Oke, kali ini sudah saatnya saya menulis blog kembali. Cerita ini tiba-tiba saja muncul dalam pikiran saya. Maaf kalau kesannya klise dan ini cuman oneshot. Walaupun misalnya merasa ada yg mirip2 ama cerita yang saya sajikan, saya bener2 buat cerita ini hasil dari otak selama 3,5 jam. Saya harap anda yang membaca dapat menikmati sajian cerita saya yang saya harap ringan (tidak membuat anda merasa berat untuk memahaminya). Tujuan saya membuat bacaan adalah agar yang membaca merasa refreshing dengan apa yang saya tulis. Selamat membaca :)
-------------------------------------------------------
Fathan mengemudikan mobilnya dengan
membawa setumpuk kekesalan kepada istrinya, Nara. Entah sejak mengapa
hubungannya dengan istrinya sedang kurang baik. Mungkin hal ini disebabkan
karena Nara sudah diterima bekerja disebuah perusahaan yang memberinya posisi
dengan gaji yang menjanjikan. Awalnya Fathan tidak setuju jika Nara bekerja.
Tapi Nara memberikan alasan bahwa ia ingin memiliki pendapatan sendiri yang
akan ia tabung sebagian untuk masa depan Safira ketika dia sudah dewasa, dengan
berat hati Fathan pun menyetujui keputusan Nara. Namun, Fathan tidak bisa
berhenti memikirkan nasib gadis kecil yang duduk disebelahnya, sedang memainkan
boneka angry bird sambil bersenandung. Ia ingin istrinya berada di rumah untuk
anaknya. Pagi hari ini saja, istrinya hanya bisa membuat makanan seadanya
karena ia harus berangkat pagi-pagi ke kantornya. Sebenarnya Fathan bisa saja
memasak untuk dirinya dan anak gadis semata wayangnya, Safira. Namun, ia merasa
kecewa karena Nara lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan keluarga. Sudah
cukup hanya Fathan saja yang bekerja. Ia tidak mau istrinya ikut-ikut
mementingkan pekerjaannya dibandingkan keluarga bahkan Safira.
“Papa, masih marah sama mama?” Gadis
kecil itu melirik ayahnya. Fathan yang mendengar suara cemas anaknya pun
tersenyum, berusaha membuat anaknya tidak memikirkan pertengkaran kecil dengan
ibu tercintanya tadi .
“Safira hari ini sudah mengerjakan
pr?” Fathan sengaja mengalihkan pertanyaan Safira. Gadis kecil itu mengangguk.
“Sudah kok, papa.”
“Hari ini Safira kan ga bawa bekal
makanan, jadi bisa beli sendiri di kantin sekolah kan?” tanya Fathan dengan
lembut. Sejujurnya ia tidak suka anaknya jajan sembarangan. Tapi apa boleh
buat. Ini karena Nara malah sibuk dengan pekerjaan barunya.
“Papa jangan khawatir, Safira punya
uang kok.” Gadis berkuncir dua itu berkata dengan ceria. Ia pun kembali bermain
dengan boneka sambil kembali bersenandung lagu do a deer a female deer.
Fathan memberhentikan mobilnya tepat
di depan gedung besar yang dikurung oleh pagar yang tinggi bagi anak kecil
seumuran Safira—namun baginya pagar itu tidak begitu tinggi. Fathan mematikan
mesin mobilnya dan membuka seat belt yang mengikatnya selama perjalanan. Safira
pun ikut membuka seat belt dan memakai tas ransel kecil bergambarkan angry
bird. Mereka berdua turun dari mobil Niisan March silver. Fathan segera
menghampiri Safira dan mengandeng tangan gadis kecilnya dengan erat dan
berjalan menuju pintu pagar sekolah.
“Pagi pak!” Sapa ramah satpam yang
selalu menjaga tiap pagi di pos depan.
“Pagi pak Kusno.” Fathan pun
tersenyum formal. Safira pun ikut mengucapkan selamat pagi dengan riang kepada
Pak Kusno.
“Selamat pagi Safira.” Suara wanita
yang lembut datang mendekati Fathan dan Safira.
“Pagi bu Guru Eva!!” Safira membalas
sapaan wanita yang mengenakan jilbab berwarna hijau yang senada dengan baju
panjangnya.
“Bu, saya titip Safira di sekolah
ya. Safira, jangan nakal ya.”
Safira mengangguk dengan gembira.
Kemudian Fathan melepas genggaman tangannya dan membiarkan tangan Safira bebas.
“Papa tunggu Safira sampai bel masuk
ya.” Rengeknya. Fathan hanya bisa tersenyum sambil menghela nafas pelan.
Terkadang Safira tidak mau ditinggal sampai ia masuk ke kelas. Tapi biasanya
yang sering melakukan rutinitas mengantar Safira ke sekolah adalah Nara,
sedangkan Fathan sangat jarang karena ia langsung bekerja. Jadi kali ini Fathan
ga keberatan telat masuk kerja demi putri tercintanya.
“Ah, pagi Rey.” Sapa bu Eva kepada
seorang anak laki-laki mungil yang sedang menggandeng tangan ibunya.
Mata Fathan membelalak. Melihat
siapa sosok wanita—Ibu Rey—yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu
juga sama kagetnya, namun hanya beberapa detik kemudian ia tersenyum.
“Rey, Ibu tinggal ya.” Wanita itu
membungkuk sedikit menatap anak laki-lakinya yang menggenggam erat tas
ranselnya. Anak laki-laki itu mengangguk dengan ragu dan penuh kebisuan. Wanita
itu mengelus lembut helaian rambut putranya yang tertata rapih.
“Pagi Rey, kita main yuk!” Ternyata
Safira mengenal Rey. Rey pun mengangguk setuju, kemudian tangan Safira
menggenggam tangan Rey dan mengajaknya masuk ke kelas.
Bu Eva tersenyum melihat tingkah
anak-anak muridnya. “Kalau begitu pak, bu, Saya permisi.” Bu Eva pun pergi
meninggalkan Fathan dan Ibu Rey, menghampiri anak-anak muridnya yang sedang
asyik bermain kejar-kejaran di lapangan.
Sejujurnya Fathan masih terkejut. Ia
tidak akan menyangka bertemu dengan wanita yang akan mengingatkannya akan masa
lalu.
“Hai, Fathan. Ternyata anakmu
sekolah disini juga ya.” Sapa wanita itu sambil tersenyum dengan cara yang sama
dalam kenangan Fathan.
“Aku juga baru tahu anakmu
bersekolah disini, Citra.” Fathan hanya menarik sedikit sudut bibirnya, tidak
tampak tersenyum. Mungkin ia masih terkena efek keterkejutannya melihat Citra,
wanita yang membuatnya mengingat kenangan indah di masa lalu.
“Sudah lama kita tidak bertemu. Kau
masih tidak berubah.” ujar Citra mengulurkan tangannya.
“Kau juga.” Balas Fathan sambil
menyambut tangan wanita yang sudah lama tidak ia genggam. Tangan Citra masih
seperti dulu, lembut dan mungil.
Pikiran Fathan melayang pada
kenangan saat ia masih mengenakan seragam putih abu-abunya, saat ia masih bocah
ingusan. Bersekolah, belajar, bermain bersama teman, beraktivitas dengan
mengikuti ekstrakulikuler, dan yang paling ia ingat adalah kisah cinta
monyetnya.
Ia masih ingat saat dimana Fathan
masih laki-laki yang senang bermain dan sangat nakal, terkenal sebagai jagoan
sekolah dan didambakan teman-teman gadisnya, dimana ia juga merasakan debaran
yang sekarang bisa dia sebut sebagai cinta monyet kepada gadis yang disukainya.
Dan salah satu dari kisah cinta monyetnya adalah Citra, Wanita yang ada
dihadapannya.
Fathan masih mengingat didalam diary
memorinya saat awal jumpa dengan Citra. Saat itu Fathan sedang ingin makan
bakso malang Pak Bowo yang selalu menggugah seleranya dan disana ia bertemu
Citra sedang bercanda dengan teman-temannya sambil menunggu racikan Pak Bowo
yang super mantap. Fathan bisa merasakan bahwa ia langsung tertarik dengan tawa
renyah gadis itu. Rambut lurus sepinggang berbando putih itu berhasil memikat
hati Fathan. Jika Fathan mengingat bagaimana cara ia melakukan interaksi
pertama dengan Citra, Fathan sudah terkekeh mengingat sikapnya yang benar-benar
masih bocah. Waktu itu Fathan sok tebar pesona dan menggoda Citra. Yang digoda
malah risih dan memandang Fathan dengan tatapan seakan lelaki dihadapannya itu
adalah serangga yang paling dibencinya. Fathan justru merasa tertantang dengan
sikap itu dan malah makin menjadi-jadi menggodanya dan membuat Citra kesal.
Pendekatan yang Fathan lakukan
berjalan dengan santai, tapi ia tidak main-main. Ia serius menyukai Citra dan
lama kelamaan dia menyadari bahwa Citra adalah gadis spesial dimatanya. Awalnya
Citra sering merasa kesal dan terganggu, namun Fathan yang selalu tahu apa yang
bahwa ia suka dan semakin mengetahui sisi baik Fathan, perlahan tumbuh rasa
didalam hati Citra.
Lima bulan pendekatan, Fathan pun
akhirnya bisa menjadikan Citra sebagai kekasihnya. Tentu saja senangnya bukan
main, mendapatkan gadis yang diidam-idamkannya. Setelah berpacaran, mereka
sering menghabiskan waktu bersama saat istirahat, pulang bareng, kencan saat
akhir pekan dan masih banyak lagi. Kisah kasih mereka terus berjalan sampai
tiba saat kelulusan.
Lulus dengan nilai terbaik dengan
usaha. Kemudian Fathan dan Citra di terima di perguruan tinggi negeri yang
jaraknya ternyata jauh. Fathan berada di Jakarta, dan Citra berada di
Yogyakarta. Namun Fathan dan Citra masih tetap menjalin hubungan sampai akhirnya
mereka masuk kuliah pertamanya.
Namun apa dayanya, Fathan dan Citra
masih bocah. Hanya bertindak berdasarkan ego tanpa menggunakan logika, berlaku
seenaknya. Tidak bisa berkomitmen lebih, hanya mengandalkan perasaannya. Fathan
dan Citra sama-sama tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Semakin waktu
berjalan menjauh dari masa SMA mereka dan jarak menjauhkan mereka, mereka
menemukan banyak pebedaan yang membuat mereka tidak cocok. Saat itu Fathan
mengingat bahwa ia yang memutuskan Citra dahulu dengan alasan ia tidak bisa
mempertahankan kekokohan hubungan mereka.
Kenangan manis dengan Citra terhenti
sampai disitu. Sampai saat ini, ketika mengingat masa lalunya, ia benar-benar
sangat bocah. Mengingat kata cinta, setia, dan janji bukan hal mudah untuk dilakukan sebenarnya
diucapkan ketika ia beranjak dewasa, semakin membuatnya berpikir bahwa dirinya
hanya laki-laki yang sok berlaku seperti pria dewasa. Cinta yang serius di masa itu, Fathan
melihatnya sebagai cinta monyet di masa sekarang.
“Than, gadis tadi anakmu yang nomor
berapa?” Tanya Citra yang membuyarkan nostalgia Fathan.
“Dia anak pertamaku. Kalau kau?”
“Dia anak keduaku. Yang anak paling
besar beda 2 tahun saja.” Jawab Citra sambil tersenyum manis menatap Rey yang
kini sedang berlarian bersama Safira.
Fathan termanggu. Citra sudah
menikah, sudah punya anak, berarti juga ia memiliki suami yang mencintainya
melebihi saat Fathan waktu itu. Ada rasa penasaran dalam hati Fathan, yang
menjadikan modal kenekatan untuk bertanya lebih lanjut kepada Citra.
“Suamimu?” Dengan satu kata ia
bertanya.
“Suamiku bekerja sebagai arsitektur.
Saat ini dia sedang ikut dalam proyek perumahan elit yang dibangun dekat sini.
Istrimu?”
“Istriku? Ah, dia bekerja di
perusahaan swasta.” Ketika Fathan menjawab mengenai Istrinya, teringat pula
kejadian tidak mengenakkan sewaktu pagi hari tadi. Nara, wanita yang menjadi
istrinya, wanita yang sepakat berjanji dalam sehidup semati akan bersama
membangun rumah tangga yang kokoh bersama Fathan. Tapi nyatanya karena masalah
keegoisan Nara yang bekerja, apakah masih sanggup Fathan memperkokoh rumah
tangga yang ia buat bersama Nara tujuh setengah tahun.
Fathan pun kembali membuka diari
memorinya, kini ia membuka memori saat bertemu dengan Nara. Ia bertemu Nara
saat perjodohan orangtuanya. Fathan sebenarnya tidak mau dengan hal-hal
bersifat merepotkan seperti itu dan berkali-kali menolak halus ajakan
perjodohan itu, namun ibunya memaksa Fathan dan memberi alasan untuk mempererat
silahturahmi dengan keluarga Nara. Akhirnya Fathan pun mengiyakan. Tidak ada
salahnya kenal dengan calon pilihan ibu, kalau tidak suka, Fathan bisa menolak.
Nara adalah gadis yang begitu tenang
dan lebih banyak diam, berbeda dengan Citra yang lebih cerewet dan bawel.
Sewaktu orangtua mereka meninggalkan mereka berdua dalam satu meja, Nara hanya
diam sambil menyeruput teh dan makan macaroni schotel dengan saus sambal dan
mayonaise. Begitu pula dengan Fathan. Karena merasa tidak enak, Fathan pun
berdiri dan berpamitan dengan Nara. Dengan segera Nara menoleh kearah Fathan
dan menahannya untuk tidak pergi dengan menarik lengan kemeja Fathan.
Gadis yang aneh, mengapa ia terus
diam tanpa berkata apapun tapi dia tidak membiarkanku pergi. Pikir Fathan.
Akhirnya kebisuan pun menemani acara makan malam mereka yang tidak ada rasa
spesial bagi Fathan dimasa itu.
Ternyata orangtua Fathan dan Nara
sudah mengatur banyak rencana agar mendekatkan kami berdua. Entah mengapa
Fathan malah merasa risih. Tapi Nara hanya mematuhi rencana itu dan
mendekatinya sesuai kemauan orangtua kami. Fathan hanya bisa menggelengkan
kepalanya melihat sikap orangtua mereka yang seperti anak kecil. Fathan dan
Nara bukan boneka yang bisa dijodohkan seenaknya, mereka tetap manusia.
Tapi ternyata perjodohan itu membawa
makna kepada Fathan. Karena rencana-rencana itu, Nara dan Fathan yang notabene memiliki
sifat yang kontras, malah saling mengerti tanpa saling mengucapkan kata-kata.
Tiada mengumbar kata cinta yang setia dan janji, namun dari pandangan Nara,
Fathan bisa merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan dari Citra.
Keinginan kuat melindungi mata Nara yang membuat hatinya bergejolak, membuatnya
menyadari perasaan yang ia kukung selama ini karena kegagalannya dengan Citra,
membuat yakin keinginan Fathan untuk serius.
Bersama dengan Nara, sangat mudah
untuk berdiskusi mengenai masa depan. Nara berkata bahwa pernikahan bukan hanya
cinta yang menjadi tiang pengokoh, namun juga tanggung jawab, komitmen,
kerjasama dalam mengarungi setiap badai atau gempa yang dapat meruntuhkan
kehidupan pernikahan. Dari Nara juga, Fathan belajar untuk lebih berpikir tanpa
mementingkan perasaannya. Fathan dan Nara pun akhirnya sepakat untuk
bersama-sama membuat rumah tangga berdua.
Saat mengingat masa lalu dengan Nara,
Fathan pun akhirnya mengingat masa-masa mereka bekerjasama membangun satu
persatu tiang rumah yang mereka jalani. Fathan merasa bersalah kepada Nara. Ia
sudah memarahi istrinya karena masalah tadi pagi. Padahal dulu Fathan dan Nara
sepakat akan saling bekerja sama dan saling berdiskusi ketika masalah datang
menerpa mereka. Kenapa ia bisa melupakan kesepakatannya dengan Nara? Mengapa
kali ini dia kembali menggunakan perasaannya dan bertindak seenaknya kepada
Nara? Nara tidak salah. Yang Nara lakukan adalah membantunya. Dan masalah
Safira sebenarnya bukan hanya tanggung jawab Nara saja tapi juga Fathan. Selama
ini Fathan selalu menganggap bahwa Safira lebih menjadi tanggung jawab Nara.
Namun itu salah. Safira adalah tanggung jawab mereka berdua.
“Than? Kamu kenapa?” Citra menyadari
Fathan yang hanya diam sambil menatap kosong. Fathan pun tersadar dan menutup
diari memori dalam pikirannya.
“Ga kenapa-kenapa.” Fathan kali ini
bisa tersenyum kepada Citra. Hampir saja ia diombang-ambingkan perasaannya
antara Citra dan Nara. Mereka adalah dua orang berbeda, yang mengisi hidup
Fathan dengan cara yang berbeda. Dan kali ini Fathan bisa melangkah maju tanpa
melihat masa lalu yang sekilas teringat saat bertemu dengan Citra.
Tanpa terasa bel masuk sudah
berbunyi. Fathan melihat Safira yang sedang berbaris dengan rapih di kelas,
dikomando oleh bu guru Eva dan anak-anak pun masuk kedalam kelas dengan tertib.
Safira sempat menoleh kearah ayahnya, dan Fathan pun melambaikan tangannya
sambil tersenyum sampai sosok Safira sudah tidak bisa dijangkau dengan matanya.
“Kalo gitu, aku duluan ya cit. Aku
mau kerja.” Pamit Fathan. Citra pun mengangguk tersenyum.
“Than. Salam buat istrimu ya.”
Fathan tersenyum. Kemudian
memberikan mengacungkan jempolnya kepada Citra sebagai tanda oke. “Salam juga
buat suamimu. Sukses ya.”
Kini langkah Fathan satu demi satu
semakin ringan. Ia sudah tidak ragu untuk tidak menoleh kebelakang. Ia kini
dapat menatap kedepan dengan wajah tersenyum. Ia merogoh saku celananya,
mencari handphonenya dan menekan tombol satu. Ditempelkan handphonenya dekat
telinga dan Fathan pun tersenyum.
“Nara, hari ini aku akan menjemputmu
sepulang kerja. Makan malam hari ini kita pergi keluar bersama dengan Safira
ya.”
--------------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar