kurang baik. Mungkin hal ini disebabkan karena Nara sudah diterima bekerja disebuah perusahaan yang memberinya posisi dengan gaji yang menjanjikan. Awalnya Fathan tidak setuju jika Nara bekerja. Tapi Nara memberikan alasan bahwa ia ingin memiliki pendapatan sendiri yang akan ia tabung sebagian untuk masa depan Safira ketika dia sudah dewasa, dengan berat hati Fathan pun menyetujui keputusan Nara. Namun, Fathan tidak bisa berhenti memikirkan nasib gadis kecil yang duduk disebelahnya, sedang memainkan boneka angry bird sambil bersenandung. Ia ingin istrinya berada di rumah untuk anaknya. Pagi hari ini saja, istrinya hanya bisa membuat makanan seadanya karena ia harus berangkat pagi-pagi ke kantornya. Sebenarnya Fathan bisa saja memasak untuk dirinya dan anak gadis semata wayangnya, Safira. Namun, ia merasa kecewa karena Nara lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan keluarga. Sudah cukup hanya Fathan saja yang bekerja. Ia tidak mau istrinya ikut-ikut mementingkan pekerjaannya dibandingkan keluarga bahkan Safira.
            “Papa, masih marah sama mama?” Gadis kecil itu melirik ayahnya. Fathan yang mendengar suara cemas anaknya pun tersenyum, berusaha membuat anaknya tidak memikirkan pertengkaran kecil dengan ibu tercintanya tadi .
            “Safira hari ini sudah mengerjakan pr?” Fathan sengaja mengalihkan pertanyaan Safira. Gadis kecil itu mengangguk.
            “Sudah kok, papa.”
            “Hari ini Safira kan ga bawa bekal makanan, jadi bisa beli sendiri di kantin sekolah kan?” tanya Fathan dengan lembut. Sejujurnya ia tidak suka anaknya jajan sembarangan. Tapi apa boleh buat. Ini karena Nara malah sibuk dengan pekerjaan barunya.
            “Papa jangan khawatir, Safira punya uang kok.” Gadis berkuncir dua itu berkata dengan ceria. Ia pun kembali bermain dengan boneka sambil kembali bersenandung lagu do a deer a female deer.
            Fathan memberhentikan mobilnya tepat di depan gedung besar yang dikurung oleh pagar yang tinggi bagi anak kecil seumuran Safira—namun baginya pagar itu tidak begitu tinggi. Fathan mematikan mesin mobilnya dan membuka seat belt yang mengikatnya selama perjalanan. Safira pun ikut membuka seat belt dan memakai tas ransel kecil bergambarkan angry bird. Mereka berdua turun dari mobil Niisan March silver. Fathan segera menghampiri Safira dan mengandeng tangan gadis kecilnya dengan erat dan berjalan menuju pintu pagar sekolah.
            “Pagi pak!” Sapa ramah satpam yang selalu menjaga tiap pagi di pos depan.
            “Pagi pak Kusno.” Fathan pun tersenyum formal. Safira pun ikut mengucapkan selamat pagi dengan riang kepada Pak Kusno.
            “Selamat pagi Safira.” Suara wanita yang lembut datang mendekati Fathan dan Safira.
            “Pagi bu Guru Eva!!” Safira membalas sapaan wanita yang mengenakan jilbab berwarna hijau yang senada dengan baju panjangnya.
            “Bu, saya titip Safira di sekolah ya. Safira, jangan nakal ya.”
            Safira mengangguk dengan gembira. Kemudian Fathan melepas genggaman tangannya dan membiarkan tangan Safira bebas.
            “Papa tunggu Safira sampai bel masuk ya.” Rengeknya. Fathan hanya bisa tersenyum sambil menghela nafas pelan. Terkadang Safira tidak mau ditinggal sampai ia masuk ke kelas. Tapi biasanya yang sering melakukan rutinitas mengantar Safira ke sekolah adalah Nara, sedangkan Fathan sangat jarang karena ia langsung bekerja. Jadi kali ini Fathan ga keberatan telat masuk kerja demi putri tercintanya.
            “Ah, pagi Rey.” Sapa bu Eva kepada seorang anak laki-laki mungil yang sedang menggandeng tangan ibunya.
            Mata Fathan membelalak. Melihat siapa sosok wanita—Ibu Rey—yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu juga sama kagetnya, namun hanya beberapa detik kemudian ia tersenyum.
            “Rey, Ibu tinggal ya.” Wanita itu membungkuk sedikit menatap anak laki-lakinya yang menggenggam erat tas ranselnya. Anak laki-laki itu mengangguk dengan ragu dan penuh kebisuan. Wanita itu mengelus lembut helaian rambut putranya yang tertata rapih.
            “Pagi Rey, kita main yuk!” Ternyata Safira mengenal Rey. Rey pun mengangguk setuju, kemudian tangan Safira menggenggam tangan Rey dan mengajaknya masuk ke kelas.
            Bu Eva tersenyum melihat tingkah anak-anak muridnya. “Kalau begitu pak, bu, Saya permisi.” Bu Eva pun pergi meninggalkan Fathan dan Ibu Rey, menghampiri anak-anak muridnya yang sedang asyik bermain kejar-kejaran di lapangan.
            Sejujurnya Fathan masih terkejut. Ia tidak akan menyangka bertemu dengan wanita yang akan mengingatkannya akan masa lalu.
            “Hai, Fathan. Ternyata anakmu sekolah disini juga ya.” Sapa wanita itu sambil tersenyum dengan cara yang sama dalam kenangan Fathan.
            “Aku juga baru tahu anakmu bersekolah disini, Citra.” Fathan hanya menarik sedikit sudut bibirnya, tidak tampak tersenyum. Mungkin ia masih terkena efek keterkejutannya melihat Citra, wanita yang membuatnya mengingat kenangan indah di masa lalu.
            “Sudah lama kita tidak bertemu. Kau masih tidak berubah.” ujar Citra mengulurkan tangannya.
            “Kau juga.” Balas Fathan sambil menyambut tangan wanita yang sudah lama tidak ia genggam. Tangan Citra masih seperti dulu, lembut dan mungil.
            Pikiran Fathan melayang pada kenangan saat ia masih mengenakan seragam putih abu-abunya, saat ia masih bocah ingusan. Bersekolah, belajar, bermain bersama teman, beraktivitas dengan mengikuti ekstrakulikuler, dan yang paling ia ingat adalah kisah cinta monyetnya.
            Ia masih ingat saat dimana Fathan masih laki-laki yang senang bermain dan sangat nakal, terkenal sebagai jagoan sekolah dan didambakan teman-teman gadisnya, dimana ia juga merasakan debaran yang sekarang bisa dia sebut sebagai cinta monyet kepada gadis yang disukainya. Dan salah satu dari kisah cinta monyetnya adalah Citra, Wanita yang ada dihadapannya.
            Fathan masih mengingat didalam diary memorinya saat awal jumpa dengan Citra. Saat itu Fathan sedang ingin makan bakso malang Pak Bowo yang selalu menggugah seleranya dan disana ia bertemu Citra sedang bercanda dengan teman-temannya sambil menunggu racikan Pak Bowo yang super mantap. Fathan bisa merasakan bahwa ia langsung tertarik dengan tawa renyah gadis itu. Rambut lurus sepinggang berbando putih itu berhasil memikat hati Fathan. Jika Fathan mengingat bagaimana cara ia melakukan interaksi pertama dengan Citra, Fathan sudah terkekeh mengingat sikapnya yang benar-benar masih bocah. Waktu itu Fathan sok tebar pesona dan menggoda Citra. Yang digoda malah risih dan memandang Fathan dengan tatapan seakan lelaki dihadapannya itu adalah serangga yang paling dibencinya. Fathan justru merasa tertantang dengan sikap itu dan malah makin menjadi-jadi menggodanya dan membuat Citra kesal.
            Pendekatan yang Fathan lakukan berjalan dengan santai, tapi ia tidak main-main. Ia serius menyukai Citra dan lama kelamaan dia menyadari bahwa Citra adalah gadis spesial dimatanya. Awalnya Citra sering merasa kesal dan terganggu, namun Fathan yang selalu tahu apa yang bahwa ia suka dan semakin mengetahui sisi baik Fathan, perlahan tumbuh rasa didalam hati Citra.
            Lima bulan pendekatan, Fathan pun akhirnya bisa menjadikan Citra sebagai kekasihnya. Tentu saja senangnya bukan main, mendapatkan gadis yang diidam-idamkannya. Setelah berpacaran, mereka sering menghabiskan waktu bersama saat istirahat, pulang bareng, kencan saat akhir pekan dan masih banyak lagi. Kisah kasih mereka terus berjalan sampai tiba saat kelulusan.
            Lulus dengan nilai terbaik dengan usaha. Kemudian Fathan dan Citra di terima di perguruan tinggi negeri yang jaraknya ternyata jauh. Fathan berada di Jakarta, dan Citra berada di Yogyakarta. Namun Fathan dan Citra masih tetap menjalin hubungan sampai akhirnya mereka masuk kuliah pertamanya.
            Namun apa dayanya, Fathan dan Citra masih bocah. Hanya bertindak berdasarkan ego tanpa menggunakan logika, berlaku seenaknya. Tidak bisa berkomitmen lebih, hanya mengandalkan perasaannya. Fathan dan Citra sama-sama tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Semakin waktu berjalan menjauh dari masa SMA mereka dan jarak menjauhkan mereka, mereka menemukan banyak pebedaan yang membuat mereka tidak cocok. Saat itu Fathan mengingat bahwa ia yang memutuskan Citra dahulu dengan alasan ia tidak bisa mempertahankan kekokohan hubungan mereka.
            Kenangan manis dengan Citra terhenti sampai disitu. Sampai saat ini, ketika mengingat masa lalunya, ia benar-benar sangat bocah. Mengingat kata cinta, setia, dan janji  bukan hal mudah untuk dilakukan sebenarnya diucapkan ketika ia beranjak dewasa, semakin membuatnya berpikir bahwa dirinya hanya laki-laki yang sok berlaku seperti pria dewasa.  Cinta yang serius di masa itu, Fathan melihatnya sebagai cinta monyet di masa sekarang.
            “Than, gadis tadi anakmu yang nomor berapa?” Tanya Citra yang membuyarkan nostalgia Fathan.
            “Dia anak pertamaku. Kalau kau?”
            “Dia anak keduaku. Yang anak paling besar beda 2 tahun saja.” Jawab Citra sambil tersenyum manis menatap Rey yang kini sedang berlarian bersama Safira.
            Fathan termanggu. Citra sudah menikah, sudah punya anak, berarti juga ia memiliki suami yang mencintainya melebihi saat Fathan waktu itu. Ada rasa penasaran dalam hati Fathan, yang menjadikan modal kenekatan untuk bertanya lebih lanjut kepada Citra.
            “Suamimu?” Dengan satu kata ia bertanya.
            “Suamiku bekerja sebagai arsitektur. Saat ini dia sedang ikut dalam proyek perumahan elit yang dibangun dekat sini. Istrimu?”
            “Istriku? Ah, dia bekerja di perusahaan swasta.” Ketika Fathan menjawab mengenai Istrinya, teringat pula kejadian tidak mengenakkan sewaktu pagi hari tadi. Nara, wanita yang menjadi istrinya, wanita yang sepakat berjanji dalam sehidup semati akan bersama membangun rumah tangga yang kokoh bersama Fathan. Tapi nyatanya karena masalah keegoisan Nara yang bekerja, apakah masih sanggup Fathan memperkokoh rumah tangga yang ia buat bersama Nara tujuh setengah tahun.
            Fathan pun kembali membuka diari memorinya, kini ia membuka memori saat bertemu dengan Nara. Ia bertemu Nara saat perjodohan orangtuanya. Fathan sebenarnya tidak mau dengan hal-hal bersifat merepotkan seperti itu dan berkali-kali menolak halus ajakan perjodohan itu, namun ibunya memaksa Fathan dan memberi alasan untuk mempererat silahturahmi dengan keluarga Nara. Akhirnya Fathan pun mengiyakan. Tidak ada salahnya kenal dengan calon pilihan ibu, kalau tidak suka, Fathan bisa menolak.
            Nara adalah gadis yang begitu tenang dan lebih banyak diam, berbeda dengan Citra yang lebih cerewet dan bawel. Sewaktu orangtua mereka meninggalkan mereka berdua dalam satu meja, Nara hanya diam sambil menyeruput teh dan makan macaroni schotel dengan saus sambal dan mayonaise. Begitu pula dengan Fathan. Karena merasa tidak enak, Fathan pun berdiri dan berpamitan dengan Nara. Dengan segera Nara menoleh kearah Fathan dan menahannya untuk tidak pergi dengan menarik lengan kemeja Fathan.
            Gadis yang aneh, mengapa ia terus diam tanpa berkata apapun tapi dia tidak membiarkanku pergi. Pikir Fathan. Akhirnya kebisuan pun menemani acara makan malam mereka yang tidak ada rasa spesial bagi Fathan dimasa itu.
            Ternyata orangtua Fathan dan Nara sudah mengatur banyak rencana agar mendekatkan kami berdua. Entah mengapa Fathan malah merasa risih. Tapi Nara hanya mematuhi rencana itu dan mendekatinya sesuai kemauan orangtua kami. Fathan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap orangtua mereka yang seperti anak kecil. Fathan dan Nara bukan boneka yang bisa dijodohkan seenaknya, mereka tetap manusia.
            Tapi ternyata perjodohan itu membawa makna kepada Fathan. Karena rencana-rencana itu, Nara dan Fathan yang notabene memiliki sifat yang kontras, malah saling mengerti tanpa saling mengucapkan kata-kata. Tiada mengumbar kata cinta yang setia dan janji, namun dari pandangan Nara, Fathan bisa merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan dari Citra. Keinginan kuat melindungi mata Nara yang membuat hatinya bergejolak, membuatnya menyadari perasaan yang ia kukung selama ini karena kegagalannya dengan Citra, membuat yakin keinginan Fathan untuk serius.
            Bersama dengan Nara, sangat mudah untuk berdiskusi mengenai masa depan. Nara berkata bahwa pernikahan bukan hanya cinta yang menjadi tiang pengokoh, namun juga tanggung jawab, komitmen, kerjasama dalam mengarungi setiap badai atau gempa yang dapat meruntuhkan kehidupan pernikahan. Dari Nara juga, Fathan belajar untuk lebih berpikir tanpa mementingkan perasaannya. Fathan dan Nara pun akhirnya sepakat untuk bersama-sama membuat rumah tangga berdua.
            Saat mengingat masa lalu dengan Nara, Fathan pun akhirnya mengingat masa-masa mereka bekerjasama membangun satu persatu tiang rumah yang mereka jalani. Fathan merasa bersalah kepada Nara. Ia sudah memarahi istrinya karena masalah tadi pagi. Padahal dulu Fathan dan Nara sepakat akan saling bekerja sama dan saling berdiskusi ketika masalah datang menerpa mereka. Kenapa ia bisa melupakan kesepakatannya dengan Nara? Mengapa kali ini dia kembali menggunakan perasaannya dan bertindak seenaknya kepada Nara? Nara tidak salah. Yang Nara lakukan adalah membantunya. Dan masalah Safira sebenarnya bukan hanya tanggung jawab Nara saja tapi juga Fathan. Selama ini Fathan selalu menganggap bahwa Safira lebih menjadi tanggung jawab Nara. Namun itu salah. Safira adalah tanggung jawab mereka berdua.
            “Than? Kamu kenapa?” Citra menyadari Fathan yang hanya diam sambil menatap kosong. Fathan pun tersadar dan menutup diari memori dalam pikirannya.
            “Ga kenapa-kenapa.” Fathan kali ini bisa tersenyum kepada Citra. Hampir saja ia diombang-ambingkan perasaannya antara Citra dan Nara. Mereka adalah dua orang berbeda, yang mengisi hidup Fathan dengan cara yang berbeda. Dan kali ini Fathan bisa melangkah maju tanpa melihat masa lalu yang sekilas teringat saat bertemu dengan Citra.
            Tanpa terasa bel masuk sudah berbunyi. Fathan melihat Safira yang sedang berbaris dengan rapih di kelas, dikomando oleh bu guru Eva dan anak-anak pun masuk kedalam kelas dengan tertib. Safira sempat menoleh kearah ayahnya, dan Fathan pun melambaikan tangannya sambil tersenyum sampai sosok Safira sudah tidak bisa dijangkau dengan matanya.
            “Kalo gitu, aku duluan ya cit. Aku mau kerja.” Pamit Fathan. Citra pun mengangguk tersenyum.
            “Than. Salam buat istrimu ya.”
            Fathan tersenyum. Kemudian memberikan mengacungkan jempolnya kepada Citra sebagai tanda oke. “Salam juga buat suamimu. Sukses ya.”
            Kini langkah Fathan satu demi satu semakin ringan. Ia sudah tidak ragu untuk tidak menoleh kebelakang. Ia kini dapat menatap kedepan dengan wajah tersenyum. Ia merogoh saku celananya, mencari handphonenya dan menekan tombol satu. Ditempelkan handphonenya dekat telinga dan Fathan pun tersenyum.
            “Nara, hari ini aku akan menjemputmu sepulang kerja. Makan malam hari ini kita pergi keluar bersama dengan Safira ya.”

--------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar