Kali ini saya kembali posting cerita pada blog ini. Dikarenakan sekarang saya sudah memasuki libur panjang setelah perjuangan melawan kekejaman UAS. *banzai*
Kali ini saya masih membuat kisah yang sebenarnya sedikit membawa nuansa roman dewasa. Semoga anda merasa terhibur. Happy reading :)
-------------------------------
Pagi ini aku menerima amplop besar dengan warna gradasi antara
biru malam dengan magenta dengan bunga lili putih palsu yang tersemat menempel
pada tubuh amplop di kotak surat depan rumah kecilku. Aku tersenyum melihat amplop itu. Kebahagiaan
memuncah dadaku. Rasa rindu yang menjadi
kehampaan telah terobati. Kututup pintu rumahku perlahan dan memasuki rumahku
sambil mendekap erat surat itu.
Dia masih mengingat warna kesukaanku. Warna disaat sore menuju
malam, lembayung senja yang sering ia katakan sebagai romansa kehidupan yang
merupakan bagian kehidupanku dan dia. Aku melepaskan bunga lili putih itu dan
tersenyum sambil memainkan tangkai yang terbuat dari kawat yang dilapisi oleh
kertas krep hijau tua. Walaupun palsu, bunga lili putih itu masih memiliki
seberkas wangi parfum yang benar-benar menggambarkan bunga lili putih yang
sesungguhnya. Kemudian baru aku melihat-lihat isi didalam amplop besar
tersebut. Disana ada lukisan pantai losari disaat sunset. Lukisan itu menggunakan
media cat poster. Masih terasa tekstur dari hasil lukisan yang membawa romansa
kehidupan bagi kami berdua.
Kukenang disaat kita berdua menyelusuri pantai Losari, yang
menjadi kesepakatan kita sebagai tempat berlibur yang ingin di kunjungi. Bosan
dengan mengujung pantai parangtritis dan kuta, kita mencoba menjelajah pantai lain
yang masih merupakan pantai nusantara kita.
Kulihat kembali berbagai macam lukisan-lukisan dengan goresan khas
miliknya. Kuhirup aroma lukisan itu. Masih menempel aroma dirinya saat hendak merampungkan
karya-karyanya. Hati dan pipiku bersemu merah mengingat posisi tubuhnya yang
begitu tegap dan serius memandangi lukisannya yang masih setengah jadi.
Setelah aku melihat banyak lukisan-lukisan yang dikirimnya, aku
melihat ada sepucuk surat. Dan sebuah kunci. Aku membaca perlahan-lahan tulisan
yang tertuang di surat itu sambil memegang erat kunci yang baru diketahui
adalah kunci rumah. Satu persatu kata yang tertulis aku resapi semakin dalam
agar rasa rinduku bisa merasa nyaman setelah membaca surat ini. Tanpa terasa
bulir air dengan rasa garam mengalir ke permukaan pipiku. Sungguh rasanya aku
ingin bertemu dengannya. Aku merindukan kepulangannya kehadiranku. Setelah
selesai membaca surat, aku memasukkan semua isi amplop itu kembali—kecuali
sebuah kunci tadi. Aku melihat tubuh bagian belakang amplop dan melihat alamat
pengirim. Aku segera mengambil cardigan berwarna lavender kesukaanku dan
berpakaian rapih serta harum untuk bersiap-siap menuju alamat pengirim itu.
Kukemudikan mobilku menuju alamat yang tetera disana. Dengan
pengetahuan jalan yang kumiliki, aku mencoba menuju kealamat itu. Kuhentikan
mobilku tepat disebuah gedung apartmen dan menyesuaikan dengan alamat di
amplop. Aku turun dari mobil dan masuk kedalam apartmen tersebut, menuju lift ke
lantai lima.
Pada kunci rumah yang kupegang yang bertuliskan 505 dan dihadapan
pintu dengan nomor yang sama, aku membuka perlahan pintu apartmen tersebut.
Saat kubuka, keheningan yang menyambut kedatanganku. Tiada siapa-siapa disana.
Aku melihat lagi seisi rumah tersebut. Tempat tinggalnya yang masih kosong
tidak berpenghuni. Kemana ia pergi? Aku ingin bertemu dengannya.
Kulihat satu persatu ruangan di apartmen itu. Mulai dari ruang
depan, kamar mandi dan kamar tidur. Tak lupa kubuka lemari pakaian di dekat
kamar tidur. Baju-baju yang didominasi berwarna hijau lumut, dan beberapa
aksesoris seperti jam tangan yang biasa dipakainya masih tersimpan dilemari.
Kuambil beberapa setel baju dan kembali menutupnya. Segera kualihkan
pandanganku menuju laci dekat kamar
tidurnya. Kulihat banyak fotoku dan fotonya ketika mengunjungi berbagai macam
latar pantai yang tempatnya berbeda. Ada yang di pantai kuta, disaat aku
mengenakan maxi dress berwarna hijau tosca dengan motif batik bersama dengan
pria yang mengenakan kacamata sunglass dengan kemeja yang dibuka semua
kancingnya—memamerkan dada bidang yang seksi dimataku. Masih banyak foto-foto
lain yang menangkap momen indah kami berdua. Aku pun tersenyum penuh kehangatan
sambil memasukkan foto-foto itu kedalam amplop besar diatas meja laci tersebut.
Kulihat-lihat lagi barang-barang yang
berada di apartmen tersebut. Satu-satu aku membawanya seperti sikat gigi yang
dipakainya, shampoo, pencukur kumis, jam tangan rolex dan terakhir aku
memasukkan parfum yang sudah tidak ada isinya lagi. Setelah amplop itu sudah penuh,
aku tiba-tiba melihat lagi sebuah tumpukan-tumpukan plastik yang didalamnya
berisi obat-obatan. Aku mematung sebentar melihat tulisan-tulisan yang tertera
diplastik tersebut namun setelah beberapa detik tersadar dan segera membawa
amplop itu ke meja makan.
Dengan pena yang tergeletak di meja makan, aku menuliskan alamat
apartmen ini sambil tersenyum melihat amplop besar berwarna lembayung muda.
Kemudian aku menarik secarik kertas yang berada di note papers dan menuliskan kalimat
demi untaian kalimat. Saat menulis aku merasakan hangat dan basah pipiku,
tetesan air pun merintis kepermukaan kertas yang sedang kutulisan kalimat demi
untaian kalimat. Setelah selesai aku memasukkan surat itu dan merekatkan
amplopnya dengan double tip. Setelah selesai, aku mengambil bunga lili putih
palsu didekat meja dan merekatkan di amplop tersebut. Senyum tersungging di
wajahku. Kemudian aku berjalan keluar dari apartmen dan menutup pintu perlahan.
Saatnya aku menuju kantor pos terdekat.
---------------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar