Dahulu saat ikan hias masih
berenang-renang dengan gesit di akuarium ini, aku teringat akan aku dan ayah
yang berhenti sejenak dari kesibukan masing-masing—ayah melanjutkan pekerjaannya
dan aku mengulang pelajaran di sekolah hari ini—untuk menikmatinya. Bukan hanya
tarian-tarian ikan warna-warni yang begitu mempesona kami sampai rela berhenti,
tapi juga kebersamaan dengan ayahku.
Akuarium tua ini telah banyak
meninggalkan kenangan. Seperti saat ayah dan aku membersihkan akuarium ini,
menggantinya dengan air yang lebih bersih. Kata ayah, kita harus rajin untuk
mengurus akuarium yang menjadi tempat tinggal ikan-ikan ini karena itu adalah
tanggung jawab sebagai pemiliknya. Ikan-ikan ini juga pasti tidak mau jika
hidup di air yang sudah tercemar oleh kotoran-kotorannya. Bayangkan jika
sebagai manusia, kita hidup dengan kotoran-kotoran kita disekitar. Pasti
menjijikkan bukan? Karena itu ayah selalu rajin membersihkan akuarium setiap ia
merasa kotoran-kotoran di bagian bawah air semakin banyak.
Ada juga saat dimana kami hendak mau
pergi ke kondangan tetangga, salah satu ikan kami mengambang di air. Tidak bergerak.
Aku memberitahukan ayah yang sudah siap dengan kemeja batiknya. Padahal dia
sudah berdandan rapih, tapi ia segera menuju akuarium kesayangannya dan
mengambil tubuh ikan itu.
Ikan itu sudah mati dan ayah
langsung menguburnya saat itu. Bermodal cangkul kecil yang sering digunakan ibu
untuk menggeruk tanah subur untuk pot barunya, ayah menguburkan jasad ikan itu.
Saat itu aku merasa agak sedih karena ikan yang mati itu merupakan
kesayanganku.
Bertahun-tahun kami memelihara
akuarium itu dengan baik. Mengisi dengan ikan-ikan baru seperti ikan sapu-sapu,
ikan mas koki, dsb. agar ikan-ikan di akuarium kami tidak kesepian. Ayah
berkata bahwa mereka juga butuh teman-teman untuk saling berinteraksi. Dan bagi
aku menambah ikan berarti menambah keluarga baru di kehidupan kami. Saat itu
aku merasa bahwa mataku berkilat senang melihat datangnya ikan baru yang dibawa
ayah.
Akhirnya tiba suatu ketika dimana
ayah melepas semua ikan-ikan itu ke danau terdekat. Ayah berkata bahwa sudah
saatnya mereka bebas. Aku sedih karena harus kehilangan sebuah momen yang dapat
menjadi penghubung antara aku dan ayah. Saat itu aku dengan berat hati melihat
ayah melepaskan ikan-ikan itu di danau, sambil menyuruhku berdoa agar mereka
bisa bahagia hidup disana. Saat itu aku bertanya kepada ayah mengapa harus
melepas ikan-ikan itu. Dan ayah menjawab bahwa mereka juga butuh kebebasan.
Mereka harus merasakan bagaimana asyiknya bermain di air danau yang lebih luas
dibanding akuarium. Dan ayah membiarkan mereka untuk pergi dari akuarium dan
mencari kehidupannya sendiri.
Kini akuarium itu sudah tidak terisi
air dan berdebu. Warna kacanya juga sudah tidak sebening dahulu. Aku pun sudah
berubah, sudah bukan bocah di masa itu. Dan saat kembali bertemu bisa
membangkitkan nostalgia yang memabukkan untuk dirindukan.
“Ayah!! Sedang apa?” Sosok anak
laki-laki yang tengah berlari membawa bola sepak menghampiriku. “Itu apa?”
Belum sempat pertanyaan tadi kujawab, ia kembali bertanya padaku sambil
mengarahkan jari telunjuknya ke akuarium tua.
“Ini akuarium kenangan milik ayah
dan kakekmu. Kau mau coba memelihara ikan, jagoan?” Aku tersenyum sambil
mengangkat sebelah alisku.
Anak laki-lakiku bergumam sambil
memandang akuarium ini. Tanda ia sedang berpikir. Kemudian sekitar satu menit ia
mendongak menatapku sambil menopangkan dagunya.
“Buat apa yah? Kita bisa beli yang
baru lagi kan?” Tanyanya dengan nada polos.
Aku kemudian tersenyum sambil
mengusap kepala jagoan-ku kemudian mengacaknya.
“Memang akuarium tua tapi ini
kenangan antara ayah dengan kakek.”
Ia itu masih tidak mengerti. Kini ia
sedikit memiringkan kepalanya lima belas derajat, kemudian alisnya mengerut
agak lama. Setelah itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jadi maksud ayah..... ayah ingin
berbagi kenangan ayah dan kakek kepadaku?”
“Exactly!
Agar suatu saat ketika kau sudah menjadi ayah, kau akan punya kenangan tentang
ayah dan kau bisa membaginya dengan anakmu betapa menyenangkannya masa kenangan
itu dan kau bisa kembali mengulang kenangan itu bersama anakmu. ”
Benar. Kenangan bersama orangtua
sesederhana apapun, jika kenangan itu sangat merindukan untuk diingat akan
terasa begitu ternilai. Mungkin dulu kita tidak menyadari bahwa itu akan menjadikan
kenangan berarti ketika kenangan itu sudah tidak akan terjadi setelah itu. Dan
disaat merindukannya, kurasa membagi kenangan itu kepada anak kita akan menjadi
kenangan baru yang akan bernilai sama.
Nah, apa sekarang kalian memiliki
kenangan sederhana yang ingin diwujudkan kembali?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar