Rabu, 18 Juli 2012

アクアリウム、お父さんと私 ( Akuarium, ayah dan aku )


            Dahulu saat ikan hias masih berenang-renang dengan gesit di akuarium ini, aku teringat akan aku dan ayah yang berhenti sejenak dari kesibukan masing-masing—ayah melanjutkan pekerjaannya dan aku mengulang pelajaran di sekolah hari ini—untuk menikmatinya. Bukan hanya tarian-tarian ikan warna-warni yang begitu mempesona kami sampai rela berhenti, tapi juga kebersamaan dengan ayahku.
            Akuarium tua ini telah banyak meninggalkan kenangan. Seperti saat ayah dan aku membersihkan akuarium ini, menggantinya dengan air yang lebih bersih. Kata ayah, kita harus rajin untuk mengurus akuarium yang menjadi tempat tinggal ikan-ikan ini karena itu adalah tanggung jawab sebagai pemiliknya. Ikan-ikan ini juga pasti tidak mau jika hidup di air yang sudah tercemar oleh kotoran-kotorannya. Bayangkan jika sebagai manusia, kita hidup dengan kotoran-kotoran kita disekitar. Pasti menjijikkan bukan? Karena itu ayah selalu rajin membersihkan akuarium setiap ia merasa kotoran-kotoran di bagian bawah air semakin banyak.
            Ada juga saat dimana kami hendak mau pergi ke kondangan tetangga, salah satu ikan kami mengambang di air. Tidak bergerak. Aku memberitahukan ayah yang sudah siap dengan kemeja batiknya. Padahal dia sudah berdandan rapih, tapi ia segera menuju akuarium kesayangannya dan mengambil tubuh ikan itu.
            Ikan itu sudah mati dan ayah langsung menguburnya saat itu. Bermodal cangkul kecil yang sering digunakan ibu untuk menggeruk tanah subur untuk pot barunya, ayah menguburkan jasad ikan itu. Saat itu aku merasa agak sedih karena ikan yang mati itu merupakan kesayanganku.
            Bertahun-tahun kami memelihara akuarium itu dengan baik. Mengisi dengan ikan-ikan baru seperti ikan sapu-sapu, ikan mas koki, dsb. agar ikan-ikan di akuarium kami tidak kesepian. Ayah berkata bahwa mereka juga butuh teman-teman untuk saling berinteraksi. Dan bagi aku menambah ikan berarti menambah keluarga baru di kehidupan kami. Saat itu aku merasa bahwa mataku berkilat senang melihat datangnya ikan baru yang dibawa ayah.
            Akhirnya tiba suatu ketika dimana ayah melepas semua ikan-ikan itu ke danau terdekat. Ayah berkata bahwa sudah saatnya mereka bebas. Aku sedih karena harus kehilangan sebuah momen yang dapat menjadi penghubung antara aku dan ayah. Saat itu aku dengan berat hati melihat ayah melepaskan ikan-ikan itu di danau, sambil menyuruhku berdoa agar mereka bisa bahagia hidup disana. Saat itu aku bertanya kepada ayah mengapa harus melepas ikan-ikan itu. Dan ayah menjawab bahwa mereka juga butuh kebebasan. Mereka harus merasakan bagaimana asyiknya bermain di air danau yang lebih luas dibanding akuarium. Dan ayah membiarkan mereka untuk pergi dari akuarium dan mencari kehidupannya sendiri.
            Kini akuarium itu sudah tidak terisi air dan berdebu. Warna kacanya juga sudah tidak sebening dahulu. Aku pun sudah berubah, sudah bukan bocah di masa itu. Dan saat kembali bertemu bisa membangkitkan nostalgia yang memabukkan untuk dirindukan.
            “Ayah!! Sedang apa?” Sosok anak laki-laki yang tengah berlari membawa bola sepak menghampiriku. “Itu apa?” Belum sempat pertanyaan tadi kujawab, ia kembali bertanya padaku sambil mengarahkan jari telunjuknya ke akuarium tua.
            “Ini akuarium kenangan milik ayah dan kakekmu. Kau mau coba memelihara ikan, jagoan?” Aku tersenyum sambil mengangkat sebelah alisku.
            Anak laki-lakiku bergumam sambil memandang akuarium ini. Tanda ia sedang berpikir. Kemudian sekitar satu menit ia mendongak menatapku sambil menopangkan dagunya.
            “Buat apa yah? Kita bisa beli yang baru lagi kan?” Tanyanya dengan nada polos.
            Aku kemudian tersenyum sambil mengusap kepala jagoan-ku kemudian mengacaknya.
            “Memang akuarium tua tapi ini kenangan antara ayah dengan kakek.”
            Ia itu masih tidak mengerti. Kini ia sedikit memiringkan kepalanya lima belas derajat, kemudian alisnya mengerut agak lama. Setelah itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
            “Jadi maksud ayah..... ayah ingin berbagi kenangan ayah dan kakek kepadaku?”
            “Exactly! Agar suatu saat ketika kau sudah menjadi ayah, kau akan punya kenangan tentang ayah dan kau bisa membaginya dengan anakmu betapa menyenangkannya masa kenangan itu dan kau bisa kembali mengulang kenangan itu bersama anakmu. ”
            Benar. Kenangan bersama orangtua sesederhana apapun, jika kenangan itu sangat merindukan untuk diingat akan terasa begitu ternilai. Mungkin dulu kita tidak menyadari bahwa itu akan menjadikan kenangan berarti ketika kenangan itu sudah tidak akan terjadi setelah itu. Dan disaat merindukannya, kurasa membagi kenangan itu kepada anak kita akan menjadi kenangan baru yang akan bernilai sama.
            Nah, apa sekarang kalian memiliki kenangan sederhana yang ingin diwujudkan kembali?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar