Sabtu, 15 September 2012

Wedding Sakura

Akhir-akhir ini sempat mengimajinasikan salah satu gaun pernikahan OC saya, Sakura sewaktu dia menikah dengan Fuyuta.

Jadinya masih belum sesuai bayangan yang tepat tapi kira2 desainnya seperti ini
Yang pasti sih pengen menyatukan konsep sakura, musim dingin, dan fuyuzakura... hasilnya seperti ini sih...
Keliatan mewah bgt? (O.o)
kira2 saya mau buat desain hiasan dari baru permata gitu di bagian kepalanya (tapi di desain ini saya bikin seperti hiasan bunga palsu biasa, padahal pengennya sejenis permata haha)
Kalo desain jas pengantin Fuyuta sih..... belum kepikiran *ga bisa desain jas pengantin cowo sih haha*
tapi mungkin akan saya posting klo udah ketemu gambaran...

Rabu, 12 September 2012

Untitled on my memories (part 1)


          *ehem ehem* kali ini saya mau memposting cerita yang cuman random, hanya untuk berlatih menulis dengan gaya yang lebih kaku. Jika ada yang merasa cerita ini mirip, tolong jangan tersinggung ya :P Ini murni cuman ingin menulis (yah walau sedikit dimasukkan sedikit emosi, tapi itu hanya berlaku di cerita loh ya, ini cerita mungkin tidak sesuai dan dilebih-lebihkan jika merasa mirip, okay?). Enjoy it.




  Kisah ini bermula pada saat aku masih kecil. Aku memiliki teman sejak kecil. Orangtua kami bersahabat sehingga seakan ikatan tanpa persetujuan kedua belah pihak yang bersangkutan memaksa kami untuk berteman. Kami sering bermain bersama tiada terpisahkan, tetapi itu hanya sebuah aturan tidak tertulis di sekitar rumah kami.
            Pada kenyataannya, sewaktu aku menjalani masa sekolah kanak-kanak yang tak begitu jauh dari rumahku, kulihat dalam ingatanku, dia bersama dua anak gadis lain menertawai serta menyudutkanku di bangku belakang sendirian. Aku terkadang menangis tidak tahan menerima bahwa dia, teman sejak kecilku adalah gadis yang sering bermain denganku. Aku ingat bahwa aku sering merengek tidak ingin masuk ke sekolah karena merasa terasingkan.
            Guru-guruku sering memberikan tanda bulan yang berarti nilaiku jelek. Kerap kali aku dianggap bodoh, tapi aku tidak menyadarinya. Yang kutahu hanyalah bermain tanpa tahu apa itu sekolah.
            Saat masuk ke sekolah dasar pun, salah satu anak gadis yang selalu menyudutkanku masuk ke sekolah juga angkutan antar-jemput yang sama denganku. Namanya Nesha. Sedangkan teman sejak kecilku, Shani, juga masuk namun dia berbeda angkutan denganku. Nesha sering membanggakan dirinya memiliki kolam berbentuk biola, berkeliling ke eropa, dan segala macam cerita-cerita yang tampak megah di mata anak-anak. Namun, Nesha masih sering menyudutkanku, bahkan salah satu anak teman sekantor ibuku dan anak satu kompleks perumahanku pun ikut di belakang sosok Nesha yang menyebalkan. Sering kulaporkan pada ibu dan ayah bahwa aku selalu dibiarkan sendirian di angkutan, tidak ada yang pernah mengajakku berbicara. Kegembiraan yang kuingat hanya saat aku bersama kakak laki-lakiku dan teman-temannya yang sering berbaik hati mengajakku berbicara. Disitulah aku merasa nyaman walaupun aku tahu bahwa tidak bisa merasakannya sesering seperti aku bertemu Nesha. Parahnya lagi, angkutanku tidak bisa mengantar pulang sehingga kami terpaksa menumpang di angkutan lain. Penyiksaan secara mental Nesha masih berlanjut, dia menyuruh semua penghuni angkutan untuk tidak mendekatiku. Lagi-lagi, aku sendirian bahkan di tempat yang asing dan baru.
            Oh, ya. Saat kelas satu SD, aku ini bodoh, selalu mendapat nilai E. Wali kelasku sering memanggil orangtuaku untuk memberitahu bagaimana aku di sekolah. Waktu itu aku memang masih tidak mengerti apa fungsi sekolah. Yang kutahu hanya bermain dan berteman. Apakah itu belajar? Aku tidak paham. Sungguh.
            Akhirnya wali kelasku, Bu Eti bersedia membantu perbaikan nilaiku dengan memberikan jam tambahan. Bu Eti sungguh sabar mengajariku, dengan penuh kasih sayang dan sabar. Dia tidak pernah memarahiku. Dari yang awalnya aku tidak mengerti, jadi mengerti sedikit demi sedikit. Perjuangan ibu guruku tidak sia-sia. Aku bisa memperbaiki nilaiku dan naik kelas. Kata ibuku, dulu aku sangat memuji suara Bu Eti yang sungguh merdu di telinga.
            Kelas dua. Seingatku Nesha semakin berkurang menyudutkanku, Tetapi bukan berarti tidak ada anak yang sangat menyebalkan. Aku ingat sekali pernah duduk dengan anak gendut dan berkulit hitam, keringatnya sangat lengket dan membuatku merasa jijik. Namanya Doni. Dia selalu merasa berkuasa dan kuat karena badannya besar, padahal dia adalah anak yang cengeng, penakut dan kalian mau tahu sesuatu? Terkadang dia memiliki sisi feminim. Buktinya adalah pada saat itu, sedang populer benda yang disebut sebagai kuku palsu. Kuku palsu itu beraneka warna. Ada yang biru, dan ungu. Kuku palsu itu memiliki motif-motif yang begitu manis seperti bunga. Si Doni, dia membelinya. Parahnya, dia memintaku untuk memasangkan dan menekan-nekan kuku palsu yang terekat di kuku aslinya yang jelek itu agar terus menempel sesering mungkin. Sungguh, si Doni pandai sekali memperbudakku.
            Teman sekelasku pada saat kelas dua adalah Wina dan Puspa. Bisa dibilang kami bertiga ini cukup terasingkan. Kami dianggap aneh. Mungkin bukti yang kuat karena kami pernah menjelajah satu sekolahan untuk mencari berbagai hal-hal berbau misteri. Misalnya, jejak sepatu perawat di depan ruang guru, gedung penyimpanan barang yang jarang terbuka dan toilet yang selalu terkunci. Suatu hari ada kakak kelas yang memberitahu kami bahwa saat kami menempelkan telinga kami masing-masing ke tangga dinding, kami akan mendengar suara di tempat ‘lain’. Aku tahu ini terdengar bodoh dan sangat lugu. Namun, reaksi kami bertiga adalah berdecak kagum. Silahkan tertawa karena aku juga ingin tertawa dengan reaksi yang naif seperti itu.
            Kelas tiga. Anak teman sekantor ibuku, Aya, kini telah menjadi teman baikku. Herannya, aku tidak menyimpan dendam sama sekali padanya karena pernah ikut-ikutan menyudutkanku. Aku tahu bahwa dia hanya ikut-ikutan. Anak teman sekompleksku, Selvi juga sudah membaik dan mau berdekatan denganku. Hanya saja aku merasa ada yang aneh, dia seperti lebih mendekati Aya dan aku hanya sebagai pelengkap saja. Dia lebih sering mengutamakan Aya. Oke, aku tidak begitu masalah. Aku sudah mulai bisa memiliki teman, walau masih banyak orang-orang menyebalkan seperti adik kelas bernama Adila yang sering memperbudakku. Dia sering memarahiku jika aku duduk di tempat yang biasa dia duduki. Sungguh anak egois, padahal dia memiliki sepasang kakak kembar identik yang baik dan ramah pada siapa saja. Kemudian banyak berdatangan murid-murid baru dari sekolah lain. Ayi, salah satunya. Dia anak yang cantik dan sopan. Aku senang berteman dengannya. Namun, sayang pada masa kelas tiga aku mengidap tifus sehingga tidak masuk lama, sekitar sebulan-dua bulan. Nilaiku turun karena aku tidak siap saat wali kelas mengujiku dengan ujian susulan secara lisan. Terutama materi IPA. Hapalannya terlalu banyak untuk diingat karena tertinggal berbab-bab.
            Naik ke kelas empat dengan selamat walau banyak nilai-nilai yang  pas-pasan. Disinilah aku bertemu dengan anak gadis bernama Rin. Dia anak yang supel dan berani untuk menjawab pertanyaan dan mengajukan diri untuk membaca suatu teks di depan kelas. Kedekatan kami dimulai dari senang menggambar yang manis-manis. Kami sering merobek bagian tengah buku tulis hingga sering habis untuk menggambar. Lama-lama kami dekat dan sering bermain bersama di kelas maupun di sekitar rumah—ngomong-ngomong Rin juga satu kompleks perumahan denganku. Mulai dari bermain kejar-kejaran, sampai datang ke rumah Rin untuk bermain little mermaid yang merupakan konsol PS X pada zaman itu merupakan konsol tercanggih. Rin ternyata merupakan teman sejak kecil Selvi. Rin selalu menganggap Selvi adalah kakaknya, begitu pula sebaliknya. Ngomong-ngomong soal Selvi, tiba-tiba perangainya semakin aneh kepadaku sehingga satu kata yang terbersit di kepalaku adalah kebencian. Aku benci padanya. Dia selalu lebih menganggap Aya temannya. Kemana-mana, duduk di angkutan pun selalu dengan Aya. Kebencian ini pun tidak tertahankan hingga aku mengatakan bahwa aku sangat membenci Selvi kepada Rin. Saat itu Rin juga jujur padaku bahwa dia benci kepada Selvi, tetapi tidak dapat menjauhinya karena Selvi adalah teman sejak kecilnya dan teman di kompleksnya yang terdekat. Rin berkata bahwa dia hanya akan menjauhi Selvi di sekolah saja. Dan kami sering mengatai-ngatai Selvi di belakang.
            Namun, tidak terpikirkah bahwa menceritakan sebuah perasaan bahwa kau sangat membenci seseorang itu lebih baik disimpan saja? Tidak, aku tidak memikirkannya pada saat itu. Aku terlalu naif untuk tidak mengetahui bahwa teman itu ada yang baik serta tulus, dan teman yang baik di depan kita. Ungkapan perasaanku seolah menjadi boomerang yang membuatku menyadari bahwa tipe teman yang kedua itu ada. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Rin sedang bersenang-senang bermain dan Selvi. Lebih parahnya, Rin mengaku sendiri pada waktu itu juga di hadapanku bahwa dia hanya berpura-pura membenci Selvi dan Rin berbalik membenciku. Dia sering mengejarku ketika aku hendak pergi bersepeda ke tempat kursus bahasa inggris dan menjauhiku di kelas. Jadi, selama ini Rin berpura-pura di depanku. Pantas saja dia sering marah dan berlaku sedikit egois.
            Marah? Tentu. Kesal? Tentu. Dendam? Sangat. Pengkhianatan adalah bumbu yang kurasakan sewaktu kelas empat, dan membuatku menyimpan dendam terselebung. Selama ini memang ada saja yang menyebalkan. Nasibku sungguh berbeda dengan teman sejak kecilku yang memiliki teman-teman yang pintar dan bisa bergaul baik dengannya. Aku tidak bermaksud menyalahkan nasibku. Tetapi aku merasa orang-orang yang menyebalkan selalu saja berada didekatku. Aku merasa perlakuan mereka terkadang tidak adil. Dendam yang masih berupa api yang dililin kecil pun mulai menyala dan bergoyang-goyang.

Selasa, 28 Agustus 2012

Kiss 22 Title Part 1 and Part 2

Kali ini saya mau membuat sejenis meme yang judulnya Kiss 22 Title.

Yang baru diupload cuman part 1 dan part 2.
Part 3 dan Part Final menyusul :D

(Fuyuta x Sakura) <-- My Original Character
R15-R18
Sorry.
Bagi yang masih anak-anak dan remaja, gambar disamping itu tidak baik untuk ditiru kalo masih belum menikah. Ini untuk panduan orang yang udah menikah *alibi*


Part 1




Part 2


Minggu, 26 Agustus 2012

白雪姫 (Shirayukihime/Snow White)


Visit this picture on Pixiv : 

http://www.pixiv.net/member_illust.php?mode=medium&illust_id=29627853

(Dilarang untuk menggunakan gambar tanpa sepengetahuan saya, dan jangan menjadi Plagiator demi kemaslahatan umat manusia zaman modern)

Setelah sekian lama, akhirnya saya berhasil memposting satu entrian baru yang sebenarnya menurut saya tidak penting karena hanya memajang gambar saja. Tiada kata, hanya ingin menunjukkan betapa saya sebenarnya suka kartun Disney, terutama melihat Disney Princess.

Judul kali ini Snow White. Oke, saya memang memodifikasikan Snow White versi saya.
Jika saya ada waktu kedepan, saya akan memuat gambar Disney Princess lainnya (Saya sudah membuat sketsa kasar, hanya saja saya harus memindahkannya melalui Wacom dan harus bekerja ekstra untuk mencoloring disaat saya *mungkin* akan memasuki semester baru di perkuliahan saya dan pekerjaan saya yang berhubungan dengan gambar yang cukup menyulitkan terkadang)

Sekian dan terima kasih *malas basa-basi*

Regards,
Shin Kaminari

Rabu, 18 Juli 2012

アクアリウム、お父さんと私 ( Akuarium, ayah dan aku )


            Dahulu saat ikan hias masih berenang-renang dengan gesit di akuarium ini, aku teringat akan aku dan ayah yang berhenti sejenak dari kesibukan masing-masing—ayah melanjutkan pekerjaannya dan aku mengulang pelajaran di sekolah hari ini—untuk menikmatinya. Bukan hanya tarian-tarian ikan warna-warni yang begitu mempesona kami sampai rela berhenti, tapi juga kebersamaan dengan ayahku.
            Akuarium tua ini telah banyak meninggalkan kenangan. Seperti saat ayah dan aku membersihkan akuarium ini, menggantinya dengan air yang lebih bersih. Kata ayah, kita harus rajin untuk mengurus akuarium yang menjadi tempat tinggal ikan-ikan ini karena itu adalah tanggung jawab sebagai pemiliknya. Ikan-ikan ini juga pasti tidak mau jika hidup di air yang sudah tercemar oleh kotoran-kotorannya. Bayangkan jika sebagai manusia, kita hidup dengan kotoran-kotoran kita disekitar. Pasti menjijikkan bukan? Karena itu ayah selalu rajin membersihkan akuarium setiap ia merasa kotoran-kotoran di bagian bawah air semakin banyak.
            Ada juga saat dimana kami hendak mau pergi ke kondangan tetangga, salah satu ikan kami mengambang di air. Tidak bergerak. Aku memberitahukan ayah yang sudah siap dengan kemeja batiknya. Padahal dia sudah berdandan rapih, tapi ia segera menuju akuarium kesayangannya dan mengambil tubuh ikan itu.
            Ikan itu sudah mati dan ayah langsung menguburnya saat itu. Bermodal cangkul kecil yang sering digunakan ibu untuk menggeruk tanah subur untuk pot barunya, ayah menguburkan jasad ikan itu. Saat itu aku merasa agak sedih karena ikan yang mati itu merupakan kesayanganku.
            Bertahun-tahun kami memelihara akuarium itu dengan baik. Mengisi dengan ikan-ikan baru seperti ikan sapu-sapu, ikan mas koki, dsb. agar ikan-ikan di akuarium kami tidak kesepian. Ayah berkata bahwa mereka juga butuh teman-teman untuk saling berinteraksi. Dan bagi aku menambah ikan berarti menambah keluarga baru di kehidupan kami. Saat itu aku merasa bahwa mataku berkilat senang melihat datangnya ikan baru yang dibawa ayah.
            Akhirnya tiba suatu ketika dimana ayah melepas semua ikan-ikan itu ke danau terdekat. Ayah berkata bahwa sudah saatnya mereka bebas. Aku sedih karena harus kehilangan sebuah momen yang dapat menjadi penghubung antara aku dan ayah. Saat itu aku dengan berat hati melihat ayah melepaskan ikan-ikan itu di danau, sambil menyuruhku berdoa agar mereka bisa bahagia hidup disana. Saat itu aku bertanya kepada ayah mengapa harus melepas ikan-ikan itu. Dan ayah menjawab bahwa mereka juga butuh kebebasan. Mereka harus merasakan bagaimana asyiknya bermain di air danau yang lebih luas dibanding akuarium. Dan ayah membiarkan mereka untuk pergi dari akuarium dan mencari kehidupannya sendiri.
            Kini akuarium itu sudah tidak terisi air dan berdebu. Warna kacanya juga sudah tidak sebening dahulu. Aku pun sudah berubah, sudah bukan bocah di masa itu. Dan saat kembali bertemu bisa membangkitkan nostalgia yang memabukkan untuk dirindukan.
            “Ayah!! Sedang apa?” Sosok anak laki-laki yang tengah berlari membawa bola sepak menghampiriku. “Itu apa?” Belum sempat pertanyaan tadi kujawab, ia kembali bertanya padaku sambil mengarahkan jari telunjuknya ke akuarium tua.
            “Ini akuarium kenangan milik ayah dan kakekmu. Kau mau coba memelihara ikan, jagoan?” Aku tersenyum sambil mengangkat sebelah alisku.
            Anak laki-lakiku bergumam sambil memandang akuarium ini. Tanda ia sedang berpikir. Kemudian sekitar satu menit ia mendongak menatapku sambil menopangkan dagunya.
            “Buat apa yah? Kita bisa beli yang baru lagi kan?” Tanyanya dengan nada polos.
            Aku kemudian tersenyum sambil mengusap kepala jagoan-ku kemudian mengacaknya.
            “Memang akuarium tua tapi ini kenangan antara ayah dengan kakek.”
            Ia itu masih tidak mengerti. Kini ia sedikit memiringkan kepalanya lima belas derajat, kemudian alisnya mengerut agak lama. Setelah itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
            “Jadi maksud ayah..... ayah ingin berbagi kenangan ayah dan kakek kepadaku?”
            “Exactly! Agar suatu saat ketika kau sudah menjadi ayah, kau akan punya kenangan tentang ayah dan kau bisa membaginya dengan anakmu betapa menyenangkannya masa kenangan itu dan kau bisa kembali mengulang kenangan itu bersama anakmu. ”
            Benar. Kenangan bersama orangtua sesederhana apapun, jika kenangan itu sangat merindukan untuk diingat akan terasa begitu ternilai. Mungkin dulu kita tidak menyadari bahwa itu akan menjadikan kenangan berarti ketika kenangan itu sudah tidak akan terjadi setelah itu. Dan disaat merindukannya, kurasa membagi kenangan itu kepada anak kita akan menjadi kenangan baru yang akan bernilai sama.
            Nah, apa sekarang kalian memiliki kenangan sederhana yang ingin diwujudkan kembali?

Jumat, 29 Juni 2012

あなたからの白いユリを待っている 。。。。(Menanti Lily putih darimu.....)


Kali ini saya kembali posting cerita pada blog ini. Dikarenakan sekarang saya sudah memasuki libur panjang setelah perjuangan melawan kekejaman UAS. *banzai*
Kali ini saya masih membuat kisah yang sebenarnya sedikit membawa nuansa roman dewasa. Semoga anda merasa terhibur. Happy reading :)

-------------------------------

Pagi ini aku menerima amplop besar dengan warna gradasi antara biru malam dengan magenta dengan bunga lili putih palsu yang tersemat menempel pada tubuh amplop di kotak surat depan rumah kecilku.  Aku tersenyum melihat amplop itu. Kebahagiaan memuncah dadaku. Rasa rindu yang  menjadi kehampaan telah terobati. Kututup pintu rumahku perlahan dan memasuki rumahku sambil mendekap erat surat itu.
Dia masih mengingat warna kesukaanku. Warna disaat sore menuju malam, lembayung senja yang sering ia katakan sebagai romansa kehidupan yang merupakan bagian kehidupanku dan dia. Aku melepaskan bunga lili putih itu dan tersenyum sambil memainkan tangkai yang terbuat dari kawat yang dilapisi oleh kertas krep hijau tua. Walaupun palsu, bunga lili putih itu masih memiliki seberkas wangi parfum yang benar-benar menggambarkan bunga lili putih yang sesungguhnya. Kemudian baru aku melihat-lihat isi didalam amplop besar tersebut. Disana ada lukisan pantai losari disaat sunset. Lukisan itu menggunakan media cat poster. Masih terasa tekstur dari hasil lukisan yang membawa romansa kehidupan bagi kami berdua.
Kukenang disaat kita berdua menyelusuri pantai Losari, yang menjadi kesepakatan kita sebagai tempat berlibur yang ingin di kunjungi. Bosan dengan mengujung pantai parangtritis dan kuta, kita mencoba menjelajah pantai lain yang masih merupakan pantai nusantara kita.
Kulihat kembali berbagai macam lukisan-lukisan dengan goresan khas miliknya. Kuhirup aroma lukisan itu. Masih menempel aroma dirinya saat hendak merampungkan karya-karyanya. Hati dan pipiku bersemu merah mengingat posisi tubuhnya yang begitu tegap dan serius memandangi lukisannya yang masih setengah jadi.
Setelah aku melihat banyak lukisan-lukisan yang dikirimnya, aku melihat ada sepucuk surat. Dan sebuah kunci. Aku membaca perlahan-lahan tulisan yang tertuang di surat itu sambil memegang erat kunci yang baru diketahui adalah kunci rumah. Satu persatu kata yang tertulis aku resapi semakin dalam agar rasa rinduku bisa merasa nyaman setelah membaca surat ini. Tanpa terasa bulir air dengan rasa garam mengalir ke permukaan pipiku. Sungguh rasanya aku ingin bertemu dengannya. Aku merindukan kepulangannya kehadiranku. Setelah selesai membaca surat, aku memasukkan semua isi amplop itu kembali—kecuali sebuah kunci tadi. Aku melihat tubuh bagian belakang amplop dan melihat alamat pengirim. Aku segera mengambil cardigan berwarna lavender kesukaanku dan berpakaian rapih serta harum untuk bersiap-siap menuju alamat pengirim itu.
Kukemudikan mobilku menuju alamat yang tetera disana. Dengan pengetahuan jalan yang kumiliki, aku mencoba menuju kealamat itu. Kuhentikan mobilku tepat disebuah gedung apartmen dan menyesuaikan dengan alamat di amplop. Aku turun dari mobil dan masuk kedalam apartmen tersebut, menuju lift ke lantai lima.
Pada kunci rumah yang kupegang yang bertuliskan 505 dan dihadapan pintu dengan nomor yang sama, aku membuka perlahan pintu apartmen tersebut. Saat kubuka, keheningan yang menyambut kedatanganku. Tiada siapa-siapa disana. Aku melihat lagi seisi rumah tersebut. Tempat tinggalnya yang masih kosong tidak berpenghuni. Kemana ia pergi? Aku ingin bertemu dengannya.
Kulihat satu persatu ruangan di apartmen itu. Mulai dari ruang depan, kamar mandi dan kamar tidur. Tak lupa kubuka lemari pakaian di dekat kamar tidur. Baju-baju yang didominasi berwarna hijau lumut, dan beberapa aksesoris seperti jam tangan yang biasa dipakainya masih tersimpan dilemari. Kuambil beberapa setel baju dan kembali menutupnya. Segera kualihkan pandanganku menuju laci dekat  kamar tidurnya. Kulihat banyak fotoku dan fotonya ketika mengunjungi berbagai macam latar pantai yang tempatnya berbeda. Ada yang di pantai kuta, disaat aku mengenakan maxi dress berwarna hijau tosca dengan motif batik bersama dengan pria yang mengenakan kacamata sunglass dengan kemeja yang dibuka semua kancingnya—memamerkan dada bidang yang seksi dimataku. Masih banyak foto-foto lain yang menangkap momen indah kami berdua. Aku pun tersenyum penuh kehangatan sambil memasukkan foto-foto itu kedalam amplop besar diatas meja laci tersebut.  Kulihat-lihat lagi barang-barang yang berada di apartmen tersebut. Satu-satu aku membawanya seperti sikat gigi yang dipakainya, shampoo, pencukur kumis, jam tangan rolex dan terakhir aku memasukkan parfum yang sudah tidak ada isinya lagi. Setelah amplop itu sudah penuh, aku tiba-tiba melihat lagi sebuah tumpukan-tumpukan plastik yang didalamnya berisi obat-obatan. Aku mematung sebentar melihat tulisan-tulisan yang tertera diplastik tersebut namun setelah beberapa detik tersadar dan segera membawa amplop itu ke meja makan.
Dengan pena yang tergeletak di meja makan, aku menuliskan alamat apartmen ini sambil tersenyum melihat amplop besar berwarna lembayung muda. Kemudian aku menarik secarik kertas yang berada di note papers dan menuliskan kalimat demi untaian kalimat. Saat menulis aku merasakan hangat dan basah pipiku, tetesan air pun merintis kepermukaan kertas yang sedang kutulisan kalimat demi untaian kalimat. Setelah selesai aku memasukkan surat itu dan merekatkan amplopnya dengan double tip. Setelah selesai, aku mengambil bunga lili putih palsu didekat meja dan merekatkan di amplop tersebut. Senyum tersungging di wajahku. Kemudian aku berjalan keluar dari apartmen dan menutup pintu perlahan. Saatnya aku menuju kantor pos terdekat.

---------------------------------------------------

Kamis, 28 Juni 2012

日記のメモリ (Diary of Memory) -Oneshot, Roman Dewasa-


          Oke, kali ini sudah saatnya saya menulis blog kembali. Cerita ini tiba-tiba saja muncul dalam pikiran saya. Maaf kalau kesannya klise dan ini cuman oneshot. Walaupun misalnya merasa ada yg mirip2 ama cerita yang saya sajikan, saya bener2 buat cerita ini hasil dari otak selama 3,5 jam. Saya harap anda yang membaca dapat menikmati sajian cerita saya yang saya harap ringan (tidak membuat anda merasa berat untuk memahaminya). Tujuan saya membuat bacaan adalah agar yang membaca merasa refreshing dengan apa yang saya tulis. Selamat membaca :)

-------------------------------------------------------

                 Fathan mengemudikan mobilnya dengan membawa setumpuk kekesalan kepada istrinya, Nara. Entah sejak mengapa hubungannya dengan istrinya sedang kurang baik. Mungkin hal ini disebabkan karena Nara sudah diterima bekerja disebuah perusahaan yang memberinya posisi dengan gaji yang menjanjikan. Awalnya Fathan tidak setuju jika Nara bekerja. Tapi Nara memberikan alasan bahwa ia ingin memiliki pendapatan sendiri yang akan ia tabung sebagian untuk masa depan Safira ketika dia sudah dewasa, dengan berat hati Fathan pun menyetujui keputusan Nara. Namun, Fathan tidak bisa berhenti memikirkan nasib gadis kecil yang duduk disebelahnya, sedang memainkan boneka angry bird sambil bersenandung. Ia ingin istrinya berada di rumah untuk anaknya. Pagi hari ini saja, istrinya hanya bisa membuat makanan seadanya karena ia harus berangkat pagi-pagi ke kantornya. Sebenarnya Fathan bisa saja memasak untuk dirinya dan anak gadis semata wayangnya, Safira. Namun, ia merasa kecewa karena Nara lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan keluarga. Sudah cukup hanya Fathan saja yang bekerja. Ia tidak mau istrinya ikut-ikut mementingkan pekerjaannya dibandingkan keluarga bahkan Safira.
            “Papa, masih marah sama mama?” Gadis kecil itu melirik ayahnya. Fathan yang mendengar suara cemas anaknya pun tersenyum, berusaha membuat anaknya tidak memikirkan pertengkaran kecil dengan ibu tercintanya tadi .
            “Safira hari ini sudah mengerjakan pr?” Fathan sengaja mengalihkan pertanyaan Safira. Gadis kecil itu mengangguk.
            “Sudah kok, papa.”
            “Hari ini Safira kan ga bawa bekal makanan, jadi bisa beli sendiri di kantin sekolah kan?” tanya Fathan dengan lembut. Sejujurnya ia tidak suka anaknya jajan sembarangan. Tapi apa boleh buat. Ini karena Nara malah sibuk dengan pekerjaan barunya.
            “Papa jangan khawatir, Safira punya uang kok.” Gadis berkuncir dua itu berkata dengan ceria. Ia pun kembali bermain dengan boneka sambil kembali bersenandung lagu do a deer a female deer.
            Fathan memberhentikan mobilnya tepat di depan gedung besar yang dikurung oleh pagar yang tinggi bagi anak kecil seumuran Safira—namun baginya pagar itu tidak begitu tinggi. Fathan mematikan mesin mobilnya dan membuka seat belt yang mengikatnya selama perjalanan. Safira pun ikut membuka seat belt dan memakai tas ransel kecil bergambarkan angry bird. Mereka berdua turun dari mobil Niisan March silver. Fathan segera menghampiri Safira dan mengandeng tangan gadis kecilnya dengan erat dan berjalan menuju pintu pagar sekolah.
            “Pagi pak!” Sapa ramah satpam yang selalu menjaga tiap pagi di pos depan.
            “Pagi pak Kusno.” Fathan pun tersenyum formal. Safira pun ikut mengucapkan selamat pagi dengan riang kepada Pak Kusno.
            “Selamat pagi Safira.” Suara wanita yang lembut datang mendekati Fathan dan Safira.
            “Pagi bu Guru Eva!!” Safira membalas sapaan wanita yang mengenakan jilbab berwarna hijau yang senada dengan baju panjangnya.
            “Bu, saya titip Safira di sekolah ya. Safira, jangan nakal ya.”
            Safira mengangguk dengan gembira. Kemudian Fathan melepas genggaman tangannya dan membiarkan tangan Safira bebas.
            “Papa tunggu Safira sampai bel masuk ya.” Rengeknya. Fathan hanya bisa tersenyum sambil menghela nafas pelan. Terkadang Safira tidak mau ditinggal sampai ia masuk ke kelas. Tapi biasanya yang sering melakukan rutinitas mengantar Safira ke sekolah adalah Nara, sedangkan Fathan sangat jarang karena ia langsung bekerja. Jadi kali ini Fathan ga keberatan telat masuk kerja demi putri tercintanya.
            “Ah, pagi Rey.” Sapa bu Eva kepada seorang anak laki-laki mungil yang sedang menggandeng tangan ibunya.
            Mata Fathan membelalak. Melihat siapa sosok wanita—Ibu Rey—yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu juga sama kagetnya, namun hanya beberapa detik kemudian ia tersenyum.
            “Rey, Ibu tinggal ya.” Wanita itu membungkuk sedikit menatap anak laki-lakinya yang menggenggam erat tas ranselnya. Anak laki-laki itu mengangguk dengan ragu dan penuh kebisuan. Wanita itu mengelus lembut helaian rambut putranya yang tertata rapih.
            “Pagi Rey, kita main yuk!” Ternyata Safira mengenal Rey. Rey pun mengangguk setuju, kemudian tangan Safira menggenggam tangan Rey dan mengajaknya masuk ke kelas.
            Bu Eva tersenyum melihat tingkah anak-anak muridnya. “Kalau begitu pak, bu, Saya permisi.” Bu Eva pun pergi meninggalkan Fathan dan Ibu Rey, menghampiri anak-anak muridnya yang sedang asyik bermain kejar-kejaran di lapangan.
            Sejujurnya Fathan masih terkejut. Ia tidak akan menyangka bertemu dengan wanita yang akan mengingatkannya akan masa lalu.
            “Hai, Fathan. Ternyata anakmu sekolah disini juga ya.” Sapa wanita itu sambil tersenyum dengan cara yang sama dalam kenangan Fathan.
            “Aku juga baru tahu anakmu bersekolah disini, Citra.” Fathan hanya menarik sedikit sudut bibirnya, tidak tampak tersenyum. Mungkin ia masih terkena efek keterkejutannya melihat Citra, wanita yang membuatnya mengingat kenangan indah di masa lalu.
            “Sudah lama kita tidak bertemu. Kau masih tidak berubah.” ujar Citra mengulurkan tangannya.
            “Kau juga.” Balas Fathan sambil menyambut tangan wanita yang sudah lama tidak ia genggam. Tangan Citra masih seperti dulu, lembut dan mungil.
            Pikiran Fathan melayang pada kenangan saat ia masih mengenakan seragam putih abu-abunya, saat ia masih bocah ingusan. Bersekolah, belajar, bermain bersama teman, beraktivitas dengan mengikuti ekstrakulikuler, dan yang paling ia ingat adalah kisah cinta monyetnya.
            Ia masih ingat saat dimana Fathan masih laki-laki yang senang bermain dan sangat nakal, terkenal sebagai jagoan sekolah dan didambakan teman-teman gadisnya, dimana ia juga merasakan debaran yang sekarang bisa dia sebut sebagai cinta monyet kepada gadis yang disukainya. Dan salah satu dari kisah cinta monyetnya adalah Citra, Wanita yang ada dihadapannya.
            Fathan masih mengingat didalam diary memorinya saat awal jumpa dengan Citra. Saat itu Fathan sedang ingin makan bakso malang Pak Bowo yang selalu menggugah seleranya dan disana ia bertemu Citra sedang bercanda dengan teman-temannya sambil menunggu racikan Pak Bowo yang super mantap. Fathan bisa merasakan bahwa ia langsung tertarik dengan tawa renyah gadis itu. Rambut lurus sepinggang berbando putih itu berhasil memikat hati Fathan. Jika Fathan mengingat bagaimana cara ia melakukan interaksi pertama dengan Citra, Fathan sudah terkekeh mengingat sikapnya yang benar-benar masih bocah. Waktu itu Fathan sok tebar pesona dan menggoda Citra. Yang digoda malah risih dan memandang Fathan dengan tatapan seakan lelaki dihadapannya itu adalah serangga yang paling dibencinya. Fathan justru merasa tertantang dengan sikap itu dan malah makin menjadi-jadi menggodanya dan membuat Citra kesal.
            Pendekatan yang Fathan lakukan berjalan dengan santai, tapi ia tidak main-main. Ia serius menyukai Citra dan lama kelamaan dia menyadari bahwa Citra adalah gadis spesial dimatanya. Awalnya Citra sering merasa kesal dan terganggu, namun Fathan yang selalu tahu apa yang bahwa ia suka dan semakin mengetahui sisi baik Fathan, perlahan tumbuh rasa didalam hati Citra.
            Lima bulan pendekatan, Fathan pun akhirnya bisa menjadikan Citra sebagai kekasihnya. Tentu saja senangnya bukan main, mendapatkan gadis yang diidam-idamkannya. Setelah berpacaran, mereka sering menghabiskan waktu bersama saat istirahat, pulang bareng, kencan saat akhir pekan dan masih banyak lagi. Kisah kasih mereka terus berjalan sampai tiba saat kelulusan.
            Lulus dengan nilai terbaik dengan usaha. Kemudian Fathan dan Citra di terima di perguruan tinggi negeri yang jaraknya ternyata jauh. Fathan berada di Jakarta, dan Citra berada di Yogyakarta. Namun Fathan dan Citra masih tetap menjalin hubungan sampai akhirnya mereka masuk kuliah pertamanya.
            Namun apa dayanya, Fathan dan Citra masih bocah. Hanya bertindak berdasarkan ego tanpa menggunakan logika, berlaku seenaknya. Tidak bisa berkomitmen lebih, hanya mengandalkan perasaannya. Fathan dan Citra sama-sama tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Semakin waktu berjalan menjauh dari masa SMA mereka dan jarak menjauhkan mereka, mereka menemukan banyak pebedaan yang membuat mereka tidak cocok. Saat itu Fathan mengingat bahwa ia yang memutuskan Citra dahulu dengan alasan ia tidak bisa mempertahankan kekokohan hubungan mereka.
            Kenangan manis dengan Citra terhenti sampai disitu. Sampai saat ini, ketika mengingat masa lalunya, ia benar-benar sangat bocah. Mengingat kata cinta, setia, dan janji  bukan hal mudah untuk dilakukan sebenarnya diucapkan ketika ia beranjak dewasa, semakin membuatnya berpikir bahwa dirinya hanya laki-laki yang sok berlaku seperti pria dewasa.  Cinta yang serius di masa itu, Fathan melihatnya sebagai cinta monyet di masa sekarang.
            “Than, gadis tadi anakmu yang nomor berapa?” Tanya Citra yang membuyarkan nostalgia Fathan.
            “Dia anak pertamaku. Kalau kau?”
            “Dia anak keduaku. Yang anak paling besar beda 2 tahun saja.” Jawab Citra sambil tersenyum manis menatap Rey yang kini sedang berlarian bersama Safira.
            Fathan termanggu. Citra sudah menikah, sudah punya anak, berarti juga ia memiliki suami yang mencintainya melebihi saat Fathan waktu itu. Ada rasa penasaran dalam hati Fathan, yang menjadikan modal kenekatan untuk bertanya lebih lanjut kepada Citra.
            “Suamimu?” Dengan satu kata ia bertanya.
            “Suamiku bekerja sebagai arsitektur. Saat ini dia sedang ikut dalam proyek perumahan elit yang dibangun dekat sini. Istrimu?”
            “Istriku? Ah, dia bekerja di perusahaan swasta.” Ketika Fathan menjawab mengenai Istrinya, teringat pula kejadian tidak mengenakkan sewaktu pagi hari tadi. Nara, wanita yang menjadi istrinya, wanita yang sepakat berjanji dalam sehidup semati akan bersama membangun rumah tangga yang kokoh bersama Fathan. Tapi nyatanya karena masalah keegoisan Nara yang bekerja, apakah masih sanggup Fathan memperkokoh rumah tangga yang ia buat bersama Nara tujuh setengah tahun.
            Fathan pun kembali membuka diari memorinya, kini ia membuka memori saat bertemu dengan Nara. Ia bertemu Nara saat perjodohan orangtuanya. Fathan sebenarnya tidak mau dengan hal-hal bersifat merepotkan seperti itu dan berkali-kali menolak halus ajakan perjodohan itu, namun ibunya memaksa Fathan dan memberi alasan untuk mempererat silahturahmi dengan keluarga Nara. Akhirnya Fathan pun mengiyakan. Tidak ada salahnya kenal dengan calon pilihan ibu, kalau tidak suka, Fathan bisa menolak.
            Nara adalah gadis yang begitu tenang dan lebih banyak diam, berbeda dengan Citra yang lebih cerewet dan bawel. Sewaktu orangtua mereka meninggalkan mereka berdua dalam satu meja, Nara hanya diam sambil menyeruput teh dan makan macaroni schotel dengan saus sambal dan mayonaise. Begitu pula dengan Fathan. Karena merasa tidak enak, Fathan pun berdiri dan berpamitan dengan Nara. Dengan segera Nara menoleh kearah Fathan dan menahannya untuk tidak pergi dengan menarik lengan kemeja Fathan.
            Gadis yang aneh, mengapa ia terus diam tanpa berkata apapun tapi dia tidak membiarkanku pergi. Pikir Fathan. Akhirnya kebisuan pun menemani acara makan malam mereka yang tidak ada rasa spesial bagi Fathan dimasa itu.
            Ternyata orangtua Fathan dan Nara sudah mengatur banyak rencana agar mendekatkan kami berdua. Entah mengapa Fathan malah merasa risih. Tapi Nara hanya mematuhi rencana itu dan mendekatinya sesuai kemauan orangtua kami. Fathan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap orangtua mereka yang seperti anak kecil. Fathan dan Nara bukan boneka yang bisa dijodohkan seenaknya, mereka tetap manusia.
            Tapi ternyata perjodohan itu membawa makna kepada Fathan. Karena rencana-rencana itu, Nara dan Fathan yang notabene memiliki sifat yang kontras, malah saling mengerti tanpa saling mengucapkan kata-kata. Tiada mengumbar kata cinta yang setia dan janji, namun dari pandangan Nara, Fathan bisa merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan dari Citra. Keinginan kuat melindungi mata Nara yang membuat hatinya bergejolak, membuatnya menyadari perasaan yang ia kukung selama ini karena kegagalannya dengan Citra, membuat yakin keinginan Fathan untuk serius.
            Bersama dengan Nara, sangat mudah untuk berdiskusi mengenai masa depan. Nara berkata bahwa pernikahan bukan hanya cinta yang menjadi tiang pengokoh, namun juga tanggung jawab, komitmen, kerjasama dalam mengarungi setiap badai atau gempa yang dapat meruntuhkan kehidupan pernikahan. Dari Nara juga, Fathan belajar untuk lebih berpikir tanpa mementingkan perasaannya. Fathan dan Nara pun akhirnya sepakat untuk bersama-sama membuat rumah tangga berdua.
            Saat mengingat masa lalu dengan Nara, Fathan pun akhirnya mengingat masa-masa mereka bekerjasama membangun satu persatu tiang rumah yang mereka jalani. Fathan merasa bersalah kepada Nara. Ia sudah memarahi istrinya karena masalah tadi pagi. Padahal dulu Fathan dan Nara sepakat akan saling bekerja sama dan saling berdiskusi ketika masalah datang menerpa mereka. Kenapa ia bisa melupakan kesepakatannya dengan Nara? Mengapa kali ini dia kembali menggunakan perasaannya dan bertindak seenaknya kepada Nara? Nara tidak salah. Yang Nara lakukan adalah membantunya. Dan masalah Safira sebenarnya bukan hanya tanggung jawab Nara saja tapi juga Fathan. Selama ini Fathan selalu menganggap bahwa Safira lebih menjadi tanggung jawab Nara. Namun itu salah. Safira adalah tanggung jawab mereka berdua.
            “Than? Kamu kenapa?” Citra menyadari Fathan yang hanya diam sambil menatap kosong. Fathan pun tersadar dan menutup diari memori dalam pikirannya.
            “Ga kenapa-kenapa.” Fathan kali ini bisa tersenyum kepada Citra. Hampir saja ia diombang-ambingkan perasaannya antara Citra dan Nara. Mereka adalah dua orang berbeda, yang mengisi hidup Fathan dengan cara yang berbeda. Dan kali ini Fathan bisa melangkah maju tanpa melihat masa lalu yang sekilas teringat saat bertemu dengan Citra.
            Tanpa terasa bel masuk sudah berbunyi. Fathan melihat Safira yang sedang berbaris dengan rapih di kelas, dikomando oleh bu guru Eva dan anak-anak pun masuk kedalam kelas dengan tertib. Safira sempat menoleh kearah ayahnya, dan Fathan pun melambaikan tangannya sambil tersenyum sampai sosok Safira sudah tidak bisa dijangkau dengan matanya.
            “Kalo gitu, aku duluan ya cit. Aku mau kerja.” Pamit Fathan. Citra pun mengangguk tersenyum.
            “Than. Salam buat istrimu ya.”
            Fathan tersenyum. Kemudian memberikan mengacungkan jempolnya kepada Citra sebagai tanda oke. “Salam juga buat suamimu. Sukses ya.”
            Kini langkah Fathan satu demi satu semakin ringan. Ia sudah tidak ragu untuk tidak menoleh kebelakang. Ia kini dapat menatap kedepan dengan wajah tersenyum. Ia merogoh saku celananya, mencari handphonenya dan menekan tombol satu. Ditempelkan handphonenya dekat telinga dan Fathan pun tersenyum.
            “Nara, hari ini aku akan menjemputmu sepulang kerja. Makan malam hari ini kita pergi keluar bersama dengan Safira ya.”

--------------------------------------------------

Selasa, 08 Mei 2012

Kei x Kotomi (Chibi Version)


Entah mengapa saya ingin membuat versi chibi dari pairing OC buatan saya...
mungkin karena akhir2 ini sedang mengalami banyak tekanan mental dan batin....
saya berharap dengan menggambar gambar ini, kemampuan saya dapat kembali sepenuhnya...
XD

Credit by me... please do not use this pic without my permission..
if you want to use it, please credit me. thank you :)

Jumat, 20 April 2012

Just want to Draw again

............ #nocomment

Ini sebenarnya OC2 dengan cerita yang....... sedikit kompleks -_____-
masih on progress untuk alur ceritanya -_____-
makanya No comment

Kamis, 19 April 2012

Bird View (Renshuu)

Blog ini sangat tidak terurus akhir2 ini karena bingung mau menulis apa /////
tapi akhirnya saya pun kmbali lagi untuk mengisi blog sekaligus memposting gambar hasil latihan *plus buat ngajarin anak2*

Perkenalkan, ini OC saya, Ritsu :3
teknik menggambar dari angle atas dinamakan 'Bird View'
ntar mau coba lagi, 'Worm View' :3
Otanoshimini ne~

Selasa, 21 Februari 2012

My Valentine Gift for my Senpai, Atobe Muffin Cake

Hari ini, tanggal 21 Februari 2012, tadinya ingin bolos kuliah karena mata kuliahnya ke warganegaan. akhirnya sih masuk juga (hiks hiks merelakan MVD UMN ke SMAN 2 Tangsel deh)

Pagi itu, Ami senpai sms, nah ternyata senpai memberi saya muffin cake yang sangat mengejutkan!! suprise banget!!

ASTAGA!! Impian tlah jadi kenyataan.....dapet coklat Atobe <3 <3 makasih banyak senpai..... >////<
awal2nya saya ga rela makan, tapi artinya ga menghormati yang telah susah payah membuat biar dimakan, jadi mau ga mau harus dimakan. nah sebelum proses penyembelihan mending foto2 dulu >////<












After word:

Saya ingin kembali merasakan saat2 dimana UAS selesai (baru aja semester 2 dimulai), dimana menikmati duduk di downtown Summarecon Serpong sambil membaca novel (waktu itu baca sunshine becomes you) dan sambil minum secangkir kopi hangat >//////< aaaaaaa romantis banget kan lagi sendirian gitu menikmati kebebasan setelah hari2 menjenuhkan.
Selamat menikmati :)
Happy February Month ;))

Selasa, 14 Februari 2012

Cool Peach

Happy Valentine Minna :3
Gimana melewatkan hari ini? Yah itu urusan masing-masing sih, saya sih oke2 aja ada yang mau rayain ada yang ga juga ga papa :3

Topik kita kali ini bukan membahas tentang Valentine juga sih, namun mungkin karena Valentine berhubungan dengan romansa dan kasih sayang, yang bisa dibilang berkaitan dengan semua ide2 cerita saya, maka saya tiba-tiba muncul ide yang mendadak!! *sebenarnya idenya udh dari SMA, namun maksudnya ide yang mendadak lebih ke konflik dan tujuan dari ceritanya sih*

Judulnya sudah ditetapkan.... Cool Peach. Mirip ama judul ide cerita saya, 'Cool Strawberry' *tertawa masam* emang sih awalnya diambil dari situ.

Oke, kalau dipikir2 cerita ini idenya sudah waktu SMP. Waktu itu saya kepikiran untuk membuat 'Cool Peach' dengan memikirkan karakter utama ceweknya sebagai seorang idola. Entah itu adalah seorang pemain film, model atau apapun itu, pokoknya yang berhubungan dengan dunia seleb. Nah, waktu itu tokoh utama cowonya itu seorang manager, tapi akhirnya saya merasa kurang cocok.

Kalau ga salah sempet dipikirkan siapa tokoh utama cowoknya. Tadinya mau cowok biasa aja. Tapi rasanya kurang, saya ingin karakter cowok yang juga punya nuansa/dunia glamour!!

Dan akhirnya sempet terpikir waktu kelas 3 SMA, tokoh utama cowoknya adalah seorang pianis!! Dan akhirnya saya pun merasa ini lebih cocok!!
Dan tokoh utama ceweknya pun saya putuskan adalah seorang model :))

Dan akhirnya saya membuat design karakternya!!
Kishida Momoko!! Mereka yang saya gambar adalah satu orang loh :3 jadi, ceritanya Momoko ini sebenarnya adalah seorang cewek berkacamata yang benar2 tidak ada daya tariknya, tapi dia orangnya tegas dan kadang sedikit pemalu, kalem, dan santun. Nah waktu jadi model, dia menjadi MOMO, seorang gadis yang benar2 ceria, periang, tangguh dan energik! pokoknya bener2 jadi pribadi yang berbeda!!
umurnya...... masih galau nih ;;___;; mending umurnya 17 tahun atau umurnya 22 tahun? ;;_____;;

Dan tokoh utama cowoknya seperti ini :
 Yagami Yuto!! Ceritanya dia ini pianis berbakat, namun banyak rumor yang mengatakan dia playboy. Sebenarnya sih dia lebih disebut gentle, dan sebenarnya dia itu gak playboy seperti kata rumor (Tapi emang sih sedikit mesum LOL). Namun dia juga bukan berarti tergoda sama semua cewe cantik, aslinya dia itu tipe orang serius, namun bisa bersikap konyol dan bodoh :))
umurnya pengennya sih juga galau. Kalau Momoko-nya 17, berarti pengen dia umur 21. tapi kalau Momoko-nya 22 tahun, berarti Yuto umurnya 26 tahun :')) *galau tingkat tinggi*

Nah setelah itu akhirnya saya memutuskan membuat alurnya, waktu kelas 3 SMA.
Pertama, saya pikirkan mengapa Momoko memilih 'sosok yang berbeda' sewaktu menjadi model?
Waktu itu saya berpikir karena Momoko ingin mencari sosok pria cinta pertamanya, Yuki, karena Yuki bilang klo Momoko saat membuka kacamatanya, bener2 manis. Yuki bilang kalau misalnya si Yuki jadi orang terkenal, Momoko juga jadi orang terkenal, dan Yuki menganjurkan Momoko jadi seorang model. Tapi sayangnya Yuki harus pindah ke Amerika dan akhirnya mereka Lost Contact. Makanya, Momoko jadi model demi Yuki. Namun ia malah harus bertemu seorang pianis bernama Yagami Yuto!! Awalnya Momoko tidak suka dengan Yuto dan mereka sering beradu mulut, namun setelah Yuto menemukan jati dirinya sebagai Kishida Momoko, mereka malah jadi sering bertemu karena Kishida Momoko membantu usaha neneknya sebagai penjual bunga tempat dimana Yuto sering membeli bunga untuk pajangan saat resital pianonya atau buat karangan bunga (dan karena Yuto sangat suka bunga dan dekat dengan neneknya sudah lama). Karena kedekatan mereka, baik klo lagi akur atau berantem akhirnya malah tumbuh benih cinta dan mereka pun jadian. Namun bagaimana reaksi Momoko ketika Yuki sudah balik ke Jepang?? Apakah dia masih mencintai Yuki atau sekarang dia malah tidak bisa jauh dari Yuto??

Nah itu ide awalnya..... namun, sekarang saya ingin mengganti :)) entahlah, kurang pas. Dan kata temen saya, ide ini terlalu biasa. Akhirnya tadi sempet brainstroming dan dapat ilham mendadak!! *banzaaaiiii--ttte OOOOOIIIIII, MAYU STORY GIMANEEE!!!!?*

Mari kita hapus draftnya dari awal.
Kali ini saya akan menghiraukan pertanyaan : "Mengapa Momoka menjadi sosok yang berbeda ketika menjadi model?"
Karena ini akan mengandung spoiler :))

Jadi mari kita nikmati saja dulu ide yang seperti ini :

MOMO bertemu dengan Yuto saat resital piano cowok tersebut karena ajakanan bos kantor agensinya, karena bosnya kenal dengan ayah Yuto dan sangat menghormati ayahnya tersebut. Jadi bisa dibilang demi menjalin hubungan yang baik, bosnya pun menonton resital piano tersebut bersama dengan MOMO. Akhirnya setelah selesai, Yuto dan bos MOMO bertemu saling sapa menyapa, dan disitu ada Ayah Yuto, seorang konduktor ternama dan akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama. Intinya pertemuan awal mereka berdua, pengennya sih dibarengi dengan berantem atau adu mulut :)) wkwkwkwk, tapi belum tahu bagaimana LOL
dan ide seperti diatas, mirip2, dibagian akhirnya ketahuan wujud asli MOMO, dan ada benih2 cinta diantara mereka.

Disini saya ingin membuat konflik yang cukup rumit, yang dapat membuat Momoko dan Yuto tidak dapat maju satu langkah karena alasan Momoko menjadi 'org terkenal' dengan sosok yang berbeda jauh yang menghubungkannya dengan rahasia masa lalu Momoka, masa lalu yang tidak ingin diingat.

Tokoh Yuki bagaimana? dihapus? tadinya mau dihapus, tapi saya ingin memasukkan kembali :)) dan masa lalu Momoka berhubungan dengan Yuki, namun kali ini tentunya dengan sajian yang berbeda :)) saya ga mau kasih spoilernya hohohoooo~~~

Akhirnya puas juga menulis + plus mengurus blog ini.

Happy Valentine!! :*

Sunshine Becomes You, Ilana Tan


Sebelumnya saya jarang untuk membaca sebuah novel, dikarenakan karena saya memang lebih senang membeli komik untuk bahan refrensi. Namun saya merasa sebagai seorang jiwa penulis dan penggambar, saya membutuhkan ketajaman imaginasi, dan akhirnya saya membaca karya Ilana Tan yang katanya selalu bagus2. Walau ini sangat menguras uang yang cukup banyak (makanya saya jarang beli novel, mending beli komik 5 biji), namun saya tidak merasa rugi telah membaca novel yang tebalnya sekitar 400-an ini :))

Saya akan meringkasnya, namun saya akan berusaha untuk tidak memberi spoiler, tapi saya merekomendasikan anda untuk membaca, karena cerita ini benar2 menginspirasikan kita untuk mencintai orang dengan begitu tulus, dan penuh dengan pengertian, dan pengikhlasan :))

Alex Hirano adalah seorang pianis yang terkenal, namun suatu ketika terjadi 'kecelakaan' yang disebabkan oleh teman adiknya, Mia Clark. Gadis yang disebutnya sebagai Malaikat Kegelapan itu membuat tangannya cacat - sebenarnya sih ga cacat2 amat ah, toh cuman 2 bulan aja ga bisa dipake ^^ - sehingga membuat Alex bersikap sinis kepada gadis ini. Sebagai permintaan maafnya, Mia mengajukan dirinya membantu Alex dan akhirnya Alex pun mengabulkan permintaan Mia dan sering menyuruh Mia dengan perintah2 yang membuat Mia Clark harus mengelus dadanya karena saking sebal ^^. Mia Clark, entah mengapa gadis ini mampu memikat setiap orang, banyak orang yang langsung menyukainya, dan merasa sudah dekat dengan gadis ini bertahun-tahun lamanya, namun Alex saat itu masih belum menyadari daya tarik Mia Clark, juga senyumannya. Banyak pria yang terpikat padanya, namun gadis ini tersenyum, berbicara dan menatap dengan sama kepada tiap pria tersebut, bahkan Ray Hirano, adik Alex sempat merasa galau bagaimana perasaan Mia Clark padanya karena penyamaan sikap kepada seluruh orang. Bisa dibilang Mia seperti menghindar dari rasa suka setiap pria yang menyukainya. Suatu ketika, Alex ingin mengunjungi Juillevard, dimana dulu ia pernah bersekolah disana untuk menemui gurunya yang diantar oleh Mia. Dan disini ia baru tahu bahwa Mia adalah seorang penari yang sangat berbakat, tiap gerakannya dapat mempesona, Namun mengapa Mia lebih memilih untuk menjadi seorang pengajar dibandingkan ikut dalam grup-grup penari terkenal yang sering mengadakan pertunjukan tari? Setelah itu muncullah benih-benih cinta, Alex semakin dekat dengan Mia Clark, dan mengerti senyuman gadis itu untuk hidupnya, sekaligus mengetahui sebuah kenyataan yang membuatnya ingin melakukan apa saja untuk gadis itu.

Hanya itu ringkasan yang bisa saya berikan, saya bukan orang yang mau memberikan spoiler, kan kasian Ilana Tan ;))

Gaya penulisan bagus, alur yang mudah membuat saya merasa enak untuk mengikutinya, dan saya rasa cukup seru untuk menyimak novel ini.

Jujur saya suka dengan penokohan Alex. Karena awal2nya Alex digambarkan dengan sifat yang cuek, dingin namun setelah dia menyadari perasaannya pada Mia Clark, Alex ternyata bisa lembut, romantis, dan sangat pengertian ^^ pokoknya novel ini pengorbanan cintanya keren!! :)) baca yaaaa :))

Sebenarnya saya ingin buat Fanartnya tapi tapi...... saya urungkan karena takut ^^;; Takut klo Ilana Tan sendiri ga suka dengan gambar saya ^^; jadi saya urungkan dulu untuk memposting ;)) dan sekalian kalau boleh (><), saya ingin juga buat fanart tetralogi musim-nya Ilana Tan + Sunshine Becomes You >< tapi bener2 takut ga sesuai dengan bayangan Ilana Tan *galau ceritanya saya karena saking pengen gambarnya namun takut ga sesuai dengan penokohannya*

Oke, selamat membaca ya Minna :)

Selasa, 07 Februari 2012

[Untitled Story : Mayu Story] Kyouhei`s Route Chapter 1-4

Mayu (The Heroin)

 

[Untitled Story : Mayu Story] Kyouhei`s Route

Chapter 1 : Him and Grave

Mayu mengepak seluruh barang dirumah ini, mulai dari pakaian sampai barang-barang penting seperti surat tanah dan sebagainya. Berat baginya untuk meninggalkan rumah ini. Tapi jika ia terus tinggal disini apa ia bisa hidup? Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Mayu sebatang kara, setidaknya sampai tante dari ibunya berkunjung beberapa hari yang lalu.

[Flash back]
“Mayu sayang, bagaimana kabarmu?”
Wajah tante Mayu terlihat begitu cemas dengan keadaan Keponakannya tersebut.
“Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir.”
Dengan sebuah senyum palsu, Mayu berusaha menguatkan diri.
“Saya pikir sebaiknya kau ikut dengan tante ke Tokyo. Saya rasa bukan hal baik jika membiarkanmu tinggal sendirian disini.”
“Tapi aku tidak ingin merepotkan.”
“Kalau begitu saya punya sebuah solusi. Saya bekerja pada sebuah keluarga kaya raya sebagai salah satu pelayan disana. Bagaimana jika kau bekerja disana? Dengan begitu kau tidak akan sungkan bukan?”
yu terdiam sejenak.

'Kupikir ini ide yang tidak begitu buruk.'

“Baiklah aku mau.”
[End Flash Back]

Mayu menyetujui tawaran tantenya. Dengan berat hati ditinggalkanlah desa yang sedari kecil disinggahi. Tempat Mayu bercengkrama dengan teman-teman―yang sebentar lagi akan ditinggalkan—serta para tetangga. Mayu akan sangat merindukan pantai yang biasa ia kunjungi tiap pagi. Bau pasir dan garam laut tidak akan bisa dirasakan lagi. Mayu akan tinggalkan kehidupannya ke desa dan membiasakan diri dengan jalan beraspal dan bau asap serta kebisingan kota.
'Selamat tinggal semua kenanganku.'
------------------------------------------------------------------------------

“Bagaimana menurutmu Tokyo?”
“Tempat yang sesuai dengan peradaban zaman.”
“Kau benar dan jangan tegang seperti itu.”
Tante Mayu mungkin menyadari sikapnya agak aneh mulai dari cara Mayu duduk, dan sedikit gerak-gerik gadis berambut gelung itu yang tak biasa. Tangannya terus memainkan bungkus makanan yang sudah habis. Entah bungkus itu diapakan olehnya sehingga sudah tidak berbentuk dengan baik.
“Ngomong-ngomong saya belum memberitahumu kau akan bekerja sebagai pelayan keluarga siapa ya.”
                'Ah, benar juga. Aku bodoh. Kenapa aku mengiyakan tawaran tanteku tanpa tahu aku kerja dimana. Bagaimana ini. Mau mundur sekarang juga percuma.'
                “Beritahu aku. Keluarga siapa?”
                “Keluarga Takazawa. Kau tahu? Mereka cukup terkenal. Mempunyai usaha perhotelan dan restaurant terkenal didaerah sini.”
                Sejujurnya Mayu tidak tahu tapi ia hanya menggumam sedikit, memberikan reaksi dari pernyataan tantenya.
                [Kediaman keluarga Takazawa]
                Pagar yang tinggi dengan taman yang luas. Gedung bertingkat tak kalah lebar dengan tamannya. 'Jadi ini tempat aku akan bekerja ya.'
                “Nanti malam tuan besar baru akan datang. Ah tidak hanya tuan besar, tapi juga seluruh keluarga akan berkumpul. Pada saat itu kau harus memperkenalkan dirimu.”
                Jujur saja. Sebelum dan sesudah Mayu sampai disini, jantungnya terus berdebar kencang karena terlalu gugup.
                "Mayu, kau harus terlihat tenang dan jangan sampai membuat malu atau gagal."
                “Lalu sekarang aku harus apa?”
                “Mungkin kau harus ganti bajumu dan saya akan mulai membimbingmu sedikit demi sedikit.”
                Tante menggiringnya ke kamar yang akan ditinggalinya sehari-hari. Kamarnya cukup luas dengan gorden putih dan…. Yah, masih benar-benar kamar yang polos tanpa apa-apa. Tapi masih ada lemari baju yang besar, meja kecil dekat tempat tidur serta cermin besar. Sepertinya Mayu harus menabung untuk membeli perabot yang diinginkan untuk menghiasi kamarnya, rumahnya yang baru.
                “Sekarang kau masukkan dulu bajumu kedalam lemari, Saya akan mengambil baju
kerjamu.”
                Mayu mengangguk dan mulai mengepak barangnya satu persatu. Dia menatap baju-bajunya. Sepertinya terlalu kampungan untuk orang-orang kota disini. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini yang ia punya. Mungkin Mayu akan berniat menabung lagi.
                Sambil dimasukkan dengan rapih kedalam lemari Mayu berpikir tentang satu hal. Sekolah. Sejujurnya ia masih ingin sekolah. Tapi pasti biaya sekolah disini mahal, mungkin ia harus mencari sekolah negeri. Ada baiknya Mayu mencoba meminta izin pada tuan besar untuk memperbolehkannya sekolah. Tapi kira-kira apa uang tabungan serta peninggalan ayah-ibu bisa membantunya untuk membayar uang sekolah ya….
                Pintu kamar Mayu diketuk dan suara yang ia kenal meminta untuk memperbolehkannya masuk. Mayu menyuruh Tantenya untuk membuka pintunya karena tidak kukunci. Lalu tante Mayu membuka pintu dan membawa setelan baju kerja.
                “Cobalah kau pakai. Pasti benar-benar manis.”
                “Tunggu dulu. Kenapa bajunya…. Modelnya seperti ini?” Mayu benar-benar malu. Bajunya terlalu…. Imut dan bagus. Warnanya dominan biru tua dan putih. Model baby doll yang baju serta lengannya terpisah. Agak malu sebenarnya karena baju ini mengekspos pundak gadis itu.
                “Dicoba dulu. Biar saya yang memindahkan baju-bajumu kelemari.”
                Mayu menerima baju itu dengan masih sedikit terkejut. Tantenya mulai merapihkan baju-baju milik Mayu dan memasukkannya kedalam lemari. Mayu pun mulai membuka baju lengan panjang dan jeansnya. Mencoba untuk memakai baju yang sudah dibawakan untuknya.
                “Bagaimana menurut tante? Apa bagus?”
                “Wah kau benar-benar manis! Kau cocok sekali memakainya, Mayu!”
                Aku tersipu malu mendengar pujiannya. Aku mencoba berputar sehingga rokku ikut mengembang dan berputar. Sekarang aku suka dengan modelnya.
                “Sekarang aku mau kembali merapihkan baju-bajuku.”
                “Nah biar saya bantu ya.”
                [2 jam kemudian]
                Barang-barang yang berada didalam koper Mayu sudah dipindahkan kedalam lemari besar. Mayu memasukkan kopernya kebawah kolong tempat tidur.
                “Kalau begitu saya harus kembali kedapur. Kau tunggu disini dulu ya, Mayu.”
                Tante Mayu pergi. Mayu sendiri dikamar ini. Dia merasa bosan jika hanya menunggu. Lebih baik ia keluar sebentar saja. Begitu pikirnya.
                Dibuka pelan-pelan pintu kamarnya dan mencoba menelusuri lorong yang panjang ini. Mayu mengambil arah dengan perasaannya. Ia tidak tahu jalan apa saja yang sudah dilalui dan dimana ia sekarang. Tapi Mayu menemukan sebuah jalan menuju halaman belakang rumah ini. Ia tahu karena melihat dari balik jendela. Pintu yang menghubungkan rumah ini dengan halaman belakang ia buka perlahan. Disana Mayu melihat halaman yang rindang dengan pohon besar tapi agak tandus. Apa halaman belakang tidak diurus dengan baik?
                Saat itu Mayu  melihat seorang pemuda berdiri didepan sebuah kuburan tua yang tidak terurus. Gadis itu membelalakan matanya. Siapa pemuda itu tanyanya dalam hati.
                Suara langkah Mayu sepertinya terdengar olehnya hingga ia menoleh kearah Mayu. Sekarang Mayu dengan jelas melihat wajahnya. Dia cukup tampan dan tubuhnya ternyata tinggi dan tegap. Mayu pun perlahan mendekatinya.
                “Selamat siang. Apakah kau penghuni rumah ini? Sedang apa.. ditempat seperti ini?”
                Pemuda itu tersenyum.
                “Aku sedang berziarah. Jadi kau orang yang bernama Mayu?”
                Mayu kaget. Dia tahu nama Mayu.
                “Kenapa kau tahu? Apa tanteku sudah menceritakan tentangku?”
                “Begitulah. Jadi kau orangnya ya.”
                Pemuda itu mendekati perlahan lalu menopang dagu Mayu tiba-tiba. Gadis itu membelalakan matanya, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. 'Apa yang akan ia lakukan padaku?!'
                “A….apa yang akan kau lakukan?!”
                Walau Mayu meresponnya seperti itu, ia tidak dapat bergerak. Tubuhnya seperti membeku didepan pemuda ini tidak tahu mengapa.
                “Dengar baik-baik. Jangan pernah ke tempat ini lagi jika kau tidak ingin ; yang pertama dimarahi dan tubuhmu jadi penuh luka terkena pukulan, yang kedua aku akan menjadi yang pertama untukmu.”
                Pemuda itu tersenyum sambil mengancamku. Entah apa yang dipikirkannya. Apa dia ini orang sinting?
                “Le..lepaskan aku!”
                Mayu menampik pelan tangan pemuda yang sedang menopang dagu gadis dihadapannya. Pemuda mendengus seperti mengejek Mayu.
                “Aku hanya bercanda. Ternyata kau itu memang gadis yang masih polos.”
                Pemuda itu memainkan rambut Mayu yang panjang bergelung, membuat gadis itu menariknya paksa seperti meminta untuk tidak disentuh.
                “Jangan sentuh.”
                Mayu memelototinya. Memberikan tatapan perlawanan padanya. Tapi ia tidak bergeming. Hanya tersenyum lalu mendekatkan mukanya ketelinga Mayu.
                “Ingat baik-baik. Aku Kyouhei.”
                Pemuda itu kemudian meniup telinga Mayu yang membuat bulu kudu gadis itu berdiri dan langsung mundur kebelakang. Pemuda tersenyum mengejek dan berjalan melewati Mayu yang masih berdiri kaku.
                “Sampai jumpa, gadis perawan.”
                Pemuda itu masuk kedalam rumah besar dan menghilang begitu saja. Sedangkan Mayu hanya diam termanggu menahan semua emosi yang kacau. ' Menyebalkan. Siapa dia. Benar-benar lelaki kurang ajar. Apa lelaki di Tokyo seperti ini semua.'
               Mayu sekarang dapat melihat kuburan yang tidak terurus itu. Ia perlahan mendekat karena penasaran. Dilihat baik-baik kuburannya. Walau memang terlihat lusuh tapi tidak meninggalkan debu. Justru terlihat bersih. Sambil diusapnya kuburan itu, Mayu bisa membaca tulisan yang terukir.
                “Oika ………?”

Chapter 2 : Family?

Mayu masih berpikir tentang kuburan yang bertuliskan 'Oika', serta lelaki yang entah bisa dibilang baik atau buruk, pokoknya sikapnya benar-benar membuatnya bingung setengah mati.

Mayu tahu, dia adalah gadis yang berasal dari kampung dengan penampilan sederhana, tidak menarik dan wajah yang membosankan. Yah, sebenarnya hal itu dikarenakan peristiwa yang menimpa keluarganya, jauh sebelum mereka meninggal. Cukup lama terjadi dan Mayu sudah lama melupakan bagaimana kehidupannya sebelum dia tinggal lama di kampung dan hidup bahagia bersama mendiang ayah dan ibunya.

Mayu berpikir lebih baik dia kembali saja, daripada membuat masalah di halaman dengan satu kuburan yang sepertinya amat keramat bagi lelaki itu. Dia penasaran tapi dia juga tidak berhak untuk ikut campur mengenai masalah lelaki yang baru dia temui. Untuk apa bertanya lebih jauh sedangkan mereka tidak saling kenal, ide konyol jika aku ingin tahu lebih lanjut tentang 'Oika'. Suara hati Mayu pun berbicara acuh tak acuh.

-------------

Lelaki yang tadi di kuburan, yang ditemui Mayu dan sempat sedikit menggoda sekaligus menakuti gadis itu berjalan menuju kearah pintu masuk yang sebesar pintu hall gedung. Dia melihat lelaki muda sama sepertinya, hanya saja lebih terlihat dewasa karena kacamatanya, baru saja datang dari arah pintu masuk.

"Kak Kyou, selamat datang. Darimana saja?"
Lelaki itu menyapa orang yang disebutnya 'Kakak' yang baru saja pulang dengan membawa kantong plastik, yang berisikan buku-buku tebal dengan huruf-huruf kanji yang asing baginya.

"Ah, Kyouhei. Aku habis dari toko buku membeli buku sastra yang bagus."
Kyou sedikit mengoyang-goyangkan kantong plastiknya, menunjukkan kearah adiknya yang hanya menghela nafas.

"Kau benar-benar kutu buku. Aku merasa sulit jika aku ikut-ikutan hobimu itu."
Kyouhei tersenyum geli melihat kakaknya punya hobi seperti orang maniak, padahal ia merasa Kyou sangat tampan dan tanpa cela tidak terlihat seperti orang yang selalu sibuk mengisi waktunya dengan membaca buku tebal, sulit dan bergaya klasik.

"Ngomong-ngomong, Kyouhei. Ayah belum pulang?"
"Belum. Dia akan pulang malam nanti. Untuk melihat Mayu-chan."
Kyouhei tersenyum penuh arti.
"Gadis itu sudah datang?"
Kyou mengangkat sebelah alisnya, menatap Kyouhei agar lebih yakin dengan apa yang dikatakan laki-laki yang hanya tersenyum penuh arti.
"Benar."
Namun dalam sekejap Kyouhei pun mendadak melamun seperti memikirkan sesuatu.
". . . apa yang kaupikirkan?"
Kyou menepuk pundak adiknya yang pikirannya selalu tiba-tiba melalang-buana. Kyouhei sadar dan mengelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak. Lupakan saja. Kalau begitu aku akan jalan-jalan keluar. Aku janji akan pulang sebelum larut malam"
dan Kyouhei pun perlahan menghilang dari hadapan Kyou yang terus memandang adiknya kemudian menghela nafas dengan mendecikkan lidahnya pelan.
"Adikku masih belum melupakan rupanya."

---------------------

Sekarang sudah pukul delapan malam. Mayu disuruh bersiap-siap oleh tantenya, menggunakan baju 'terbaik'. Mungkin lebih tepat baju yang sopan, rapih dan sedap dipandang mata.

'Mungkin cuman satu-satunya dress yang pernah diberikan oleh Ibu ini aja yang paling bagus dipake'
Aku berpikir begitu sambil melihat pantulan diriku dicermin. Malam ini aku akan menemui tuan besar. Dia sangat ingin bertemu dan mengadakan jamuan makan malam yang sedikit resmi, walau hanya antara keluarga. Seperti pesta penyambutanku. Tapi aku bingung juga, untuk apa merayakan begitu meriah seperti merayakan ulang tahun saja, toh Mayu hanya 'orang luar' yang datang ke rumah itu untuk kerja. Tapi kalau aku menolak, aku akan dianggap mengecewakan. Jadi, aku hanya mengikuti kata-kata tanteku. Berdandan sebaik mungkin.

"Mungkin rambutku kupakai bando sederhana ini saja sudah cukup ya."
Aku memasang bandi tersebut dirambutku. Bando berwarna putih mengkilat tanpa hiasan apa-apa. Tapi aku cukup suka. Karena aku tidak terbiasa mencolok.

"Mayu, kau sudah siap?" Tante Mayu mengetuk pintu keponakannya. Ia tahu tidak mau menganggu privasi gadis yang masih usia belia itu, jadi ia dengan sopan hanya menunggu diluar.

Mayu segera merapihkan meja-yang waktu ini bisa disebut sebagai meja dandan- dan memasukkan ke laci agar lebih rapih. Kemudian dia mengibas-kibaskan roknya sedikit, takutnya ada debu atau kotoran yang menempel.
" Ya, aku sudah siap!!" Kemudian tidak lupa Mayu memakai sepatu tumit datar berwarna biru yang menurutnya serasi dengan dress warna biru tua. Tak lupa ia memakai cardigan pendek berwarna putih yang berbahan wol dan segera membuka pintu kamarnya.

--------------

Kyouhei dan Kyou sedang menunggu di ruang makan sambil menyibukkan masing-masing. Kyou sedang melihat arlojinya, menunggu kapan semua akan tiba. Sedangkan Kyouhei sedang memainkan garpu kepiring hingga sedikit menimbulkan bunyi 'ting' yang nyaring.

Ketika mendengar ada bunyi setapak langkah demi langkah, keduanya sama-sama menoleh kearah suara. Ia melihat seorang laki-laki yang lebih muda dari mereka berdua, wajahnya belum menunjukkan 'laki-laki dewasa' seperti Kyou dan Kyouhei dengan wajah masam dan mengkerutkan alis.

"Huh, kenapa harus mengikuti acara jamuan makan bersama gadis yang belum tahu bagaimana. Bisa saja dia hanya gadis yang menyedihkan." Pemuda itu misuh-misuh sendiri, kemudian menarik kursi dengan sangat keras dan duduk sampai terdengar bunyi 'bruukk'.

"Itsuki, kau bisa jaga sopan santun? Kalau kau memang merasa harga dirimu lebih tinggi daripada gadis itu, maksudmu kau adalah orang kaya dan dia adalah 'pauper', maka bisakah kau bersikap sedikit dewasa?"
Kyouhei tidak bermaksud menasehati adiknya itu. Tapi adiknya hanya mdiam sambil menyipitkan matanya kepada Kyouhei.

"Aku setuju dengan pendapat Kyouhei."
Kyou melipatkan kedua tangannya didadanya, melihat Itsuki dengan tatapan serius dan tegas. Bagaimanapun Kyou harus bertindak seperti kakak paling tertua bagi adik-adiknya tersebut.

". . .  baiklah." Itsuki pun hanya mendengus kesal, dan memutar bola matanya seperti merasa enggan mendengar khotbah kedua kakaknya. "Yang penting ayah dan ibu belum pulang. Lama sekali mereka. Aku belum makan"

"Kami juga disini belum makan. Kalau sudah makan kami tidak akan berada disini."
Kyouhei berkata biasa saja, tenang. Tapi bagi Itsuki, kakaknya yang satu ini seperti sebuah ajakan untuk bertarung lewat kata-kata. Itsuki menatap garang Kyouhei. Sedangkan yang bersangkutan melihat dengan pandangan merendahkan.

"Sudah, sudah. Jangan menciptakan atmosfer yang tidak baik. Ah, sepertinya Ayah dan Ibu sudang datang"
Kyou sadar bahwa ada suara pintu terbuka. Dilihatnya seorang pria yang sudah mempunyai garis-garis kerutan diwajahnya, namun ia masih terlihat 'dandy' dan tampan untuk ukuran pria yang sudah tua. Pria tersebut bersama seorang wanita yang cantik, tidak bisa disebut muda maupun terlalu tua. Bisa dibilang, wanita ini begitu memperhatikan perawatan wajahnya, dan menggunakan make up sehingga wajahnya terlihat begitu antik.

"Hello, my boys. Apa kabar kalian semua?" Pria tua itu menyambut ketiga laki-laki yang langsung berdiri begitu pria itu mendekat dan menghampiri.

"Tentunya kami baik saja, ayah. Ayah sendiri bagaimana?"
Kyouhei tersenyum pada ayahnya. Ayahnya pun membalas dengan senyum yang sangat menawan, memancarkan bola matanya yang berwarna hijau redup yang menenangkan.

"Tentu saja ayah baik saja." Pria itu melirik ketiga putranya, kemudian mengalihkan pandangannya ke putra tertuanya."Kyou, kau jangan terlalu sering dikamar. Sesekali kau juga jalan-jalanlah."

"Aku pergi keluar." Bantah Kyou yang tidak mau disebut 'terlalu sering memendam di kamar'.

"Maksud ayah, kau harus jalan-jalan selain ke toko buku atau perpustakaan. Pokoknya yang tidak ada hubungannya dengan buku!" Ayahnya khawatir kalau anaknya ini bisa mati kalau terlalu maniak buku-buku. Dia takut Kyou akan mati tertimpa buku-buku tebal dengan isi yang sulit dimengerti, apalagi Sastra jepang klasik.

Kyou hanya diam saja, tanda tidak mau berdebat dengan ayahnya. Kemudian ayahnya melihat putra paling bungsunya.

"Kalau kau, Itsuki. Sedikit saja buatlah wajahmu melembek seperti adonan roti yang lembut. Jangan cemberut, itu akan mengurangi daya tarikmu."

Itsuki hanya berdecik, kemudian diam sebentar karena kata-kata ayahnya ada benarnya juga. Karena sikap juteknya ini, banyak yang salah paham padanya. Itsuki hanya berkacak pinggang dan pasrah dikhotbahkan lagi untuk kedua kalinya.

"Dan kau, Kyouhei. Kau lebih bermasalah." Ayah ketiga laki-laki itu hanya menggeleng-geleng heran untuk putra keduanya ini. Tapi yang bersangkutan hanya tersenyum seperti tanpa melakukan kesalahan besar.

Ayahnya menghela nafas panjang. "Aku sering mendapat laporan dari butler kita, Roki bahwa sering ada laporan dengan semua kerusuhan karena dirimu, Kyouhei. Mulai dari berkelahi, seenaknya memakai motor milik ayah tanpa sepengetahuan ayah untuk balap motor yang tidak jelas itu, kemudian berkencan dengan banyak wanita. Kau itu...." Ayahnya hanya mengeleng-geleng sambil memegang keningnya, seperti kewalahan dengan perbuatan putranya yang memang masih dalam tahap remaja yang belum dapat dikontrol.

"Yang penting aku bisa mengatasinya kan tanpa perlu ayah turun tangan, bertemu dengan kepala sekolah."
Tanpa merasa bersalah Kyouhei menanggapinya dengan senyum lagi.

"Ya ya, terserah kau saja." diantara ketiga putranya yang sedang puber, dia tidak bisa melawan Kyouhei. Entah rasanya anak ini selalu saja membuatnya kalah telak.

"Suamiku. Kenapa kita harus makan malam dengan gadis kampung itu?"
Suara yang bernada ketus berasal dari wanita yang sedari tadi disampingnya. Wanita itu meletakkan tas Hermes Matte Crocodile Birkin-nya di meja makan sementara, kemudian dia duduk dikursi dan memangku tasnya.

"Jangan bilang begitu. Dia bukan gadis kampung. Lagipula. . . akhirnya ayah bisa juga melihat anak gadis di rumah ini. Benar! anak gadis! bukan putra-putraku yang punya segudang masalah dengan pertumbuhan hormon mereka!"

Ketiga putranya hanya saling bertatapan dan menghela nafas. Yah, memang tidak ada 'gadis muda' di rumah mereka. Dan ayah mereka memang ingin punya anak perempuan karena bosan melihat tingkah anak-anak laki-lakinya yang menurutnya selalu aja membuat cemas dikala sedang sibuk kesana kemari, maksudnya keluar negeri.

"Ah, dan Kyouhei! kau paling berbahaya! jangan kau goda dia."

Kyouhei tersenyum, tarikan bibirnya yang tersungging itu sangat keatas hingga terlihat seperti dibuat-buat dan dengan nada riang ia mengangguk.

"Permisi tuan, maaf mengganggu. Keponakan saya telah tiba."

Ayahnya langsung bersikap seperti 'maaf, rumah saya berantakan ya' kepada pelayannya yang setia tersebut. Kemudian ia melihat gadis dengan rambut ikal yang menawan sedang mengintip untuk melihat-lihat keadaan didalam ruang makan.

"Oh, my girl, jangan takut. kemarilah. Kami sekeluarga menyambutmu. Selamat datang di keluarga Takazawa, anggap saja rumah sendiri. Jangan malu-malu, ayo sini!" Pria itu menarik tangan Mayu dengan penuh keakraban dan menepuk pundak Mayu.

"Nah, ini istri saya. Kemudian ketiga lelaki dihadapanmu adalah putra-putra saya. Hei kalian semua perkenalkan diri!"

Istrinya hanya melengos tidak mau memberitahukan namanya. Kemudian Kyouhei pun angkat bicara.
"Dia, ibu kami, Yuuri. Kemudian yang pakai kacamata bernama Kyou, kakak terteua dan si wajah cantik ini Itsuki, si bungsu." Waktu Itsuki disebut wajah cantik, wajah Itsuki seperti ingin meninju mulut Kyouhei yang mengatainya seperti itu.
"dan aku adalah Kyouhei. tadi kita sudah bertemu kan?"
Kyouhei tersenyum penuh arti kepada Mayu. Mayu hanya diam sambil berpikir kalau Kyouhei sepertinya orang yang agak licik atau apalah. Pokoknya Mayu tidak nyaman dengan kebaikan si manusia bernama Kyouhei.

"Ah, salam kenal. Namaku.... Mayu... Hinomatsu Mayu!" Mayu membungkuk penuh dengan rasa hormat. kemudian kepala rumah besar itu tertawa memenuhi ruangan.

"Jangan formal, anggap saja ini rumah sendiri." Tuan besar itu seperti merasa ada yang menggelitik perutnya melihat Mayu gugup.
"Sekarang duduklah dimana saja." Tuan ramah itu menepuk punggung Mayu seperti memberi semangat.
"Ah, kalau kau mau didekatku saja. Tidak apa-apa kan ayah?" Kyouhei menawarkan diri untuk menarik kursi dan mempersilahkan Mayu duduk ditempat yang tepat berada disebelahnya.

"Oh, tentu tidak masalah. Sekarang mari kita mulai acara makan! Roki, tolong kau siapkan semua! Kita jamu tamu istimewa kita malam ini!" Tuan besar itu duduk dikursi yang sangat eksklusif, seperti memang tempat untuk raja yang berkuasa dan tersenyum puas.

Mayu yang gugup hanya menunduk, menatap piring mengkilat yang belum ada apa-apa. Tiba-tiba ia merasa ada yang mendekati Mayu dari samping, karena ia melihat ada bayangan yang mengganggu kilatan putih piring antik dan terkesan berkelas tersebut.

Mayu menatap lelaki disebelahnya. Lelaki yang penuh misterius hanya tersenyum penuh keramahan.
"Salam kenal Mayu chan. Sekali lagi. Secara personal."
Mayu hanya bergidik ngeri melihat sikap Kyouhei yang terlalu 'dekat'. Mungkin aku tidak boleh terlalu dekat dengan laki-laki ini, yang akan menjadi pangeran wanita sekaligus menjadi musuh wanita. Mayu menyuarakan hatinya.

Mayu pun mencoba menatap putra-putra Takazawa yang lain. Semuanya memang tampan, sepertinya Mayu melihat keluarga yang berbeda spesies dengannya padahal mereka sama-sama berjenis Homo sapien (LOL).

'Oh Tuhan. Aku harus tahan berada di rumah ini. Aku tidak boleh terlalu akrab apalagi sampai jatuh lebih jauh.'
Mayu mulai bertekad dalam hatinya.

-----------------------------------

Saat makan malam, Mayu merasakan suasana yang berbeda. Seperti berada di kastil Versailes (LOL) dan Mayu merasa seperti tikus dalam kastil itu yang dipersilahkan makan oleh anggota kerajaan. Mungkin terlalu hiperbola tapi itu kenyataan.

Tuan besar Takazawa orang yang sangat ramah, dan mudah bergaul. Membuat orang yang berbincang dengannya merasa nyaman. Sedangkan istrinya hanya diam dan fokus makan. Sepertinya dia tidak suka Mayu bersama mereka makan malam. Kalau Putra sulung Takazawa, Kyou. Dia lebih pendiam dibandingkan dengan Kyouhei, putra keduanya yang sedari tadi bersikap ramah juga padaku, seperti membantuku mengambil saus atau garam. Kalo putra bungsunya, Itsuki, mirip dengan Nyonya Takazawa.  Tapi memang dia sangat cantik. Aku sempat ragu dia adalah laki-laki.

Tapi Mayu merasa ada yang aneh dengan keluarga ini. Mayu memang terbilang masih baru berada di zona keluarga Takazawa, tapi ia melihat ada yang aneh. Pertama, keluarga ini seperti saling membuat jarak. Mungkin karena mereka orang kaya dengan harga diri yang tinggi. Kedua, entah mengapa aku bisa melihat atmosfer kebencian Istri tuan Takazawa kepadaku. Ah tapi tidak hanya kepadaku. Kenapa aku merasa dia juga menatap benci Kyou dan Kyouhei? Ah tapi itu bukan urusanku. Pikir gadis itu. Mayu hanya melanjutkan makanannya dengan tenang dan dia tidak tahu bahwa dia telah masuk ke keluarga aneh.

 Chapter 3: First Truth


Mayu seperti masuk kekandang harimau. Ah, lebih daripada itu. Mayu merasa tidak dapat nyaman berada di zona keluarga Takazawa. Entah mengapa ia merasa seperti itu. Dan setelah jamuan makan malamnya selesai, Mayu bisa bernafas lega. Sungguh ia merasa seperti tekanan udara memberat disekelilingnya hingga membuatnya tidak nyaman berlama-lama di ruang makan tersebut.

"Mayu chan."
Mayu menengok kearah suara yang begitu ramah menyebut namanya. Ia melihat Takazawa Kyouhei sedang berdiri menghalanginya di pintu keluar, setelah semua orang sudah meninggalkan ruang makan. Jadi sejak tadi dia berada bersama lelaki ini cukup lama dong?! Mayu sengaja menunggu semua meninggalkan ruang makan masing-masing, lalu ia sendirian di ruang makan untuk merapihkan piring-piring (Tadinya berniat untuk mencuci, tapi tantenya tidak membiarkan Mayu mencuci dengan penampilan yang menurut tantenya begitu cantik.)

'kenapa aku tidak sadar ada lelaki ini tadi'
Mayu terlihat kebingungan. Ia hanya menunduk tanpa mau melihat tatapan Kyouhei. Entah mengapa, tatapan Kyouhei dapat menghisapnya. Ntahlah, itu yang dirasakan Mayu.

"Biarkan aku lewat." Akhirnya Mayu menyuarakan kalimat yang ingin dia ucapkan kepada Kyouhei. Tapi Kyouhei tidak bergeming. Dia malah menahan pintunya kuat-kuat, seakan 'aku tidak akan membiarkanmu pergi'.
Mayu pun merasa dia benar-benar telah masuk kandang harimau atau singa atau apalah itu, pokoknya dia sedang dalam situasi gawat. Entahlah, Mayu tidak nyaman dekat-dekat dengan Lelaki bernama Kyouhei ini. Rambut coklat pirangnya, matanya berwana sama seperti Tuan Takazawa, kemudian tubuh yang tegap, tinggi dan sangat bidang, benar-benar seperti tubuh atletis membuatnya cemas dalam berbagai rasa yang saling bercampur.

"Sayangnya aku tidak akan membiarkanmu lewat."
Ya Tuhan. Lelaki ini mau melakukan apa padaku? Terutama kenapa dia menggunakan intonasi suara yang rendah dan menggoda seperti itu. Tunggu, aku masih dalam keadaan sadar, aku tidak boleh lengah!!
Mayu terus berbicara dalam batinnya.

Kyouhei melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, seperti waktu pertama kali mereka bertemu di halaman belakang dimana kuburan bertuliskan 'Oika' itu ada.

Mayu yang dilihat seperti itu tentu saja risih. Apa yang salah dari caranya berpakaian? Apa seleraku buruk? Atau terlalu sederhana? Atau parfum yang kupakai, bagi lelaki ini seperti mencium bau kamper lemari pakaian? Oh Tuhan. Kali ini selamatkanlah aku!!

Tiba-tiba Kyouhei tertawa pelan. Suara tawanya ternyata sangat renyah. Tapi tetap saja Mayu menatap Kyouhei dengan pandangan heran. Apa yang Kyouhei tertawakan mengenai dirinya?

"Kenapa tertawa?"Alis Mayu mengkerut, matanya membesar. Sepertinya Mayu menantang Kyouhei. Tentu saja ia tidak mau dipermalukan, seperti waktu di halaman belakang tadi siang.

"Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Ohya ngomong-ngomong kita sebaya, jadi ada kemungkinan kita satu sekolah bahkan sekelas." Ujarnya dengan tawa ramah khasnya, dan Mayu jadi terbiasa melihat dan mendengarnya. 'Jadi walaupun dia terlihat seperti lelaki dewasa, dia itu sebaya denganku. Yah, tinggiku emang tidak terlalu tinggi dibandingkan dia'

Eh,.... tunggu..... Sekolah!? Apa maksudnya!? tunggu dulu.... aku belum bilang akan masuk sekolah yang sama dengannya, yang pasti adalah sekolah elit dengan banyak perkumpulan orang-orang kaya dari kalangan bangsawan sampai kalangan bawah - yang masih termasuk golongan kaya bagi Mayu - beserta seragam yang berkelas. Tidak! Mayu menolak! Toh lagipula darimana uang sebanyak itu? Apa perlu Mayu meminta peri gigi untuk mengumpulkan uang? tentu tidak kan!? Pikiran Mayu sudah kemana-mana, karena dia dibuat kebingungan.

"Hei, kenapa? Kau bingung kenapa aku bisa bilang begitu? Jadi Ayahku sudah mendaftarkanmu ke sekolah yang sama denganku ah dan juga Kak Kyou. Aku melupakannya. Eh iya, Kalau Itsuki dia di gedung SMPnya."
Sepertinya Kyouhei bisa membaca pikiran Mayu daritadi. Sedangkan gadis itu hanya diam tanpa berkata apa-apa. Seandainya bisa, dia ingin bilang kepada ayah mereka bertiga untuk menjauhkan mereka dari kehidupan Mayu setidaknya jika ia sekolah (ia sudah tidak peduli bagaimana kehidupannya di rumah ini dengan putra-putra Takazawa yang pasti membuatnya merasa tidak nyaman).

"Lalu... apalagi yang ingin kausampaikan padaku sebelum aku beranjak dari ruang makan dan menuju tempat tidurku?"

Kyouhei menopang dagunya, ia berpikir sebentar. Matanya melihat keatas. Kemudian dia melihat Mayu dan menatap lekat gadis itu, tapi gadis itu langsung melengos.

"Sepertinya sudah tidak ada kok. Tenang saja. Aku hanya ingin mengajakmu berbincang-bincang."
Kemudian dia membuka pintu ruang makan dan sedikit membungkuk memberi hormat padaku, seperti gaya-gaya gentleman barat yang ada di film-film.

"Silahkan tuan putri. Selamat tidur." Kyouhei tersenyum pada Mayu dan membuat gadis itu makin merasakan hal yang membuatnya tidak nyaman. Mayu pun bergegas kekamarnya dan tanpa sadar membuka serta menutup pintu kamarnya dengan bunyi yang seperti gebrakan yang keras. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur yang sangat empuk, kasur rumah Takazawa yang sepertinya terbuat dari bahan yang membuatnya merasa nyaman, setidaknya untuk menyembunyikan wajahnya dan menenangkan diri.

-----------------------------

Ponsel Mayu berdering. Lebih tepatnya alarmnya yang berbunyi. Mayu dengan setengah mengantuk dan mata yang masih belum sepenuhnya melihat, mencoba menggapai ponselnya dan mematikan alarmnya. "nggghh , . . . ini memang jam... berapa sih...." Suara Mayu agak parau sehabis bangun tidur. Bukan karena habis menangis. Tapi karena ia merasa temperatur kamarnya sangat dingin dan membuatnya menggigil.

Ia melihat layar ponselnya. Terpampang jelas tulisan pukul tujuh lewat lima belas menit pagi. Rasanya Mayu enggan untuk mengangkat tubuhnya. Tapi ia segera mengingat bahwa ia sekarang tinggal bukan di rumahnya, jadi dia tidak bisa seenaknya tidur lebih lama. Dengan sekuat tenaga dia bangun dan merapihkan tempat tidurnya, kemudian membuak tirai gorden yang menutup kamarnya dengan dunia luar.

"Wah... cantik ya pemandangan pagi hari disini." Mayu senang karena ia dapat merasakan embun pagi, dan juga kicauan burung dan sinar matahari yang menyelip masuk menyinari kamarnya.

"Kurasa tidak ada buruknya kota Tokyo. Ah, aku harus bantu tante, dia pasti sudah bekerja."

-----------------------------------

Mayu datang dengan baju kerjanya, baju pelayan rumah keluarga Takazawa ke dapur. Ia melihat ada tantenya yang sedang membuat sarapan untuk keluarga Takazawa. Mencicipi french soup buatannya. Kalau koki lain membuat menu makanan yang lain. Aku melihat ada tenderloin steak yang baunya sedap sekali dan menggugah selera.

"Anu tante, apa ada yang bisa aku bantu?"
"Ah, tolong kau bangunkan para tuan muda. Kau bisa kan?"

Mayu terdiam. Kenapa mesti dia yang membangunkan mereka semua? Masuk ke kamar mereka bertiga, membuka gorden dan membangunkan mereka? Ide gila apa itu? itu sama saja dengan memasukkan ke kandang yang lebih ganas dibanding kandang singa!

"Tolong ya." tante benar-benar sibuk. Aku tidak ada pilihan lain kecuali menurutinya dengan berat hati. Dan menggerutu perlahan.

Mayu berjalan menuju kamar bertuliskan nama 'Itsuki'. Jadi, mari mulai dari tuan muda Itsuki. Pikir Mayu.

Mayu memasukkan kunci serepnya untuk membuka kamar Itsuki. Ia melihat Itsuki sedang tertidur seperti sleeping beauty!? ya ampun, cantik sekali dia. Walau memang rahang dan garis pipinya tetap pria tapi mata lentik dan pipinya yang bertekstur halus membuatnya menyangka bahwa Itsuki adalah wanita!!

Jadi pertama yang dilakukan adalah membuka tirai dan pintu beranda kamar, dan membangunkan. Saat Mayu membuka pintu beranda, Itsuki terbangun karena bunyi berisik.

"Nggghhh sudah pagi.... yaaaa---- huaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Itsuki tiba-tiba menjerit histeris melihat Mayu yang sedang di kamar pribadinya.

"Ah selamat pagi tuan--" belum sempat Mayu menyelesaikan kalimatnya, Itsuki sudah menariknya keluar kamarnya, dengan wajah yang sangat marah, seperti singa mengamuk.

"Jangan pernah datang kekamarku lagi!!" Bentaknya sambil menutup kencang pintu kamarnya. Lebih tepatnya mengebrak sekuat tenaga. Seperti muak melihat keberadaan Mayu berada di kamarnya.

'Ih siapa juga yang mau ke kamarmu!! aku sih ogah!!' Mayu memeletkan lidah, kesal dengan sikap penolakan Itsuki. 'Sudah ah, mending lanjutkan saja ke kamar berikutnya.'
Mayu dengan langkah jalan yang penuh emosi menuju kamar berikutnya. Kamar Kyou. Mayu pun membuka kamarnya dengan kunci serepnya, dan membuka perlahan. Ia melihat Kyou yang sedang tertidur, tanpa kacamata. Mayu merasa Kyou mirip sekali dengan Kyouhei jika dia tidak menggunakan kacamata. Mereka memang saudara tapi Mayu tidak yakin mereka kembar.

Seperti yang kulakukan pada kamar Itsuki, Kamar kyou pun kubukakan tirai dan pintu berandanya. Kemudian aku membangunkan Kyou yang sedang tidur..... dan sedang memegang buku tebal dengan posisi tertidur.

Mayu berdehem pelan. "Tuan muda Kyou, bangun. Sudah pagi."
Mayu sedikit menggoncangkan tubuh Kyou. Akhirnya mata lelaki itu terbangun. Tapi tiba-tiba Kyou menarik tangan Mayu dan medekatkan wajahnya. Sangat dekat hingga hembusan nafasnya terasa diwajah Mayu.

Mayu terperanjat kaget. Wajahnya sedekat ini dengan Kyou. Dan Kyou menatapnya dengan tatapan serius, membuat Mayu berdebar kencang, dan merasa tidak nyaman lagi. Tiba-tiba Kyou jatuh pingsan ke tempat tidurnya dan terdengar bunyi dengkuran halus dari lelaki yang aslinya berkacamata ini.

Mayu kesal dan merasa tidak mau membangunkan orang yang suka melindur, memutuskan untuk meninggalkan Tuan Muda yang maniak buku itu tidur. Dan selanjutnya dia memikirkan..... seorang terakhir yang akan dibangunkannya. Kyouhei.

---------------------------

Ketika didepan kamar Kyouhei, Mayu seperti mendengar suara-suara. Entah hanya perasaannya atau tidak Tapi, ia mau mencoba membuka pintu kamarnya kunci serepnya.
'Loh? kenapa tidak bisa?' Mayu tidak bisa memutar kuncinya. Namun logika Mayu berjalan. Mungkin pintunya tidak tertutup.

Maka ia mencoba memutar kenop pintu dan ternyata benar. Tidak dikunci. Dengan terbukanya pintu kamar Kyouhei, ia melihat sesuatu yang tidak harusnya dilihat.

'deg'
Mayu merasa jantungnya seperti berhenti. Ia melihat Kyouhei sedang bermesraan dengan wanita, yang memakai baju pelayan. Kyouhei memangku pelayan itu dan menciumnya dengan mesra, serta meraba tubuh pelayan itu.

Mayu hanya diam terpaku. Bingung apa yang harus ia lakukan. Kenapa ia tengah berada disituasi begini!! Tuhan, dia ternyata adalah monster!! Ini benar-benar telah masuk kandang yang lebih parah dari masuk kandang singa!! Tuhan, lindungi aku!!

Beberapa detik kemudian, Mata Kyouhei melirik pintu kamarnya, melihat Mayu sedang melihat adegan mesra - bisa dibilang seperti itu- antara Kyouhei dan pelayan wanita itu. Entah kenapa melihat gadis itu membuat Kyouhei langsung mendorong pelayan itu yang membuatnya kaget.

Sadar bahwa ada orang selain mereka berdua - Kyouhei dan pelayan - di kamar tuan muda playboy itu, Pelayan itu buru-buru pergi meninggalkan kamar Kyouhei dan menghilang dari pandangan Mayu dan Kyouhei.

'Apa maksudnya ini!!! Dasar cowok playboy!! Mesum!!'
Mayu masih ingin mengumpat dalam hati tapi tiba-tiba Kyouhei angkat bicara.

"Dia cuman pelayan. Aku tidak ada apa-apanya. Percayalah." Kyouhei mengatakannya dengan nada serius dan tegas. Tapi mana mungkin Mayu mau mempercayai perkataan jika memang sudah kepalang basah dengan perbuatan.

". . . apanya yang tidak ada apa-apa, dasar bodoh!! Kau mencium dan memeluk pelayan itu, artinya kau ada hubunga dengan dia!!" Entah mengapa Mayu meledak-ledak. Mungkin karena ia benci melihat sikap 'murahan' Kyouhei.

"Itu hanya pelukan dan ciuman. Cuman kontak fisik. Tapi bukan cinta. Dia pelayan. Dan aku tidak tahu siapa namanya." Kyouhei merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jarinya walau rambutnya masih tetap berantakan, ditambah rambut bangun tidur.

"Tetap saja!! Itu ada apa-apanya!! Dengar ya, mau orang kampung, orang kota, orang dusun, orang eskimo, orang mesir, ataupun itu.... jangan seenaknya!!" Entah mengapa Mayu makin meledak-ledak mendengar pernyataan Kyouhei. Tiba-tiba lelaki itu hanya bersikap acuh, dan tidak menarik senyumnya seperti kemarin.

"Ya sudah terserah padamu."
Kemudian Kyouhei beranjak dari tempat tidur dan menuju lemari pakaiannya, mengambil beberapa pakaian kemudian menengok ke arah Mayu.
"Aku mau ganti baju. Kau mau mengintip?"

Mayu sadar masih berdiri didalam kamar Tuan Muda playboy itu. Mayu menghentakkan langkahnya dengan keras, tanda gadis itu merasa sebal. Ketidak-nyamanannya terbukti. Kali ini Mayu yang mengebrak pintu kamar dan melangkah pergi meninggalkan Kyouhei yang hanya diam. Mayu tidak tahu bahwa Kyouhei memasang wajah murung seperti waktu pikirannya melalang buana.

'Aku juga tidak mau melakukannya sebenarnya... tapi....'
'Dan aku juga tidak mau kau menjadi korbanku....'
'Dan aku merasa aneh. Aku tidak mau kau tahu tentang diriku yang kotor'
'Apakah karena Mayu.....'

Kyouhei pun membuka bajunya karena penuh dengan peluh, padahal kamarnya dipasangi AC

Chapter 4 : Expectation

Mayu masih belum dapat melupakan kejadian - yang seharusnya tidak ia lihat - mesra diantara Tuan muda playboy yang bernama Kyouhei dengan pelayan - yang entah siapa namanya - dan Mayu harusnya tidak peduli. Tapi kenapa dia marah-marah? Mungkin karena Mayu memang tidak suka melihat orang-orang seperti itu, dan dia sedang shock.

'Tunggu, mengapa aku harus shock? karena aku tertipu dengan lelaki yang selalu tersenyum ramah itu? Tapi waktu pertama kali bertemu, dia juga memberi kesan buruk.'
Mayu mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri, setuju dengan apa yang dia pikirkan dalam hati sendiri.

'Mungkin aku tidak usah terlalu mengurusi urusan Kyouhei itu. Jadi terserah dia melakukan hal yang dia suka. Itu bukan urusanku!!'

-------------------------------------

Mayu mulai membenahi meja makan, merapihkan taplak meja makan berwarna putih bersih dengan sedikit corak unik  di bagian pinggirannya. Setelah itu dia menaruh piring di depan masing-masing kursi, namun ada beberapa yang ia tumpuk ditengah untuk persediaan jika anggota keluarga tersebut ingin menambah piring. Kemudian tidak lupa ia menyiapkan sendok, garpu dan pisau yang disatukan dalam secarik tisu di sebelah kanan piring tersebut. Sebelah kiri, Mayu menyiapkan serbet. Ah, Vas bunga pun harus ada untuk memeriahkan suasana meja makan. Mayu mengambil vas bunga ditengah-tengah. Bunga yang dipajang juga sangat bagus, bunga Daisy. Mayu pun tersenyum karena melihat kerjanya yang rapih. Dia sangat puas.

"Wah, Mayu sudah bangun sangat pagi ya."
Suara ramah itu menyapa Mayu. Gadis itu menoleh, melihat Tuan Takazawa yang sudah berdandan rapi dengan setelan jas berwarna biru dongker, kemejanya berwarna coklat muda dengan dasi berwarna Hijau Emerald.

Bunyi ketukan sepatu pantofel milik tuan Takazawa keras namun terdengar lembut ditelinga Mayu. Dengan langkah perlahan ia berjalan menuju meja makan dan duduk sambil tetap tersenyum padaku.

"Selamat pagi tuan Takazawa. Ah, saya lupa menyiapkan gelas untuk minum! saya akan siapkan dulu. Ah, apa anda mau teh dulu?"
Mayu jadi panik sendiri karena terlalu terpesona dengan kharisma pria yang merupakan ayah putra-putra yang tampan itu. Pantas jika putranya punya kharisma seperti ayahnya.

"Ah sudahlah." Tawa renyahnya menghiasi ruang makan. Mayu tertegun penuh kebingungan. Dikepala gadis itu penuh dengan segudang pertanyaan.

"Anu.... kenapa tuan tertawa? Apa... ada yang lucu?"Mayu melihat kedirinya sendiri, mencoba meraba-raba tubuhnya takut ada hal aneh yang menempel dibaju atau dimanapun pokoknya yang berada didirinya.

"Ah bukan begitu. Wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Orang yang sangat berarti bagi saya."
Tuan Takazawa tersenyum sambil menyilakan kakinya dengan anggun dan tetap sopan. Tangan yang bertumpu pada meja makan itu menopang dagunya.
"Seandainya dia melihatmu, dia juga akan sangat senang."
kalimat itu terdengar seperti sebuah lirihan, bisikan yang lembut. Namun Mayu masih tidak mengerti. Ia merasa tidak nyaman tidak melayani tuannya dengan baik. Ia pun mencoba membuat menuangkan teh yang sudah ia buat tadi untuk berjaga-jaga.

"Silahkan diminum dulu."
Mayu meletakkan cangkir antik itu dihadapan Tuan Takazawa. Tuan Takazawa tersenyum kemudian mengangguk tanda terima kasih dan meraih pegangan cangkir dengan sangat hati-hati dan menyeruput dengan sangat anggun penuh etika (Bagi Mayu terlihat begitu).

"Mayu. Teh buatanmu sangat enak. Saya suka."
Dia tersenyum kemudian menyeruput lagi. Aku hanya tertunduk malu karena merasa senang racikanku dipuji. Padahal itu cuman teh oolong yang kutemui dilemari dapur.

'Tapi aku masih penasaran. seseorang yang berarti bagi Tuan Takazawa. Tapi aku tidak berhak ikut campur.' Maka Mayu pun diam saja menemani Tuan Takazawa, berdiri disebelahnya seperti pelayan yang setia menunggu tuannya.

Mayu melihat Tuan Takazawa menghabiskan tehnya dan menaruhnya diatas piring kecil tempat cangkir itu.
"Mau kutuangkan lagi?"
Mayu sedikit membungkuk, menawarkan diri sambil memegang teko antik yang berisi teh oolong tersebut. Tuan Takazawa tertawa renyah sekali lagi dan mengangguk. .

"Kalau begitu saya ingin tambah lagi. Sangat enak, Vous êtes femme brillante"
Tuan Takazawa tersenyum dengan hidungnya, seperti puas dengan hasil karya Mayu - teh oolong biasa dengan air panas - dan mengucapkan kalimat terakhir yang kurang dipahami oleh Mayu.

"Maaf, tadi yang terakhir. Kalimat terakhir maksudnya itu apa?"
Mayu masih memutar otaknya. Dia tidak bisa menangkap intonasi yang diucapkan oleh Tuan Takazawa. Baginya seperti bahasa latin atau bahasa yang tidak ia mengerti pokoknya.

"Ah itu artinya kau adalah wanita yang pintar. Sama seperti dia."
Mata Tuan Takazawa menerawang dengan lembut. Seperti merindukan sesuatu yang telah lama hilang. Mayu hanya melihat Tuan Takazawa dengan penuh pertanyaan.

"Dia?" Mayu pun memberanikan diri untuk mengangkat bicara. Kali ini dia tidak salah dengar bahwa Tuan Takazawa seperti membicarakan orang lain yang seperti memiliki persamaan dengan dirinya.

Tuan Takazawa sempat terdiam. Hanya menerawang menuju langit-langit, menatapnya kosong. Kemudian matanya yang hijau tiba-tiba terlihat sedikit berkaca-kaca memancarkan kebeningan mata miliknya.
"Mon personne aimée. éternellement."             
Dia mengucapkan dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Mayu. Tuan Takazawa tersenyum mengenang sesuatu. Sesuatu yang membuat perasaannya hangat.

"Tuan, itu bahasa apalagi? Saya hanya bisa bahasa Jepang dan bahasa Inggris sedikit-sedikit saja."
Tuan Takazawa semakin tertawa. Tawanya membahana ruang makan kemudian dia menatapku. Tatapannya seperti mata Kyouhei. Mata serius tegas namun ramah.

"Mayu chan, tolong jaga ketiga putra saya. Terutama Kyou dan Kyouhei ya. Saya sangat bergantung padamu."
Mayu bisa melihat sorot mata penuh harapan, dan dibalik itu terlihat juga kesedihan. Dia menatap kearah lain dengan pandangan kosong. Menghembuskan nafasnya dengan sangat jelas kemudian kembali menatap Mayu.

"Saya tahu mereka sudah bukan anak kecil berumur 5 tahun. Saya tahu mereka sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki. Saya tahu suatu saat tenaga mereka akan lebih kuat dari saya yang sudah tua. Dan saya tahu mereka akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab."
Tuan Takazawa menghela nafasnya panjang. mencoba kembali menerawang dengan matanya yang berkilat-kilat.

"Tapi saya mohon kau menjaga mereka dengan baik. Aku ingin kau dapat mengenal mereka dengan baik pula, sehingga kalian bisa akrab. Dan jangan buat mereka merasa kesepian, saya tahu saya terlihat seperti ayah yang egois karena seenaknya meminta padamu. Tapi ada hal yang terkadang..... Saya sebagai ayah mereka tidak dapat menangkap apa yang mereka pikirkan. Padahal mereka putraku. Darah dagingku. Harusnya Saya lebih mengenal mereka. Mungkin saya memang tidak punya ikatan batin yang dimiliki seorang ibu yang mungkin juga dapat merasakan apa yang dirasakan putranya, tapi sebagai ayah..... saya sangat memperhatikan mereka. Dan saya pikir... mungkin mereka akan lebih terbuka denganmu." Tuan takazawa seperti mengatakan hal itu dengan yakin. Aku hanya mengolah kalimat-kalimat Tuan takazawa yang sangat sopan itu dan mengangguk pelan.

"Dan yang Saya sadari sebagai ayahnya...... Mereka adalah pria. Dan Mayu chan adalah Wanita."
Pria itu tersenyum penuh arti. Mayu hanya mengangkat alisnya, menunjukkan keraguan dari apa yang dia dengar.

"Lalu apa hubungannya tuan?"
Mayu masih tidak mengerti maksudnya apa. Tuan takazawa pun tertawa renyah kembali, seperti berkata 'kau bertanya hal yang konyol, Mayu'.

"Maksudku..... ada kemungkinan mereka jatuh cinta padamu. Atau kau jatuh cinta pada mereka. Atau kalian saling memadu kasih. Begitulah maksudku. Katanya pria hanya akan menunjukkan diri sebenarnya pada orang yang ia percayai, orang yang dicintai. Dan itu terbukti karena aku juga mengalaminya."

Tunggu. Mayu tidak salah dengar. Jatuh Cinta? Mayu pikir itu terlalu berlebihan. Mayu bertekad tidak mau terperosok lebih jauh ke dalam zona keluarga Takazawa, bahkan menyelami perasaan dan pikiran putra-putra kebanggaan Tuannya itu. Benar, Mayu tidak akan mau dan tidak akan pernah jatuh cinta pada salah satu diantara mereka!

"Kupikir itu berlebihan, mereka pasti punya teman kencan yang cantik."
Mayu beranikan diri membantah apa yang dikatakan Tuan Takazawa padanya. Tapi tuan takazawa hanya mendengus pelan, yang tidak ada maksud untuk merendahkan Mayu.

"Tapi mereka belum pernah membawa teman kencan yang cantik kesini dan diperkenalkan. Dan mereka juga saat kutanya hal itu sama sekali tidak menunjukkan gejala jatuh cinta. Aku sebagai pria bisa menjamin itu."

---------------------------

Sarapan pagi di kediaman Takazawa sangat hening, dan terlihat khusyuk seperti berdoa. Tuan Takazawa meneguk minumannya, Nyonya Takazawa melap pinggir bibirnya dengan serbet disebelah kiri piringnya, Itsuki sedang sibuk memakan roti croissant dan dicelupkan ke krim saus mayones dan keju, Kyou menyicipi supnya dengan elegan, dan Kyouhei yang sedang memotong tenderloin steaknya dengan lembut dan penuh etika.

Mayu hanya berdiri didekat pintu, menatap keindahan keluarga tersebut. Benar-benar terasa di istana Versailles. Mayu seperti melihat sebuah lukisan romantisme. Benar, sarapan pagi mereka seperti telah terabadikan kedalam bingkai lukisan yang indah dan sedap dipandang bagi siapapun yang melihat.

Mayu kemudian menghentikan pandangannya pada Kyouhei yang sedang menatapnya. Mayu segera melengos dari tatapan itu karena tidak mau lama-lama. Ia merasa tidak nyaman. Benar, tatapan laki-laki itu sangat berbahaya. Dia tidak mau dia menjadi salah satu 'pelayan' dalam dunia 'harem' yang dibuat oleh lelaki mesum playboy itu. Namun Mayu masih melirik diam-diam Kyouhei, dan Kyouhei masih menatapnya dari jauh.

'Kenapa orang itu terus memandangku seperti itu sih.....'
Mayu merasa dia berdiri dengan gelisah. Ingin cepat-cepat keluar dari ruangan atau lompat dari jendela. Ia takut. Merasa tidak boleh menatap lebih dalam mata yang indah dan menggoda itu.

'Aku tidak akan jatuh cinta dan berhubungan dengan keluarga Takazawa.' Pikiran yang melesat lewat dalam kepala Mayu pun berkata seperti itu. Entah mengapa, jika ia masuk, ia akan menemukan suatu fakta yang tidak boleh diketahui. Misalnya saja atmosfer tidak bersahabat diantara mereka. Ah salah. Aku perhatikan lagi sang Nyonya Takazawa. Hanya dia yang menyebarkan atmosfer itu. sesekali aku melihatnya dengan pandangan yang sangat muak, sambil menunduk agar tidak terlihat orang. Sayang, Mayu dapat melihatnya juga merasakannya.

'Dia ibunya bukan? Kenapa membenci..... Kyouhei dan Kyou yang didepannya?"



 -To be Continue-


Takazawa Kyouhei